Kuberikan Mahkota untuk Ayah Bunda di akhirat
Malam itu mata ini ingin sekali rasanya tertutup setelah lelah bekerja seharian di kantor dan mengurus rumah.
Tapi gadis kecilku masih saja bercetoteh, tentang teman-temannya di sekolah, tentang adiknya yang merebut mainannya, dan terakhir berkata ingin menyetor hafalannya.
inginnya yang terakhir membuatku harus beranjak dari peraduan dan menyalakan lampu. sungguh ini aslinya berat sekali, tapi apa mau dikata, menolak gadis kecilku untuk menyetor hafalannya pasti akan mengecewakannya dan bisa jadi membuatnya tak mau lagi menghafal Al-Quran. Sungguh hafalan gadis kecilku ini luar biasa, dan sejatinya aku harus berterima kasih kepada guru-gurunya di sekolah Islam, yang begitu telaten mengajarkannya.
Hafalan Al-Balad, Al-Lail. Asy-Syam, Al-Ghosiyah dan teman2nya yang super panjang mau ga mau membuatku harus membuka Juz Amma, malu hati ini mengakui bahwa aku sendiri belum bisa menghafalnya.
Saat hafalannya selesai, gadis kecilku berkata
" Bunda mau ga emba kasih mahkota?"
" Mahkota seperti apa mba?" pikirku gadis kecilku akan membuat prakarya yang memang dia sangat suka membuat prakarya karena daya imajinasinya yang tinggi
" itu loh Bunda, Mahkota cahaya..."
" mahkota cahaya seperti yang ayah bawa kemarin ?" aku lantas bepikir apa dia akan membuat mahkota dengan lampu flourence, karena beberapa hari yang lalu ayahnya pulang dengan membawa stick lampu flourence sehabis acara outing di kantornya
" Bukan, Bundaaaaa..." gadis kecilku tampak kesal " itu loh mahkota cahaya yang akan diberi sama Alloh di akhirat buat ayah bunda kalo emba rajin sholat dan baca Al-Quran"
Deg...Masya Alloh.
hati ini langsung meleleh dan aku langsung kehilangan kata-kata. spontan yang aku lakukan hanya memeluknya dan membiarkan beberapa bulir air mata mengalir.
Malam itu aku tak bisa tidur.
teringat memang sudah beberapa bulan ini, semenjak gadis kecilku masuk SD, dia begitu rajin untuk sholat. tanpa disuruh, sholat 5 waktu dia jalankan.
dulu paling susah membangunkan gadis kecil ku pagi-pagi untuk ke sekolah, sekarang bahkan sebelum adzan Subuh berkumandang gadis kecilku sudah siap berwudhu.
bahkan pernah sewaktu kami jalan-jalan, saat waktu adzan magrib berkumandang, dia berseru "Bunda ayo kita sholat". padahal saat itu jalanan begitu macet, boro-boro bisa mencari Mesjid dan berhenti. sampai akhirnya saat kami mengatakan supaya nanti sholatnya di jamak saja, dan gadis kecilku pun mengomel " mo sholat kog susah banget, kayak di Palestine aja". aduh mba...
jika gadis kecilku yang bahkan belum berumur 7 tahun sudah bisa berniat untuk memberikan Mahkota Cahaya kepada kami orang tuanya.
lantas aku yang sudah berumur kepala 3 ini, sudah memberikan apa kepada orang tua ku sendiri ?
wajah renta orang tua ku lalu berkelebat di mataku. hingga kini aku rasanya belum bisa memberikan apapun untuk membalas mereka.
niatanku untuk mengajak mereka tinggal bersamaku, sudah ditolak mentah mentah. sementara untuk pulang dan mengurus orang tua, aku sendiri masih menyisakan beberapa pikiran, ah iya, aku memang terlalu banyak berpikir, bagaimana jika nanti aku pulang ke rumah orang tuaku dan tak bekerja? bagaimana nanti perekonomian keluargaku? bagaimana dengan suamiku jika aku harus menjalanin LDR dalam pernikahan kami? bagaimana anak-anakku nanti ? bagaimana jika nanti aku bertemu dengan kakakku ?
kakakku.
ah rasanya berat sekali memikirkan dia.
apakah aku sudah memaafkannya ? siapkah aku bertemu dengannya ? apa yang harus aku katakan kepada anak-anakku nanti ?
keluarga besar ku, bahkan orangtua ku menuduhku Islam ekstrim, yang tak mau memaafkan kesalahan, seorang yang pendendam dan anak yang tak berbakti karena tak mau membahagiakan orang tuanya di masa tuanya, dengan berkumpul lagi dengan kakakku.
sudah 18 tahun yang lalu, saat aku melihat mamaku berjalan merangkak dari tempat tidurnya sambil menangis.diikuti 5 tahun lebih lamanya, mamaku bahkan tak mau bertamu dan bertemu dengan orang lain. karena malu. dan setiap kali ku tawarkan untuk naik haji, selalu ditolak. bahkan hingga kini, aku masih berpikir, hati dan pikiran mamaku pun tak pernah sembuh.
kakakku memang meninggalkan keluarga. ah bukan hanya keluarga, tapi juga Islam. agama yang diajarkan orang tuanya semenjak kecil dan ditinggalkannya saat dia bertemu dengan orang yang katanya belahan jiwanya.
Waktu itu aku masih kuliah, berpikir dengan pola pikir seorang anak. bukan Islam yang aku permasalahkan ditinggalkan kakakku, Apa itu Islam? saat itu aku bahkan tak tahu itu Islam, sholat aja masih bolong-bolong, ngaji aja masih Alif ba ta. boro-boro memahami Islam. saat itu aku meradang karena Kakakku adalah anak yang paling disayang oleh orang tuaku. anak kebanggaan mereka. betapapun aku selalu rangking 1 di sekolah, orang tuaku menganggapnya biasa, kenapa ? karena Kakakku dulu juga selalu rangking 1. setiap kali aku melakukan kesalahan, orang tuaku selalu berkata contohlah kakakmu.
aku iri kepada Kakakku dan aku merasa sungguh kecewa, kakakku yang paling disayang orang tuaku malah meninggalkan orang tuaku dengan cara yang tak etis.
iya tak etis, tanpa pemberitahuan, tak ada yang tau kapan dia menikah, hingga tau-tau saat mamaku menelpon kantornya, mendapat jawaban bahwa kakakku sudah cuti melahirkan. padahal berapa kali aku saat libur kuliah diharuskan pergi oleh orang tuaku untuk menemui kakakku yang saat itu bekerja di luar kota. beberapa kali pula aku harus menemani orangtuaku menemui yang katanya "pak haji", berkonsultasi,mencatat doa yang sungguh panjang hingga mencari ayam cemani hitam...
sungguh perjuangan orang tuaku untuk menjaga kakakku tak mudah.
tapi semua masalah pasti ada hikmahnya, dan bagiku saat kakakku pergi itulah momentum untuk proses hijrahku.
waktu yang tepat untuk memakai Jilbab dan pembelajaran agama pun dimulai
seiring waktu, orang tuaku pun memaafkan kakakku, mamaku terutama beralasan tak ada yang namanya bekas anak, tak ada orang tua yang tak mencintai anaknya walau seberapapun anaknya menyakiti hatinya . membenarkan bahwa papanya, kakekku, pun meninggalkan keluarganya dan menjadi muslim karena cinta. maka wajar jika kakakku demi cinta meninggalkan Islam. kadang aku berpikir mamaku hanya mencari alasan untuk memaafkan kakakku.
tapi saat itu aku diam, tak berkomentar karena aku belum mengenal cinta hingga aku bertemu suamiku.
hari dimana aku bertemu suamiku, adalah sehari sebelum aku mengamuk pada orang tuaku. waktu itu orang tuaku datang mengunjungi rumah baruku yang kubeli dengan susah payah dengan harapan agar orang tuaku bisa pindah bersamaku. rasanya tak sehat jika mamaku terus-terusan tak mau bertemu dengan orang lain dan bersosialisasi .namun waktu itu kudengar mereka berbicara di telepon dengan kakakku. iya kakakku katanya akan berkunjung. maka aku pun mengamuk, hp orang tuaku kubanting hingga pecah, tetangga pun melihat dengan curiga saat aku berteriak "rumah ini haram diinjak oleh kakakku"
aku tak bangga dengan perilakuku saat itu.
maka aku menangis, mengadu pada yang punya hati
bagaimana caranya agar menjadi anak yang berbakti
jika memang aku harus memaafkan kakakku, maka ikhlaskan hatiku dan beri aku petunjuk
tapi jika ada cara lain untuk membahagiakan orang tuaku, berikanlah caranya
dan esok harinya, aku bertemu suamiku,
seperti sudah diatur dan sungguh itu adalah process yang sangat mudah, seakan Alloh menjawab doaku dan berkata, hey kamu, ini kuberi kamu cara yang lain untuk membahagiakan orang tuamu
Iya, Alloh membuka hati dan pikiran ku secara gamblang bahwa pernikahan dalam Islam adalah ibadah.cukuplah cinta kepada Alloh dan Alloh yang akan mengurus sisanya
lalu tiba waktunya aku merasakan process melahirkan dan mengurus anak-anakku. semakin aku merasa bahwa seorang anak wajib berbakti kepada orang tuanya. tugas menjadi orang tua itu sungguhlah tak mudah.
Dan semakin aku bertanya kemana hati kakakku saat dia memilih meninggalkan orang tuanya ? tidakkah dia punya hati untuk membahagiakan orang tuanya diatas semua kebahagiannya ? kenapa dia bisa begitu egois memikirkan dirinya sendiri ? tidaknya dia tahu bahwa orangtua adalah Tuhan di dunia yang wajib dia patuhi? tidakkah dia memikirkan dosa setiap kali ia berhubungan badan ? tidakkah itu sama saja dengan berzina?
Ya Alloh, aku menangis, mengingat betapa orang tuaku memiliki beban yang sangat berat di akhirat nanti. lalu apakah setelah aku sadar betapa orang tua ku akan dihisab karena kakakku, aku sanggup memeluknya ? ah sungguh jika mengikuti emosi, tangan ini akan mengambil pisau dan menikam dadanya yang tak punya hati. tapi itu tak mungkin ku lakukan, itu hanya akan menambah beban bagi orang tuaku.
aku seharusnya bertanya terhadap orang-orang yang selalu berkata, maafkan kakakmu, biar orang tuamu bahagia. apakah mereka paham arti maaf itu ? memaafkan kakakku adalah hal yang mudah, tapi bagaimana menghapus beban yang telah dia berikan kepada orang tuaku ?
sungguh aku penasaran apakah mereka berkata pula kepada kakakku. hey kakak, bertobatlah dan tinggalkan suamimu yang murtad dan kembalilah ke islam.apakah mereka melakukan itu ?
sungguh hati ini menangis jika dibilang sebagai orang yang tak bisa memaafkan dan pendendam hanya karena aku tak mau menemui kakakku.
sungguh serba salah jika harus menghadapi orang orang yang hanya memikirkan dunia. tidakkah mereka sadar, akhirat jauh lebih panjang dan segala bahagia di dunia itu hanyalah semu ? tapi, ah sudahlah, pemikiran orang memang beda-beda terkadang ada yang memang cuman memikirkan dunia. menganggap yang baik bagi mereka itulah yang terbaik untuk orang lain..
tapi aku tak mau berpikir hanya di dunia.
aku tak mau lagi memikirkan kakakku.
bagiku yang terpenting hanyak kebahagiaan orang tuaku.
lalu apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa membahagiakan orang tuaku ? memberikan amalan untuk melebihkan timbangan mereka di akhirat nanti?
Dan aku teringat gadis kecilku, gadis kecilku yang bahkan belum genap 7 tahun tapi sudah berniat memberikan mahkota untuk kami, orang tuanya?
maka itu yang aku lakukan.
Aku tak mau kalah dengan gadis kecilku. aku pun ingin memberikan mahkota cahaya di akhirat nanti untuk kedua orang tuaku. hingga kami nanti bisa berkumpul semua di Jannah.
kudatangi majelis-majelis ilmu, berdiskusi dengan yang kuanggap bisa mendamaikan hatiku.
aku ingin hatiku bersih. memaafkan dan tak ada dendam.
memahami jikalau menemui jalan yang berlubang dan bisa membuatmu jatuh dan terluka, aku bisa membuat pilihan. berjalan menuju lubang dan terjatuh atau memilih untuk menghindari jalan yang berlubang walau harus mencari jalan berputar.
dan aku memilih jalan berputar. jalan yang aku percayai mulus, dan bisa membawaku ke Jannah.
hingga seiring pemahaman Islamku aku pun berdamai dengan hatiku.
aku memaafkan kakakku dengan segala kekurangannya dan bersiap sedia menjadi "pembalance" amalannya yang hilang untuk kedua orang tuaku. sungguh ternyata maaf adalah hal yang sanggat mudah tapi maaf bukan berarti harus bertemu dan berpeluk-pelukan. karena maaf adalah masalah hati. hati tak perlu pembuktian kepada manusia.
Maka di sepertiga malam ini aku berdoa
Ya Alloh
aku mungkin masih miskin ilmu dan maafku tak seluas samudra untuk kakakku tapi sungguh kuharap hidayah islam itu kembali kepadanya.
dan semoga Engkau, Ya Alloh mendengar keinginan gadis kecilku dan meneguhkan iman Islamnya hingga kelak Engkau mengumpulkan kami bersama di Jannah
karena sungguh bahwa menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan orang tua adalah adalah harapan semua anak manusia
Ya Alloh
aku tak ingin membuktikan apa apa, bahkan tidak kepada orang tuaku, tidak pula kepada para manusia yang merasa tahu apa yang terbaik.
cukuplah Engkau yang maha mengetahui kata hatiku.
Cukuplah Engkau sebaik-baiknya penolong hidupku.
Cukuplah Engkau yang memberi petunjuk dan jalan yang terbaik
karena yang kutakutkan jika aku tak mampu membuktikan kepadamu jikalau aku mampu menjaga iman Islam ku.
disini aku memohon, di saat orang-orang berbicara tentang dunia, istiqomahkan hatiku untuk ucapkan doa yang bisa menembus langitMu.
Ya Alloh
semoga kelak anak keturunanku bisa memberikan doa tak yang akan pernah putus, tak hanya untukku tapi juga untuk kedua orang tuaku
hingga kelak, kami, aku dan orang tuaku pun akan memakai mahkota cahaya di akhirat nanti.
Amien
Komentar
Posting Komentar