Haji
Ada seorang teman yang ikut agent Umroh dan Haji, dan hampir
saban minggu dia meng-update WA saya dengan acara seminar Umroh dan Haji.
Istilahnya “cara mudah menuju Baitulloh”, keren banget wes lah kata2nya. Atau,
“kalo niat yang harus ada action”, actionnya ya yang mbayar 3.5jt itu
loh…masalahnya saya kog ga sreg ya kalo mo naik Haji kog kudu nyari temen, trus
tar dapet nilai komisi dan bahkan nanti bisa umroh dan Haji gratis. Uh tapi kog
bagi saya jadinya naik Haji berasa kayak ikut MLM
Anyway terlepas dari pembiayaan Haji, saya pribadi merasa
banyak pertimbangan kenapa saya belum juga menunaikan panggilan Allah…
Dulu sempat saya marah2 sama seorang teman gara2 dia
mengingatkan saya untuk pergi Haji, ah teman saya ini padahal baik loh
mengingatkan (sekarang saya jadi merasa bersalah)
tapi saat itu dan bahkan hingga kini, saya ga bisa
menjelaskan pertimbangan saya…
Namun menerima WA setiap minggu
untuk menunaikan Haji rasanya membuat saya underpresure dan ingin nyerocos
tentang pertimbangan saya
Ah Teman, tahukah kamu…
Mertua saya bahkan sudah 2x naik Haji, Haji yang ke2 untuk
menunaikan Haji bagi kedua eyang buyut suami. Dan terakhir 2 tahun lalu mereka
malah Umroh saat bulan Haji. Percayalah pressure untuk naik Haji dari keluarga
suami jauuuhh lebih kuat daripada WA2 yang engkau kirimkan…tapi pergi Haji
bukan semata jalan2 lalu pulang, hikmah sesudah Haji dimana seseorang harus
berubah menjadi yang lebih baik. Dan saya mungkin belum siap berubah untuk
penampilan. Jilbab yangs aya pakai masih sama dengan jilbab yang 16 tahun lalu
saya kenakan. Model segiempat lama, bukan jilbab syari kelinyir kelinyir yang
lagi mode. Baju yang saya kenakan dari dulu juga masih celana panjang, ga kuat
panas kalo saya harus bergamis2 ria…
oke…pertimbangan ini pertimbangan ga penting, super picik
sekali pemikiran ini…#abaikanpointini
ps : harusnya paragraph ini di delete, tapi biarlah wong
emang ini juga salah satu pertimbangan yang ga penting hihihi
Sekarang serius, ini yang membuat
saya hingga kini merasa berat..
Bukan saya tak memimpikan untuk bertakbir di Masjidil Haram,
hanya rasanya tak tega bagi saya jika tak berkabar dengan orang tua.
Ah ya, orang tua saya. Alhamdulillah keduanya masih sehat,
papa saya berumur 73 tahun dan mama 62 tahun. Mereka tinggal di Purwokerto,
saya di Bogor. Jika lewat CIPALI masih harus menempuh 6 hingga 8 jam
perjalanan. Sebagai anak, saya masih menyesali diri karena hingga kini saya
belum bisa menemani mereka, pernah mencoba saat lahiran Mikail untuk pulang dan
menemani mereka tapi ya cuman bertahan 3 bulan abis itu “diusir” sama orang tua
gara2 suami sendirian di Bogor dan mulai sering tepar karena harus PP di kala
weekend. Ah, semoga doa saya supaya suami diberikan rejeki di daerah
Purwokerto, segera diijabah sama Allah…amienn.
Lalu kenapa saya ga berdoa saja di depan Ka’bah biar doa
saya segera di ijabah Allah? Nah itu…papa mama saya belum Haji. Bahkan sebelum
nikah saya sudah menawarkan mereka untuk naik Haji, mereka jawab “kamu nikah
dulu aja”, setelah menikah kembali saya tawarkan, jawabannya bikin saya
nyesek…”papa mama ga ingin naik Haji, kalau punya uang 100jt mending diwakafkan
buat bikin mesjid”. Mati kutu deh..
Saya tak tahu pasti alasan papa mama saya tak mau pergi
Haji, mungkin alasan karena Kakak saya yang pertama pindah agama membuat mereka
merasa tak pantas untuk pergi Haji. Ah saya tak tahu… Apalagi mama saya rasanya
anti sekali sama orang yang bertitle Haji. Ada tetangga yang sudah Haji, tapi
mungkin prilakunya tak mencerminkan agamanya, hasilnya mama saya suka nyap nyap
tentang tetangga saya ini…belum lagi karena sifat keras saya yang hingga kini
tak mau bertemu dengan kakak saya yang pindah agama (ceritanya lain kali aja
tentang ini, bakal panjang dan menguras emosi, halah..) tapi yang jelas gara2
sikap ini saya dibilang Islam aliran keras, di anggap orang tua menjurus ke
teroris (padahal solat aja masih belom bisa ontime, hiks..)
Hingga intinya saat saya mo mengajak Haji endingnya selalu
dikembalikkan dengan kata2 yang kurang lebih begini “wong kamu aja ga mau baikan
sama Mba mu mo ngaya2 jadi Haji”, jiah…pusing pala berbi
Saya ga mau orang tua saya tersakiti lagi, tidak lagi dan
jelas bukan oleh saya. Saya mungkin bukan anak yang sempurna, masih suka
berdebat sama papa mama saya, ngeyelan, belom bisa njagain atau memberi yang
terbaik dari saya. Tapi setidaknya saya mencoba untuk tidak menyakiti orang tua
saya dengan masalah “Haji”. Saya ga bisa membayangkan jika saya meminta ijin
bahwa saya akan pergi ber Haji dulu, mereka pasti mengijinkan tapi hatinya…ah.saya
tak mau melihat mama saya menangis diam2 lagi, sungguh tak ingin…
Setidaknya saya sekarang sudah merencanakan untuk menyiapkan
2 kali naik Haji, sama seperti mertua. Jadi karena orang tua saya tak ingin
ber-Haji ,kelak saya dan suami lah yang akan menunaikan Rukun Islam ke 5 untuk
mereka…Tapi jangan lah doakan supaya kami bersegera naik Haji, ijinkan saya
menikmati waktu lebih lama bersama orang tua saya lebih dulu… karena saya tak akan berani melangkahi orang
tua saya untuk pergi ber Haji terlebih dahulu…
Ya Allah, Engkau tahu berapa merinduku
Tapi juga Engkau tahu kegalauanku
Bukan aku tak mau mengikuti panggilanmu
Tapi jika aku harus mengabaikan orang tua ku di dunia
Maka Engkau lah yang berhak menentukan langkah yang tebaik
untuk ku dan kedua orang tuaku
Ps : saat ini lagi menabung dan menabung supaya bisa cukup
untuk pergi Haji 4 orang sekaligus, semoga saja menemukan jalan biar bisa
merayu papa mama untuk barengan pergi Haji, amien….
Komentar
Posting Komentar