Banyu Biru

Namanya Banyu Biru.
Konon katanya, saat dia dikandung, Mamak mencoba bunuh diri dengan terjun ke lautan. Tapi tak diyana Banyu Biru malah lahir ke dunia. Saat itu lautan tak berubah menjadi merah oleh darah, tapi justru menjadi semakin biru. Disitulah Mamak sadar anaknya adalah anak yang special, dan akhirnya Mamak menamainya Banyu Biru, dan membawanya pulang.

Mamak mengurus Banyu Biru seorang diri. Dia diusir oleh orang tuanya karena hamil di luar nikah, dan lelakinya menghamilinya pun kabur entah kemana. Mamak membangun rumah di tepian bukit yang menghadap ke laut, hanya dari kayu kering dan jelujur rotan yang dia temui. Beralas tanah, tanpa perabot. Tapi bagi Mamak dan Banyu Biru rumah itu adalah istana mereka.

Semakin besar, Banyu Biru memang menjadi anak yang special. Kemampuan bicaranya berbeda dengan anak kebanyakan. Disaat anak anak lain bernyanyi, Banyu Biru hanya bersendandung, dan saat anak anak lain bercerita , Banyu Biru berceloteh tak jelas. Banyu Biru memang bisu. Tapi Banyu Biru adalah anak special Mamak. Mamak menyayanginya dengan hatinya walaupun dia tak bicara dengan sempurna.

Saat mulai bersekolah, Banyu Biru dihina oleh teman teman sekolahnya karena kemampuan bicaranya. Karena marah, Banyu Biru memukul temannya hingga hidungnya berdarah. Banyu Biru lalu dimarahin oleh gurunya dan disuruh pulang. Saat itu Mamak hanya mengusap air matanya, dan berkata “Banyu Biru, jadilah orang yang baik”. Semenjak itu Banyu Biru tak bersekolah lagi, kata Mamak tak perlulah bersekolah untuk menjadi orang baik. Maka Mamak pun mengajari Banyu Biru disela sela Mamak mengayam jaring untuk menangkap ikan. Mamak yang hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah, mengajari Banyu Biru membaca dan menulis. Tulisan Banyu Biru sangatlah bagus. Apalagi kaligrafinya. Mamak sangat bangga akan Banyu Biru. 

Banyu Biru ingin bekerja. Dia ingin membantu Mamak. Tangan Mamak kasar, dan badannya sangat kurus. Tak jarang Mamak jatuh karena kecapaian. Tidak mengherankan, Mamak bekerja sangat keras. Mulai penjadi pengayam jaring dengan upah seadanya, buruh cuci and menjual sayuran yang di tanam di pinggiran rumah. Mamak berusaha agar Banyu Biru dan dirinya bisa makan untuk hidup. Sebenarnya Mamak tak mau Banyu Biru membantu Mamak berkerja. Adalah tanggung jawab orang tua untuk bekerja menghidupi anaknya. Apalagi saat itu usia Banyu Biru belum genap 100 purnama. Tapi Banyu Biru terus membantu Mamak walau tubuh kecilnya sering terjatuh membawa beban sayuran, jaring, ataupun cucian baju yang berat. Banyu Biru berusaha membantu Mamak. Beruntung kemudian Banyu Biru diberi pekerjaan oleh Haji Mamat dengan upah sekarung beras. Banyu Biru disuruhnya membantu para nelayan sehabis pulang melaut. Mulai dari mengangkat jaring dan tali, membersihkan perahu hingga membawa ikan hasil tangkapan ke pasar.

Haji Mamat sangat menyukai Banyu Biru. Pekerjaan yang diberikan kepada Banyu Biru selalu selesai dengan baik, terlebih Banyu Biru tak pernah mengeluh. Ah, bagaimana mungkin Banyu Biru akan mengeluh, dia kan tak bisa berbicara. Jadi Banyu Biru berusaha menyelesaikan apa yang disuruh, dia belajar dari Mamak untuk berkerja sangat keras. Maka tak heran Banyu Biru menjadi kesayangan Haji Mamat. Para Nelayan juga menyukainya, kadang mereka membawa Banyu Biru di perahu mereka untuk menangkap ikan. Banyu Biru sangat sigap untuk menarik jaring, walaupun perahu kecil terkena ombak, tapi tubuh kecil Banyu Biru tak pernah terjatuh saat di perahu. Karena kemampuannya menghadapi ombak, Haji Mamat pun meminjami Banyu Biru perahu Kunting untuk melaut.

Badan Banyu Biru dulu kurus, kini besar dan berisi dengan otot, tangannya kuat mengayuh dayung di perahu Kunting sendiri ke tengah laut. Hujan dan badai tak pernah menyurutkan langkah Banyu Biru untuk melaut dan membawa pulang ikan. Banyu Biru selalu melaut ke daerah yang jauh, yang nelayan lain tak berani kesana. Di saat Nelayan yang lain tak mendapat ikan, perahu Kunting Banyu Biru selalu penuh dengan ikan. Ikan ikan yang ditangkap olah Banyu Biru juga bukan sembarang ikan, sering kali Banyu Biru menangkap ikan Hiu dan Barracuda. Pernah juga Banyu Biru pulang membawa banyak sekali kerang Mutiara. Bulat sempurna dan berwarna hitam kelam. Oleh Banyu Biru, dibuatkannya tasbih untuk Mamak. Mamak senang sekali dan tasbih itu pun tak pernah lepas dari tangan Mamak selepas Sholat. Entah dimana Banyu Biru bisa menemukan ikan dan mutiara tersebut. Mungkin Banyu Biru memiliki kekuatan ajaib.

Ada yang berkata, Banyu Biru sebenarnya adalah anak dari Nyi Roro Kidul. Karena dia lahir di laut dan keperkasaannya menaklukan lautan, hingga ikan ikan tunduk dibawanya pulang. Pernah suatu ketika saat melaut, Banyu Biru tak pulang hingga lebih dari seminggu. Mamak menangis dan terus berdoa supaya Banyu Biru pulang. Di Hari ketujuh Banyu Biru hilang di laut, Mamak memasang lampu petromaks di ujung bukit yang mengarah ke laut. Katanya supaya Banyu Biru tahu jalan pulang. Dan esoknya Banyu Biru pun pulang, sehat dan tak kekurangan apapun, bahkan ikan yang dibawanya lebih banyak dari biasanya. Orang orang heran, tak ada yang tahu bagaimana caranya Banyu Biru bisa bertahan hidup di lautan, sendiri, selama berhari hari. Ah, tapi Banyu Biru adalah anak Mamak. Banyu Biru tak tahu cara membaca bintang untuk pulang, dia hanya mengikuti hatinya untuk pulang. Ke rumah Mamak.

Rumah Mamak sudah amat bobrok, kayu kayunya bolong dan atapnya sudah doyong. Setiap di perbaiki, kembali lagi atap itu doyong terkena angin. Maka saat Haji Mamat, mengutus orang orang untuk memperbaiki rumah Mamak, Mamak menangis bersimpuh di kaki Haji Mamat. Rumah Mamak sekarang kokoh, dibangun dengan bata dan beratapkan seng. Sebenarnya rumah itu dibangun bukan dari uang Haji Mamat, tapi dari hasil upah Banyu Biru mengumpulkan ikan. Tapi meskipun demikian, Mamak dan Banyu Biru sangat berterima kasih pada Haji Mamat. Terutama Banyu Biru yang sangat menyukai lantai rumah barunya, keramik berwarna biru. Hari itu dan hari hari berikutnya Banyu Biru selalu tidur beralas keramik biru, warnanya dan dinginnya keramik mengingatkannya akan lautan.

Haji Mamat memang baik, mungkin karena itu dia meninggal sehabis Subuh di Mesjid pada hari Jumat. Orang orang berkata hanya orang baik yang meninggal di hari jumat. Tapi tak ada yang tahu kapan tepatnya malaikat maut mencabut nyawanya. Yang mereka tahu, saat jamaah Mesjid mulai beranjak pulang sehabis kajian Subuh, Haji Mamat tak juga beranjak dari duduknya. Dan saat mereka mendekat, untuk mengajak pulang ternyata Haji Mamat telah berpulang kepada sang Kahlik. Banyak yang berduka akan kepergian Haji Mamat, kesedihan yang sama dirasakan Banyu Biru. Selain Mamak, Haji Mamat adalah orang terdekatnya. Dan rupanya Haji Mamat sebelum meninggal telah mewasiatkan agar perahu Kunting diberikan kepada Banyu Biru.

Banyu Biru semakin dewasa, kemampuannya melaut dengan perahu Kunting menjadi legenda. Orang orang yang dulu menghinanya sekarang memujanya, terlebih saat Banyu Biru menolong 5 orang yang terseret ombak. Hanya seorang diri melawan ganasnya ombak disertai hujan deras. Satu persatu Banyu Biru menarik orang orang itu ke pinggir pantai, saat menolong orang yang ke 5, Banyu Biru bahkan harus berjuang melawan pusaran air. Tapi Banyu Biru tetap berusaha menolong, dia hanyak ingat pesan Mamaknya “Banyu Biru, jadilah orang yang baik”. Dan bagi Banyu Biru, menyelamatkan nyawa manusia adalah baik. Orang orang itu adalah orang asing, bukan asli dari desa Banyu Biru. Mereka adalah para wisatawan dari Kota yang ingin menikmati keindahan laut di desa Banyu Biru. Wistawan itu berlarian dan berenang di pinggir pantai. Kadang ada yang berenang hingga ke tengah laut, ada anak anak, perempuan dan lelaki. Saat tak melaut Banyu Biru jadi banyak berada di pinggir pantai. Melihat lihat, takut jika ada yang terbawa ombak lagi.

Hari itu adalah hari yang mendung, awan bergelayut manja. Biasanya di hari seperti ini akan banyak tangkapan ikan bagi Banyu Biru. Maka Banyu Biru pun bersiap siap akan melaut. Jaring dan lampu petromaks sudah disiapkan. Mamak menyiapkan bekal untuk dibawa Banyu Biru. Kali ini Mamak mengusap kepala Banyu Biru lebih lama dan membacakan salawat  muniyat. Akhir akhir ini Mamak memang berbeda, bukan karena tubuhnya memang semakin renta tapi karena berita tentang pengusuran rumah lah yang sebenarnya merisaukan Mamak.

Beberapa hari yang lalu beberapa orang berpakaian perlente datang ke rumah Mamak. Katanya mereka perwakilan dari Resort Mewah yang akan berdiri di Bukit tempat rumah Mamak berada. Saat itu terjadi adu mulut, Mamak tak biasanya berteriak. Tapi kali itu Mamak berteriak kencang mengusir orang orang perlente itu pergi. Banyu Biru kala itu sedang berada di pinggir pantai mengamati wisatawan mendengar teriakan Mamak dan berlari pulang. Saat Banyu Biru datang dilihatnya Mamak di dorong oleh salah satu orang perlente hingga terjatuh. Amarah memenuhi hati Banyu Biru, ditariknya baju orang perlente itu dan Banyu Biru siap memukul hidung orang perlente sama seperti dulu dia memukul teman sekolahnya. Tapi Mamak menahan tangan Banyu Biru, dan berbisik “Banyu Biru, jadilah orang yang baik”. Maka Banyu Biru melepaskan orang perlente itu, dan mereka pun berlari pergi.

Akhir akhir ini memang usaha nelayan tak lagi seperti dulu, semenjak Haji Mamat berpulang. Tak ada lagi penge-pool ikan yang berani memberikan imbal harga ikan seperti Haji Mamat. Hasil tangkapan ikan dihargai sangat murah, Nelayan tak lagi bisa hidup dari hasil tangkapannya. Orang kaya hanya berpikir untuk mengembungkan uang mereka dengan menekan para nelayan miskin.  Hingga akhirnya banyak nelayan menyerah dan mulai menjual tanah milik mereka kepada resort mewah. Kalaupun tak menjual, para Nelayan setuju akan pembangunan Resort mewah yang diharapkan bisa menjadi sandaran ekonomi yang baru bagi mereka.

Tapi karena Rumah Mamak tak mempunyai surat surat resmi, rumah Mamak harus digusur tanpa uang pengganti. Ah, rumah itu kan dulu dibangun untuk tempat berlindung. Mana Mamak tahu urusan surat dan hak milik? Mamak merisaukan bagaimana jika rumah benar benar digusur. Umur Mamak mungkin hanya tinggal satu atau dua tahun lagi. Tak masalah jika memang harus kehilangan rumah, tho sebentar lagi Mamak akan pindah ke rumah abadinya. Tapi bagaimana dengan Banyu Biru? Memikirkan Banyu Biru nantinya harus hidup sendiri, tanpa rumah, tanpa Mamak, membuat Mamak sedih. 

Malam itu, Banyu Biru mulai mendayung perahu Kuntingnya menuju tengah laut. Mendung, membuat Bulan saat itu tertutup awan, tak ada Bintang, penerangan yang ada hanyalah lampu petromaks yang di bawa Banyu Biru. hening, tak ada debur ombak. Saat menarik jaring pertama, Banyu Biru melihat  air laut berubah menjadi darah, ikan ikan di jaring entah mengapa semua berlumuran darah. Secara reflex, Banyu Biru pun mendayung pulang. Menemui Mamak.

Banyu Biru berlari saat melihat rumah di pinggir bukit dilalap api. Orang orang berkerumun di depan Rumah Mamak, mereka berteriak teriak, salah seorang warga memberitahu Banyu Biru bahwa Mamak masih di dalam rumah, maka Banyu Biru pun berusaha menerobos masuk ke dalam rumah untuk mencari Mamak, tapi pintu rumah seakan menjadi gerbang api yang menari nari, Banyu Biru bisa merasakan  keramik biru kesayangannya yang biasanya dingin kali itu panas membakar telapak kaki Banyu Biru. Kobaran api semakin besar, panasnya semakin mengelora, terdengar suara kayu di atap mulai berderik, sesaat sebelum atap rumah roboh, warga menarik Banyu Biru mundur, dan menahannya. Brak ! atap rumah pun ambruk, dan percikan api bertaburan di gelap malam.  Seperti pesta kembang api, hanya kali ini tak ada tepukan meriah.

Banyu Biru hanya terdiam melihat rumah Mamak terbakar habis di depan matanya. Beberapa warga, menepuk bahunya. Beberapa memeluk Banyu Biru. Mereka mengucapkan kata “sabar” dan simpati pada Banyu Biru. ah..tapi pelukan dan simpati tak akan mengurangi sedih Banyu Biru kehilangan Mamak. Beberapa warga berbisik sendiri, kebakaran ini pasti ulah Resort mewah itu.

Saat Azdan Subuh, hujan mulai turun dan di pengujung waktu dhuha api pun padam. Banyu Biru beranjak dan mencari Mamak. Dia mengais tumpukan abu bata dan kayu. Beberapa kayu dari penopang atap seng masih memercikkan api. Di bekas kamar Mamak, seongok tubuh hitam, tampak meringkuk seperti bayi, ukurannya tak lebih seukuran bola pilates. Banyu Biru menunduk melihatnya. Dilihat tangan Mamak masih memegang Tasbih Mutiara. Saat Banyu Biru menyentuhnya Tasbih itu hancur seperti debu. Banyu Biru tak bisa membayangkan bagaimana Mamak melalui panas api. Air Mata Banyu Biru mulai menetes, teringat Mamak yang menghapus air matanya, mengusap rambutnya dan membacakan doa untuknya. Banyu Biru lalu membopong tubuh Mamak, masih dirasakan tubuh itu panas. Banyu Biru terus membopong Mamak menuruni bukit. Warga yang melihat hanya bisa saling memandang, menahan nafas, sebagian ada yang menangis tapi tak seorangpun berani menghadang Banyu Biru.

Banyu Biru terus berjalan menuju perahu Kunting nya. Meletakkan Mamak, dan mulai mendayung menuju Laut yang kini berwarna merah darah hingga tak terlihat lagi.

Epilog :
Resort mewah itu pun berdiri. Di hari pertama peresmiannya, secara tiba -tiba terjadi kebakaran yang hebat yang meluluhlantakan seluruh resort. Semuanya hangus dan hitam. Saat mereka mulai membangun dan meresmikan resort lagi untuk ke dua kalinya, resort itu pun terbakar kembali…


Warga berbisik, ini pasti Kutukan Banyu Biru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake