Aku akan membunuhnya
Mungkin dengan pisau? Atau dengan racun seperti pembunuhan
si Mirna. Ah tidak, sepertinya pisau jauh lebih baik. Aku bisa membayangkan,
menusuknya berkali kali. Sama seperti di cerita CSI atau Criminal Minds. Berapa
tusuk di jantungnya, mukanya sudah pasti di sayat, dan mungkin juga di
selangkangnya. Di tempat itu kan dia bilang kenikmatan dunia. Gara gara
kenikmatan itu kan dia meninggalkanku.
Ah, benar. Membunuhnya dengan pisau sepertinya pilihan yang
baik.
Tapi, nanti dulu.
Aku juga ingin menyiksanya, apakah dengan menusuk dengan
pisau sudah cukup menyiksanya ? aku ingin dia tersiksa sama seperti aku
tersiksa oleh perbuatannya. Aku ingin melihatnya menangis. Banyak air mata.
Sebanyak air mata yang aku tumpahkan karenanya, bahkan harus jauh lebih
banyak. Mungkin aku bisa menambahkan
dengan mencekik ? membiarkan dia mati tak bernafas pelan pelan. Mengambil semua
udara, seperti dia membuatku tak merasa hidup. Ah tidak, aku tak akan cukup
kuat mencekik. Aku harus mencoret option mencekik.
Racun, mungkin bisa aku pertimbangkan lagi. Membayangkan
kami duduk berdua, aku menyiapkan kopi hitam kesukaannya dengan 2 bongkah gula
batu. Cukup manisnya. Lalu melihatnya
menyeruput kopi, pelan pelan. Lalu aku bisa tersenyum sambil melihatnya
merengang nyawa.
Racun apa yang harus aku gunakan? Sianiada ? ah jangan
sianida, orang orang masih terfokus pada kematian Mirna dengan sianida. Walaupun sebenarnya mencari sianida cukup
mudah, dengan profesiku aku bisa mendapatkannya tanpa ada yang curiga. Lalu aku
bisa saja mengatakan pada tetangga dia mati karena serangan jantung. Rapi bukan
?
Kecubung saja. Dari dulu aku selalu merasa ada sesuatu yang
berguna saat aku menanamnya di pekarangan. Aku tak hanya menyukai bunganya yang
jatuh terbalik, pasrah Bunga kecubung
terlihat berbeda dengan bunga lainnya, sama seperti aku menganggap diriku
berbeda dari orang orang kebanyakan. Aku bisa mengambil alkaloidnya, sekali
lagi..mengelolah racun kecubung bukanlah hal yang susah bagiku. Aku bisa
menambakannya di kopi pagi, sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya dia mati.
Tapi tak ada darah. Aku ingin melihat darah. Rasanya hasrat
menusuk, menikam, mencabik jantungnya tak bisa aku bendung. Racun tak akan
memuaskanku.
Aku terpekur.
Kecubung ku mulai layu. Tak tau mengapa. Padahal aku rajin
menyiram dan memupuknya. Mungkin karena udara yang terlalu panas.
Lalu mulai berpikir tentang panas yang mematikan. Bagaimana
jika aku menyalakan heater di kamar mandi dan merebusnya seperti kepiting.
Kulitnya pasti akan memerah, mengelupas habis. Aku pernah melihatnya di serial
Bones, mayat menjadi hancur, hanya menyisakan tulang belulang karena terpapar
air panas terus menerus. Aku tak perlu takut akan teriakannya akan terdengar ke
tetangga, kamar mandi kami di buat dengan peredam suara. Dulu aku tak
memahaminya sewaktu dia membuatnya, bagiku saat itu dia hanya menghabiskan uang
saja. Tapi kali ini aku menganggap kamar mandi kedap suara adalah ide yang
brilian.
Tapi bagaimana caraku mengajaknya ke kamar mandi dan menyalakan
heater nya tanpa dia berontak? Tubuhku akan kalah jika harus bergumul
dengannya.
Tampaknya ide air panas tak akan sukses. Padahal jika dia
mati di rencana air panas, aku bisa beralasan kepada tetangga dia pergi.
Seperti yang selalu dia lakukan. Meninggalkanku sendiri.
Ehm, mungkin aku juga bisa mengutak atik mobilnya sebelum
dia pergi. Memotong rem, mungkin ? seperti yang di cerita cerita film. Saat dia
mengebut - dan aku tau dia selalu mengebut saat mengendarai mobil - lalu rem
tak bisa digunakan. Ahaha, aku bisa membayangkannya dia menabrak gedung,
mobilnya ringsek, badannya terpental, darah bercucuran, jika beruntung aku bisa
melihat kepalanya hancur. Otaknya yang tak dipakai itu berceceran di jalan.
Tapi jika polisi mengusut, akankah mereka tau perihal rem yang dipotong itu ?
Ah, aku harus mencari cara untuk membunuh yang terbaik dan
mengeksekusinya. Sebelum purnama depan, saat umurku genap 40 aku harus lepas
dari dia. Life begin at 40, right ?
Kopi hitam dengan 2 bongkah gula batu dan Koran pagi sudah
kusiapkan. Tapi dia tak menyentuhnya, saat akan duduk ponselnya berdering. Dari
raut mukanya aku tau siapa yang nelpon. Lalu dia pergi, begitu saja. Bahkan
tanpa kecupan untukku.
Ah tak mengapa dia pergi.
Hari ini umurku 40. Aku harus merayakannya. Aku ingin tampak
cantik, jadi aku pun berdandan. kupakai gaun merah darah yang 10 tahun lalu dia
berikan untukku. gaun pendek diatas lutut dengan tali spageti di pundak.
Sebenarnya payudaraku terlalu kecil dan tak pantas dengan gaun ini tapi dulu
dia bilang aku sexy.
Hari ini pun kupakai lipstick warna merah, warna yang sama
dengan warna lipstik yang pernah aku temukan di kemeja nya dulu.
Lalu ku kendarai mobilku ke alamat yang aku sudah hafal.
Berulang kali aku kesana tapi tak pernah aku berani memasuki gerbangnya. Tapi
hari ini aku berumur 40 tahun, jadi aku menabrak dan menerobos masuk. Aku bisa
mendengar beberapa orang berteriak padaku. Tapi aku tak perduli.
Kemudian aku menemuinya, perempuan yang menjadi maduku
berapa tahun ini. Lalu kutodongkan pistol yang aku buat dengan printer 3
dimensi yang kubeli secara online. Aku tersenyum dan menarik picunya. 1 kali di
kepalanya yang tak berisi karena berani merebut suami orang, dan di jantungnya
karena dia tak punya hati.
Lalu dia, Lelaki yang menikahiku 10 thn yang lalu. Dia
berteriak teriak, tapi aku tak bisa mendengar suaranya. Beda dengan maduku, aku
memberikan bonus tembakan kepada lelakiku. 1 tembakan di kemaluannya, aku bisa
melihatnya meringis kesakitan memegang burungnya, lalu kutambahkan di
jantungnya, dan terakhir tembakan pamungkas di kepala kosongnya. Lalu dia jatuh
tergeletak , mati.
Hari ini umurku 40 tahun, dan aku merasa sangat bahagia.
Komentar
Posting Komentar