5 Golongan Happy Marriage Berdasarkan Unsur Kebahagiaan
Sebenarnya
apa sih definisi Happy Marriage? Apa para kakek nenek yang sudah
menyandang status pernikahan emas dianggap sudah Happy Marriage? Atau para
bucin yang suka pamer status mesra di media sosial dengan pangilan yank,
babe, cint terus pegangan tangan kayak slime ga
lepas-lepas? Atau pasangan yang kayak truk tronton kemana-mana bersama dan seia
sekata?
Kalau
merujuk dari google translate, Happy Marriage diterjemahkan
sebagai pernikahan yang bahagia. Dan kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pernikahan merupakan kata benda dari kata dasar Nikah/ni-kah yang artinya ikatan
(akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.
Sedangkan bahagia bisa diartikan sebagai kata benda sebagai keadaan atau
perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan) dan sebagai
kata sifat diartikan sebagai beruntung; berbahagia.
Jika
dirangkum, Happy Marriage atau penikahan yang berbahagia merupakan sebuah
ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan
ajaran agama yang memiliki keadaan atau perasaan senang, tenteram, beruntung
and berbahagia.
Jadi
syaratnya supaya bisa dibilang Happy Marriage adalah pernikahan yang sah
secara hukum dan agama, serta pernikahan yang senang, tenteram, beruntung,
berbahagia. Disini untuk meng- check k syarat sah secara hukum dan agama
itu gampang, tinggal check punya buku nikah apa engga? Kalau
punya ya aman, dianggap sudah separuh jalan dan bisa dilanjut untuk syarat
berikutnya.
Namun sebagai
kata sifat, bagaimana mendefiniskan Bahagia? Secara standard bahagia
tiap orang itu berbeda-beda. Apalagi jaman terus berkembang seperti halnya kubu
bubur diaduk dan bubur tidak diaduk sudah mendapat saingan bubur disedot.
Bahagiaku dan bahagiamu itu beda say.
Maka
berikut 5 golongan Happy Marriage berdasarkan unsur kebahagiaan untuk
disimak:
1. Golongan pertama: Cinta Buta.
Ada yang
bilang Bahagia itu simple, asal bersamamu aku wes Bahagia. Golongan ini
termasuk para penganut lautan samudra pun akan ku arungi demi dirimu. Yang
biasanya adalah para korban cinta pada pandangan pertama.Tak perduli materi,
dan tidur beralas tanah dibawah bintang-bintang sudah Bahagia selama ayank
bersama, uhuy.
2. Golongan kedua: Cinta dengan Syarat.
Mungkin
sebahagian orang akan menganggap golongan ini ribet. Soalnya golongan ini akan
meminta securitas terlebih dahulu. Minimal sandang pangan papan wajib
terpenuhi sebelum senyum bisa terukir dalam Happy Marriage. Golongan ini
lebih menganut kepada logika, yang biasanya penganut golongan ini sebelum
memutuskan menikah, sudah melakukan analisis terhadap calon pasangan dan
melakukan forecast terlebih dahulu. Bebet bibit bobot menjadi pertimbangan
penting buat penganut aliran ini.
3. Golongan ketiga: Witing tresno
jalaran soko kulino.
Penganut
golongan ini biasanya korban perjodohan orang tua nya. Awalnya ya gitu deh,
pernikahan terpaksa namun kebersamaan mengalahkan segalanya. Mempertahankan
pernikahan demi anak dan keluarga, membuat golongan ini lebih nrimo dan
mengagungkan keutuhan keluarga. Jadi patut diancungi jempol para survival
dari golongan ini yang rela mengalah demi keluarga.
4. Golongan keempat: Me Time
Forever.
“Yang
penting happy aja, Beb.” Golongan melek mental health
memberikan kebebasan penuh kepada para pasangannya. Mereka percaya pada
pasangan masing-masih bebas melakukan apapun yang membuat mereka bahagia. Waktu
Me Time adalah wajib tak bisa diganggu gugat. Tak perlu seia sekata,
jadi biar suami mo sepedaan, istri mo shopping, selama pasangan oke-oke
saja santuy saja untuk berbahagia. Istilahnya apa yang membuatmu Bahagia, juga akan
membuatku Bahagia, cieee.
5. Golongan kelima: Yang Penting Viral.
Kebahagiaan
sesuai jaman, dimana social media tak lagi bisa dipisahkan dengan tarikan
nafas, maka saat ini mulai marak untuk menentukan kadar Happy Marriage
ditentukan oleh banyaknya jumlah like dari update status, Live atau FYP. Semakin
banyak like semakin level kebahagiaan bertambah. Entah setelah update status, pasangan
akan kembali sibuk dengan agendanya masing-masing, yang penting status dengan
kemesraan telah viral dimana-mana. Setiap kebersamaan dijadikan ajang content
supaya menjadi trending dan viral.
Lalu, dari
5 golongan Happy Marriage berdasarkan unsur kebahagiaan yang dijabarkan
diatas, manakah unsur kebahagiaan yang ideal menurutmu? Well, apapun
itu, kebahagiaan datangnya dari hati. Dalam sebuah pernikahan, 2 orang yang
terpenting adalah kamu dan pasangan. Jadi walaupun definisi Happy Marriage -mu
berbeda dengan tetanggamu, woles aja sih.
Komentar
Posting Komentar