OLLA - Dingin

 

1.       Dingin

***Olla membuka satu matanya dengan berat, dia mendengus. Hidungnya berair, dingin. Olla benci dingin. Tapi Olla juga benci harus bangun dan bergerak. Badannya gembul, membuatnya malas bergerak. Walaupun gembul, Olla tak berniat sama sekali untuk menguruskan badannya. Buat apa ? toh dia sudah cantik dan menarik. Olla, merasakan hidungnya mulai gatal, duh sebentar lagi Olla akan bersin.

Kamar ini sebenarnya nyaman, dengan dinding berlapis wallpaper berwarna biru laut dan gambar kerang putih menghiasi kamar, di pojokan ada jendela besar dengan bukaan di tengah, di bingkai alumunium putih khas rumah minimalis jaman sekarang. Jendela itu tertutup tirai berwarna biru yang lebih gelap dari wallpaper di kamar. Olla suka warna biru ini, membuatnya tenang walau Olla sebenarnya tak suka dengan laut. Dengan air lebih tepatnya. Seperti ini, air membuat Olla dingin.

Olla mengeserkan badannya, menggelung badannya lebih kecil, berharap udara itu tak memasuki tubuhnya. Di kasurnya yang beralas beludru seharusnya membuat badan Olla hangat. Tapi dasar si Maya, sepertinya dia tak menutup jendela rapat semalam, membuat angin subuh masuk tanpa permisi menusuk ketulang-tulang Olla.

Olla melirik Maya dengan ujung matanya, Maya tidur pulas sambil mengorok. Apa-apaan itu? perempuan kog tidur mengorok. Bahkan lebih keras dari suara keran air di kamar mandi. Olla membuka kedua matanya sekarang, di pincingkan matanya supaya bisa melihat jelas. Ah betul sekali, Maya mengiler. Komplit sekali, sudah mengorok dan sekarang dia mengiler. Terlihat mulut Maya terngangga, dan di ujung bibirnya ada tetesan air liur. Olla langsung berpikir dan mematri pikirannya bahwa dia nanti harus menghindar jika Maya mau menciumnya, bau air liur Maya membuat Olla mual. Maya harus sikat gigi dulu jika mau mencium Olla.

Ngrooook

Ngeeekk...

Telinga Olla langsung siaga, suara ngorok Maya kali ini lebih kencang, dan Maya tiba-tiba berganti posisi, rambut Maya yang panjang, acak-acakan menutupi sebagian muka Maya sekarang. Maya seperti mak lampir.

Bruk

Bantal maya jatuh mengelundung, nyaris menimpa Olla.Maya kalau tidur memang tidak karuan, bergerak kesana kemari seperti kinciran.

Kali ini Olla sudah kehilangan kesabarannya, mau tak mau Olla harus mengeser badannya. Walau Olla malas sekali, Olla memilih lebih baik mencari kehangatan dengan dipeluk Maya.

Olla teringat pertama kali bertemu dengan Maya. Waktu itu Olla masih belum segembul ini, badannya masih kecil langsing, cenderung kurus malahan. Olla saat itu lapar sekali, sudah berhari-hari Olla belum makan. Mama Olla entah dimana, dia meninggalkan Olla sendiri berhari-hari. Tersesat di jalanan yang sepi dan rumput yang tinggi. Olla sangat ketakutan saat itu, tapi menangispun taka da yang mendengar. Mama Olla tak menghampiri, tak ada siapapun ang dating. Hanya Maya.

Maya mengenakan jaket hitam khas pesepeda motor walau motor Maya adalah motor imut vespa keluaran jadul. Dengan helm dan buff yang menutupi wajah serta kacamata hitamnya, Olla waktu itu ketakutan saat Maya memeluk Olla, Olla tak bisa melihat wajah Maya. Olla menangis sepanjang jalan saat Maya membawa Olla pulang dalam pelukannya. Olla sebenarnya juga takut jika Mama datang menjemput Olla, tapi mungkin Olla terlalu berharap kepada Mama, toh nyatanya Mama tak pernah datang, hingga kini. Terkadang Olla memimpikan Mama memeluk dan mengajak Olla bermain, saat itu adalah masa-masa berbahagia Olla. Ah entah kenapa Olla bisa mengingatnya, mungkin itu adalah anugerah dari Tuhan, sekedar mengingatkan Olla akan arti keluarga.

Tapi Olla disini bersama Maya, Olla pun berbahagia. Olla juga menyukai Maya, sudah menganggapnya sebagai keluarga. Dan ternyata dibalik helm, buff dan kacamata itu, Maya sangat cantik. Rambutnya panjang dan lebat, Olla suka mencium wangi rambut Maya. Kulit Maya juga halus, Maya sangat menjaga kebersihan kulitnya, dalam sehari Maya bisa berkali-kali mengoleskan handbody ke seluruh kaki dan tangannya. Belum yang wajahnya. Peralatan make up Maya sangat banyak berjajar rapi di meja rias, di pojok kamar. Membuat wajah Maya halus dan bercahaya, apalagi saat Maya berdandan untuk pergi ke kantor, Maya sangat memukau. Tentunya minus Maya hanya soal mengorok dan mengiler tadi.

Namun dibalik kecantikan Maya, Maya juga ceroboh dan suka berteriak.  Entah beberapa kali Maya melupakan jatah makan Olla, Olla harus melakukan demo sebelum Maya sadar dan memberikan Olla makanan. Dan entah kenapa Maya suka sekali berteriak, sewaktu Olla ingin mencoba peralatan make up Maya supaya cantik, Maya berteriak kencang. Atau saat Olla membawakan Maya hadiah hasil perburuan malam, Maya berteriak histeris dan bahkan mengejar Olla dengan sapu.  

Maya juga terkadang kejam, Maya suka menyuruh Olla mandi. Olla benci mandi. Oh, sudah dibilang kan kalau Olla tidak suka dingin. Dan ini justru Olla disuruh mandi, itu adalah hal terkejam yang Maya suka lakukan kepada Olla.

Tapi Olla juga pernah membuat Maya menangis, waktu itu sehabis Maya memandikan Olla, Olla marah dan kabur dari rumah. Sebenarnya tidak jauh, cuman pergi ke tetangga, tapi Olla memang pandai bersembunyi. Olla mendengar jelas Maya memanggil-manggil Olla, tapi Olla kan lagi ngambek. Jual mahal dulu lah. Tapi saat Maya mulai menangis Olla tak tega, baru kal ini Olla merasa disayangi hingga ada yang menangisi Olla. Olla akhirnya pulang, pelan-pelan saja, pura-pura ga bersalah lah kalau sudah kabur. Maya menjerit sewaktu meliha Olla Kembali, dan memeluk dan mencium berulang kali. Rasanya Bahagia sekali bisa berpelukan dan di cium Maya lagi. Maya menangis teseguk-seguk dengan kata-kata yang Olla tak paham, ingatnya cuman Maya berjanji akan menjaga Olla.  

Dan memang benar, sehabis itu Maya menjaga Olla, dengan melarang Olla keluar ! Sekarang semua  pintu rumah, jendela semuanya di kunci dan ditambahkan kasa nyamuk. Bikin susah aja kalau Olla mau keluar.

Hatchi!

Olla bersin, hidungnya sudah berair. Ini benar-benar dingin, sekarang memang musim pancaroba, udara si pagi hari terlalu dingin. Bulu-bulu Olla tak sanggup lagi menghadang rasa dingin ini. Olla bangkit dari tempat tidurnya, direntangkan tangan dan kakinya. Melemaskannya semua otot dan peredaran darah Olla.

Uughhh

Ternyata tidur itu juga capek juga bagi Olla. Hari-hari memang diisi dengan tidur oleh Olla, ya sekali-sekali bermain perburuan, tapi itu bisa dihitung jari, apalagi semenjak Maya mengejar dengan sapu, Olla sudah tak berani lagi.

Olla berjalan perlahan, kemudian duduk memandang Maya di ujung tempat tidur Maya dan membathin,

Ah dia cantik sekali.

Olla tersenyum, dan melompat ke atas tempat tidur Maya. Buntutnya yang Panjang dan lebat berdiri seperti kemoceng.

Olla mendusel dibawah telinga Maya, dia suka sekali wangi rambut Maya, masih tetap wangi walau sekarang sedikit tercampur dengan iler.

Rrr…rrr…

Olla mendengkur, Olla mulai menciumi Maya. Wajah maya sangat halus, Olla suka sekali menciumnya, sedikit menjilatnya dengan ilur Olla, memberikan tanda bahwa Maya adalah milik Olla.

“Eegghh,“

Maya sepertinya sadar di cium oleh Olla, tangannya bergerak mendorong Olla

“Egghhh saanaaahh Olla…”

Olla tak menyerah, di dekati lagi Maya mendusel lagi di bawah telinga Maya. Diusir lagi.

“Eeggghh…Ollaaaaa, “

Kali ini Olla duduk melingkar di atas dada Maya. Diam mendengarkan detak jantung Maya yang beraturan.

“Ollaaaaa!“

Kali ini Maya membuka matanya, aduh bau mulut Maya tepat tersembur di hadapan Olla.

Olla memandang Maya syahdu dengan matanya yang bulat sempurna, menjawab dengan manja.

“Ngeeooonggg…“

Maya menyerah, bagaimana mungkin dia menolak pandangan mata cinta Olla.

Sambil tersenyum, Maya meraih Olla, di bawanya ke pelukannya.

Dan mereka tertidur bersama, berpelukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake