3 Hati

------------------------
widya - cerita pagi hari

Aduh, aku ketiduran!!! Dengan tergesa gesa aku melempar selimut tuaku dari tempat tidurku. Bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Sekarang sudah jam 8 lewat 12. Padahal tadi weker sudah kusetel jam 7 pagi, tapi tetap saja aku ketiduran. Aku mulai mengerutu, menyesali kebodohanku. Pesawat yang ditumpangin Esti sebentar lagi landing. Seharusnya kalo on time dia akan sampai di Yogjakarta jam 8.30. Esti bakal merah besar kalo aku terlambat menjemput. Dia adalah miss on time. Paling benci menunggu. Makanya aku heran, kog bisa bisanya Esti masih single. Huaa..aku masih saja kepikiran yang ga penting. Kusambar celana jeans ku dan sweater yang semalam kupakai. Aku bahkan tidak memakai bedak. Aku tidak perduli yang penting aku harus ngebut menuju Adi Sucipto.

" Masss....MASSSSS kunci mobilnya mana?? " aku menjerit mencari mas ku. Mas Taufan.
Aku mulai heboh, Ibu hanya geleng geleng kepala. " Tuh kan, telat..makanya kalo dibangunin tuh yaa..bangun. perawan kog yo tanggi ne awan.." aku tidak mengubris perkataan Ibuku jika dibalas bakal panjang permasalahananya.
" Bu..mas Taufan mana sihh ? Wid harus njemput temen Wid nih.." aku mulai panik..setelah menemukan kamar mas ku dalam keadaan kosong melompong. Mas ku hilang. Aku berlari ke arah arah kebon, biasanya mas ku pagi pagi suka nongkrong di bale bale sambil membaca buku dan mendengarkan ocehan burung burung peliharaan kami. Rumah kami tidak terlalu besar tapi banyak ruang, dalam keadaan seperti ini rasanya sebal sekali jika punya rumah dengan banyak ruang. Almarhum bapak dulu suka dengan banyak ruang. Beliau suka bercanda, dengan banyak ruang, aku bisa gampang bermain petak umpet. Selera bapak memang berbeda dengan selera orang jawa umumnya, yang suka pada rumah yang lapang.

" Ibuuuuu...mas Taufan manaaaaa? " kali ini aku desperate, setelah menemukan bale bale itu kosong. Jam sudah memunjukan pukul 8.30. Aduh..Esti bakal marah besar. Aku merasa bersalah, aku lah yang mengajak Esti untuk berlibur ke Yogja. Dia bakal ngambek kalo aku tidak menservis dia dengan baik.
" Aduh..cah ayu..mas mu iku nang garasi " aku mendengar Bi Timah bersuara, beliau sedang memberi makan burung burung kami. Beliau sudah bekerja di rumah kami selama 40 tahun, kami sudah menganggapnya seperti keluarga kami sendiri. Aku berlari ke garasi, Ibu kulewati tanpa menoleh. Beliau pasti geleng geleng kepala. Aku memang anak bungsu, cuma berdua dengan mas ku. Semenjak bapak meninggal, mas Taufan pulang ke Yogja untuk mengurus usaha bapak. Kami punya usaha pengrajian perak. Tidak besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarga kami. aku sendiri merantau di Jakarta, setelah kuliah aku bekerja di salah satu bank pemerintah. Aku pikir aku akan ditempatkan di Yogja, tapi malah dilempar ke Depok. aneh sekali.

Disitu. Aku menemukan mas ku. Baju oblong dan celana pendek sedang memberesi peralatan mencuci mobil. Walau habis mencuci mobil, mas ku tetap keliahatan ganteng. Aku bangga dengan mas ku. Semua temanku mengangumi mas ku. Teman temanku sering berbisik menanyakan apakah masku punya pacar atau belom. Aku selalu kujawab sudah. Aku tidak mau jika mas ku pacaran dengan temanku. Ga rela. Apalagi dia terkenal baik dan pintar. Dia dulu kuliah di Teknik Industri ITB, karena itu dia mau meneruskan bisnis keluarga. Dia sempat bekerja di Freeport sebelum akhirnya pulang ke Yogja.
" Kenapa Wid? " suara mas ku tenang, seakan tidak terpengaruh akan kehebohan yang baru saja kutimbulkan.
" Wid pinjem mobil mas, Wid mo njemput temen di bandara "
" Hemm, starter mobilnya agak susah, kamu yakin bisa membawanya ? " mas ku berkata dengan bercakak pingang memandang mobil antik mercy jaman tahun berapa aku tidak tahu. Yang jelas saat aku lahir mobil itu sudah ada. Berarti mobil itu sudah berumur lebih dari 25 tahun.
" Wid, bawa yang avanza aja.." aku celingukan mencari mobil kami yang satu lagi.
" Avanza lagi di pake pak Dibyo buat antar barang " . Pak Dibyo adalah supir kami, dia kadang mengantarkan sample produk ke beberapa toko langganan.
" Yaah..Wid kan ga bisa bawa yang ini " ujarku sambil menunjuk mobil tua kami. Mobil itu tampak kempling setelah dicuci oleh mas ku. Aku mulai double desperate.
" Masss....." aku mulai ingin menangis
" Lah trus piye ? " mas ku berkata
Aku mengelosor di teras tumah kami. Air mata mulai mengenang di pelupuk mata. Esti bakal marah besar. Terbayang olehku Esti sedang menunggu di bandara.
" Ya udah, mas anterin aja " mas ku membuka pintu mobil
Aku tersentak. Kanget dan senang. Langsung kupeluk mas ku.
" Wid sayang mas deh "
" Halah..wis tho. malu maluin aja " mas ku langsung menepis pelukanku. Hehehe, dia memang cowok dingin.
Aku langsung meloncat ke dalam mobil. Ibu hanya melambai dan berpesan hati hati saat mobil tua itu meluncur.

Mobil itu mulai meluncur. Pelan dan pasti.
" Mas, cepetan dikit donk..temen Wid udah nunggu di bandara ni " aku berkata kepada mas ku sambil mencoba menghubungi Hp Esti. no signal. kenapa ya ? apa dia marah dan mematikan hpnya. Jam sudah menunjukan kurang 5 menit jam 9.
" Emang temenmu landing jam berapa ? "
" Harusnya jam 8.30..." dan langsung mobil itu meluncur cepat melewati hotel ambarukmo.
Kami sampai di Adi Sucipto jam 9.28. Aku langsung menuju ke terminal B, aku mulai mencari cari sosok Esti. Tapi tidak ketemu. Aku coba menghubungi Hpnya , masih no signal. Aku akhirnya bertanya ke Garuda Front Office, menanyakan penerbangan GA 174 dari Jakarta. Jawaban mba penjaga, seketika membuatku cerah " pesawat sedikit terlambat mba, 5 menit lagi baru akan landing ". Rasanya aku ingin mencium mba mba penjaga itu. Aku langsung sumringah menunggu kedatangan Esti.

Aku mengenal Esti di kost kami di Depok. Di kost an itu ada 8 orang. Yang paling dekat denganku hanya Esti. Mungkin karena kami sama sama orang Jawa. Keenam teman kos kami yang lain, bertingkah seakan akan kami tidak ada. Jika pulang kuliah atau kerja, mereka akan langsung masuk kamar dan menutup pintu. Benar benar individualis. Esti sedang kuliah S2 di UI. Mengambil jurusan Hukum ketenagakerjaan. Dia sendiri sebenarnya dosen di Brawijaya. S2nya tentunya dibiayai oleh universitas. Esti sangat pintar, terlepas dari dia memang dosen, dia seseorang yang asyik buat diajak curhat. Petuahnya selalu bijaksana. Kami sering pergi shopping bersama, dan juga masak bersama, dan seringnya salah satu kamar kami kosong, karena kami lebih sering tidur bersama. 2 tahun aku tinggal di jakarta, hanya Esti yang menjadi sahabatku.

Maka aku pun semangat mengajak Esti untuk berlibur di Yogja, hal yang memalukan dari Esti adalah selama 29 tahun dia belum pernah sekalipun ke Yogja. Sebenarnya Esti harusnya berangkat bersamaku, tapi rupanya dia harus menemui dosen pembimbing untuk menyelesaikan tesisnya. Sebentar lagi Esti akan wisuda S2, dan dia akan segera kembali ke Malang. Maka setelah aku mengambil cuti aku pun datang 2 hari lebih awal dari Esti.

" Mana temenmu " suara berat mas Taufan mengagetkanku. Ternyata dia turun juga dari mobil. Aku memandangnya, biar mas ku ganteng, tapi kostumnya yang dipakainya benar benar tidak pantas.
" Pesawatnya telat mas, bentar lagi baru landing " dan kami mendengar anouncement bahwa pesawat GA 174 telah landing di terminal B gate 14. Kami segera ke arah gate 14, menunggu dan mencari cari sosok Esti. Esti mudah dikenali, karena tubuhnya yang jangkung dan kurus. Aku selalu menyebutnya kutilang. Enaknya menjadi Esti adalah sebanyak apapun makanan yang masuk, dia tetap saja kurus. Beda benar dengan aku.
" Esti..Estii.." aku melambaikan tanganku. Aku melihat sosoknya. Rambut sebahu. Berkacamata. Kemeja warna kream, dengan pashmina coklat emas yang kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 29 dan celana jeans.
Esti membalas lambaian tanganku, dan berjalan cepat ke arahku. Tapi 5 meter sebelum mencapai tempatku dia terpaku.

Esti - cerita masa lalu

Aku benci menunggu. Perjalanan ke Yogja ini diawali oleh kejadian yang menyebalkan. Menunggu hingga 1 jam sebelum akhirnya bisa lepas landas. Alasannya ada perbaikan di turbin pesawat. Benar atau tidak aku tidak tahu. Rencana untuk berlibur ke Yogja sebenarnya bukan mauku, aku lebih suka di Jakarta saja. Menikmati coffe dan sepotong brownies. Tapi gara gara Widya, teman kos ku akhirnya aku pun disini. Di Yogja. Dan bertemu lagi dengannya. Taufan.

" Ti...nih , coba klepon bikinan ku" sodor Widya.
" Dijamin enak loh "
Aku mencomot bunderan hijau yang tertutup parutan kelapa itu. Ku coba satu. Heem..enak.
" Enak , Wid . Pinter masak juga kamu ya" puji ku
" Yee..underestimate banget sih  "
" Widya jagonya cuma bikin klepon aja, tapi nyari pacar ga bisa.."
" Ih, Ibu...! kog ngomongnya gitu sih ma Esti. Ti, ceritain ma Ibu kalo aku pacarnya banyak. aku bukannya ga laku, tapi justru kebanyakan yang dipilih.. "  sahut Widya
Ibu dan aku hanya tertawa mendengar pembelaan Widya. Disana, di pojok bale bale, Taufan membaca buku. Diam, tidak terganggu oleh candaan kami. Aku merasa kesal, tak pernah sadar bahwa Taufan adalah mas nya Widya. Padahal Widya selalu bercerita tentang mas nya.

Pikirku melayang 10 tahun yang lalu. Saat pertama kali aku bertemu dengannya. Saat itu masih internet baru booming. sebagai mahasiswa, aku tertarik untuk menggunakannya. Maka akupun mengenal MIRC. Disana aku bertemu dengannya. Sebuah pesan singkat dari user name ta_uf_an: hi, asl pls yang mengawalinya. Pertama kami hanya chating seputar kuliah, hobi dan impian masa depan. Waktu belum ada hp, dia kadang menelpon ke rumah ku di malang. Hubungan kami berjalan baik selama 6 tahun. Entah sebagai pacar atau sahabat aku tak tahu. Yang jelas aku nyaman bersamanya.

" Aku mau pulang " waktu itu tumben tumbennya Taufan datang ke Malang. Waktu itu pesawat dari Papua transit ke Surabaya, maka dia mampir ke Malang yang hanya memakan waktu 1.5 jam. Dalam kurun waktu 6 tahun kami berhubungan, hanya sekali kami bertemu. Waktu itu kebetulan aku harus ke Bandung untuk nikahan salah seorang saudara. Maka aku pun berkesempatan bertemu dengannya. Tapi itu sudah 5 tahun yang lalu namun sosoknya masih seperti pertama kami bertemu, tinggi dan gagah.
" Mo pulang sekarang, masih hujan loh " aku melihat ke luar jendela. Rintik hujan masih membasahi bumi. Aroma tanah basah segar tercium.
" Hemm " dia tersenyum kecil. Ganteng.
" Maksudnya aku harus pulang ke Yogja "
" Oooo " aku tak tau harus berbicara apa. Waktu itu kupikir wajar jika dia akan pulang setelah dia bekerja 2 tahun di Free Port. Aku tahu dari ceritanya selama ini, bekerja di Papua tidak lah mudah.

Tapi yang aku tidak tahu, bahwa itu adalah pembicaraan terakhir kami, setelah dia kembali ke Yogja dia tidak pernah menghubungiku lagi. Setiap telpon tidak pernah diangkat dan sms tidak pernah dibalas. Maka hubungan yang tanpa status itu pun berakhir.

Aku bukan orang yang suka menunggu, tapi demi dia aku menunggu selama 10 tahun.

Taufan - cerita tentang dia

Aku tidak menyangka, bahwa aku akan bertemu lagi dengannya. Sosoknya masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Masih saja kurus. Model rambutnya pun masih sama, hanya kacamatanya saja yang berubah, lebih modern. Mulai ada kerutan diwajahnya. Tapi dia masih saja cantik dimataku.

Sewaktu Widya mengenalkannya, serasa jemariku membeku saat menyentuhnya. Aku tak tahu harus berkata apa. Sepanjang perjalanan, adikku yang cerewet berceloteh terus, dia hanya menimpali seadanya, kata katanya menenangkan dan bijak. Masih sama seperti dulu. Widya memaksaku untuk mengantarkan ke Malioboro, Bringharjo dan Shopping. Dasar wanita, dia langsung membawa pulang 6 tentengan.
" Ini buat keluargaku, mumpung di Yogja jadi beli batik yang banyak " katanya membela diri. Senyumnya masih sama, manis dan ada dekik di pipi kanannya.
" Mas, ke Parangtritis donk........"
" Ini udah sore Wid, ngapain ke sana. Pulang aja lah " aku sebenarnya hanya tak ingin berlama lama bersamanya. Suasana ini membuatku rikuh.
" Yaaahh..ayo lah mass..kan Wid pengen liat sunsetnya...mas baek deh " Widya memang anak manja, kalo ada maunya pasti bakal merayu habis habisan.
" Alah..."
" Wid, besok aja deh, kan kasian mas mu nganterin kita terus..." suara itu....
" Ya, udah..kita ke Parangtristis..tapi bentar aja " akhirnya aku mengarahkan mobil tua itu ke Ring Road Selatan

Dia masih sama seperti dulu. Tetap cantik dimataku.
" Mas..photoin kita donk.."
Disitu. Diantara pemandangan indah matahari terbenam, ku temukan object yang lebih indah. Esti.

Malam ini aku diam, mereka bercanda semalam. Klepon bikinan adikku menjadi favorit. Aku ingin berbicara padanya. Berdua. Untuk meminta maaf.

widya - cerita mereka

" Mas mu blom merid, wid ?"
" Blom" cuek aku menjawab.
" Kog belom ? emang blom punya pacar ?"
" Blom "
" Masa sih? "
Kali ini aku melepaskan pandanganku dari batik batik yang tadi kami beli, Esti sedang membersihkan wajahnya.
" Blom punya pacar dan blom nikah tuh" aku menyergap Esti dari belakang
" Hayoo...naksir ma mas ku yooo? ehmm..mas ku emang ganteng kog " ujarku dengan tawa. Kalau untuk Esti, aku rela menyerahkan mas ku.
" Aduh..kamu nih " Esti berusaha melepaskan pelukanku. Mukanya memerah.
" Aku kan cuman nanya..emang ga boleh "
" Engga..ga boleh nanya nanya kalo ga punya niat serius "
Kali ini aku melepaskan pelukanku dan menghempaskan badanku ke kasur.
" Setauku dulu mas Taufan punya pacar. Tapi semenjak pulang ke Yogja, kayaknya mereka putus tuh.." pikiranku melayang ke 4 tahun yang lalu. Semenjak Bapak meninggal, mas Taufan bekerja ekstra keras untuk menghidupi kami. Apalagi saat itu aku sedang butuh butuhnya uang buat kuliah. Dia tidak akan punya waktu untuk berpacaran.
" Kamu tau pacarnya ?"
'" Eh " aku terpekur kaget dengan pertanyaan Esti. untuk masalah percintaan, mas ku sangat tertutup.
" Engga..cuman setahuku dia teman kuliahnya di ITB"
" Ooo, pacarnya teman kuliahnya ya..."

Malam itu aku tidur dengan seribu rencana. Untuk mas ku dan untuk Esti.

" Mas.. "
" Heemm "
" Esti cantik kan ? "
" Heemm.."
" Dia pinter loh "
" ...."
" Baek lagi "
" .... "
" Wid bakal seneng loh kalo punya kakak ipar seperti Esti "
Dan mas Taufan langsung beranjak dari bale bale. Pergi meninggalkanku sendiri.

" Ibu..." aku langsung mengadu.
" Opo tho ndok ? " ibu sedang mempersiapkan sarapan. Esti masih mandi
" Mas Taufan.."
" Nopo mas mu ? "
" Kan Esti cantik, kog mas Taufan ga mau sih ma Esti "
Ibu hanya terseyum dan membelai rambutku.
" Mas mu itu dah gedhe, Wid "

Aku langsung merasa kesal. Rencana perjodohan Esti dan mas ku gagal total. Padahal semalam aku merasa rencanaku bakal berjalan lancar. Semalam, Esti mulai bertanya tanya tentang mas Taufan. Itu sudah menunjukan bahwa dia tertarik. Tapi kog tanggapan mas Taufan dingin sekali. Ibu juga tidak mendukung. Kesal.

Hari ini aku akan mengajak Esti ke Prambanan. Dari Prambanan nanti kami akan ke Kaliurang. Aku merayu mas Taufan untuk mengantar. Dan kali ini aku tersenyum bahagia, hanya satu kali rayuan dia langsung mau. Harapanku mulai bersemi kembali.

Di Prambanan, di tengah terik matahari. Aku melihat mereka berdua berbicara. Sekilas aku melihat Esti mengusap wajahnya. Menghapus air mata ? aku tidak tahu. Jarak kami cukup jauh, aku sengaja pergi sendiri supaya mereka bisa mengobrol berdua. Biar kesan bahwa mereka ku comblangin tidak terlalu tampak. Aku tersenyum melihat mereka berdua, ku harap rencana ku berhasil.

Di Kaliurang, mereka diam. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah juga mereka diam. Saat aku berdua dengan Esti di kamar tidur, dia juga diam. Aku mulai kesal lagi. Saat kami pulang ke jakarta, Ibu dan mas Taufan mengantar. Hanya kata kata standard yang diucapkan mas Taufan kepada Esti. Hati hati.

Rencanaku gagal.

epilog
widya - suatu hari di masa depan

" neng, taxinya dah siap " bibi penjaga kos tiba tiba saja muncul di depan kamar ku.
" Iya Bi, suruh tunggu bentar ya.."
aku mencari cari syal biruku, di pesawat nanti pasti dingin sekali. aku harus menggunakan syal biar tidak mati kedinginan. oups..kata katanya berlebihan ya.. ? hari ini aku harus pulang, besok minggu mas taufan akan menikah. aku kaget sewaktu Ibu cerita, ga ada hujan ga ada badai, tau tau mas taufan setuju menikah dengan anak kenalan ibu. mba Meta. aku belum pernah bertemu dengannya. Ibu hanya bilang dia gadis yang baik. hanya dalam kurun waktu 1 bulan dari ditawari Ibu, mereka akan menikah. katanya kalau sudah jodoh, pasti akan cepat. tapi yang ini terlalu cepat.

syal biruku masih juga tidak terlihat. aku mulai membongkar bongkar lemariku. bajuku hanya matching dengan syal itu. jika bukan yang warna biru aku tidak mau memakainya. tahu tahu saja jemariku menyentuh sesuatu. surat. surat itu ada di dasar koran yang menjadi alas baju di lemari. aku menariknya. kepada Esti Maharani. surat ini buat Esti. memang semanjak Esti pulang ke Malang, aku pindah menempati kamarnya yang lebih besar. kubalik surat itu, tidak ada pengirimnya. penasaran. hemm..kubuka tidak ya?

terakhir kali aku menemui Esti, 2 bulan yang lalu. di acara nikahannya. dia terlihat sangat cantik, berkebaya putih. suaminya biasa saja, gantengan mas taufan. aku masih kesal padanya, kenapa sih ga mau sama mas Taufan. acara perjodohan mereka benar benar gagal total. sehabis dari Yogja, Esti lebih banyak diam. alasannya konsen untuk tesis nya.hingga tiba tiba dia mengabari akan menikah. sewaktu aku mengucapkan selamat, dia memelukku dan berbisik " terima kasih telah membawa ku ke Yogja ". sehabis itu Esti menangis hingga make up nya luntur. aku tak tahu maksud ucapannya.

surat itu ku buka, ku baca dan seluruh sendiku menjadi layu. aku mengelosor di lantai dan menangis.......

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kepada : Esti Maharani, yang menjadi rembulan keteduhanku

maaf. aku hanya bisa meminta maaf. mungkin seribu, berjuta kata tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan kepadamu. kehadiranmu di Yogja, menimbulkan sejuta rasa. aku bahagia bertemu denganmu, tapi aku tahu bahwa aku tak bisa bersamamu. dan itu menimbulkan sejuta rajam dalam hatiku.

di prambanan, engkau bertanya " kenapa ?". aku tak tahu harus menjelaskan apa. aku tak mampu berkata. saat engkau mengusap air matamu. aku hanya ingin memelukmu saat itu. menghentikan waktu, disaat aku bersamamu. tapi aku tak berhak begitu. sebuah penjelasan harus ku berikan padamu.

wulan. namanya wulan. dia teman kuliahku. dia sangat ceria. dia seperti adikku widya. manja. kami bersama sebulan sebelum aku bersamamu. dengan wulan, aku menemukan matahari. denganmu aku menemukan rembulan. dengan dirimu dan dirinya, aku menjadi utuh. aku tak pernah bisa memilih. 6 tahun aku bersamamu, menjadi 6 tahun 1 bulan aku bersama wulan. aku tahu suatu hari aku harus memilih, menentukan siapa. tapi ego ku yang begitu besar tak pernah mau kehilangan kalian berdua.

saat aku kembali ke Yogja. di suatu sore dengan rintik hujan. wulan datang ke rumahku, menebarkan semua email antara aku dan dirimu. saat itu, air mata wulan menyaingi rintik hujan di hari itu. sama seperti mu, wulan bertanya "kenapa ?". aku tak tahu harus menjelaskan apa. aku tak mampu berkata. aku hanya diam. diam saat dia berlari menerjang rintik hujan.

hingga, malam itu keluarganya menghubungiku. wulan meninggal. mobilnya menerjang jurang. di gengamannya ada sebuah email dari mu, pernyataan bahwa sampai kapanpun engkau akan menunggu ku. 

aku tak bisa bersamamu. bersamamu menimbulkan semua penyesalan bahwa aku telah begitu bodoh menyakiti wulan. aku mencintainya, sebesar aku mencintaimu. aku telah kehilangan wulan, maka aku harus rela kehilanganmu.

saat ini, aku hanya bisa meminta maaf padamu.

Salam dari yang mencintaimu,
Taufan

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake