Sang Bidadari
15 januari 2005
" Yang ini namanya
Latifah"
Ibu menyodorkan selembar foto
padaku. gadis berkerudung biru. cantik. tampangnya agak ke arab arab-an.
" Dia anaknya Haji Masyur,
baru lulus kuliah di UGM "
" Kalau yang ini namanya
Rahmania, anaknya bu Syaiful. tetangga kita. dia masih kuliah di kedokteran
undip. kamu mungkin ga pernah lihat dia, soalnya smp dan smu nya di pesantren
tasik. namanya apa Ibu lupa " Ibuku masih nyerocos. menceritakan gadis
gadis yang ditawarkan padaku. umurku 27 tahun. kata Ibu sudah waktunya
menikah.maka beliau hari ini khusus mengunjungiku ke jakarta, membawa sebundel
foto gadis gadis yang akan dijodohkan kepadaku.
" Ndro..yang mana ? " ada
5 foto dijejerkan di depanku.
" nanti aja lah Bu..."
" kog nanti...? kamu itu udah
harus nikah. anak ibu cuma kamu. Ibu kan juga pengen nimang cucu. Bu Darmawan
tetangga sebelah rumah cucunya sudah 4, Bu Pri sudah 6..."
aku beranjak dari sofa, mencium
kening Ibuku
" Endro sholat isya dulu Bu
"
diluar masih hujan rintik. dari kemarin
Jakarta selalu diliputi mendung. begitu juga hatiku. aku juga ingin menikah.
mendamba seorang istri. tinggal sendiri itu itu sepi. tapi jika hati ini belum
tertaut, aku harus bagaimana ?
18 Januari 2005
" selamat pagi " aku
menoleh. seorang gadis bertampang chinese dengan rambut sebahu. dia anak baru
di divisi ku. namanya siapa aku lupa.
" pagi juga "aku membalas
sapaanya.
" gimana weekendnya ? "
" baik " aku menjawab
malas malasan
" hey, kog ga semangat gitu.
ayo semangat. ini kan hari senin "
dia berkata sambil menepuk punggungku.aku berusaha berkelit. tapi kena juga, tepukannya cukup keras. dia
benar benar gadis yang energik.
" SAL..selamat pagiii! "
aku hanya menghela nafas, anak ini benar benar semangat. Faisal, salah satu
eneegering di divisi kami, membalas sapaan gadis ini dengan lambaian tangan.
sebelum masuk ke gedung the lanmark center. kami berjalan seiringan, menuju
kantor kami. sebelum menuju pemeriksaan satpam, dia tampak heboh mencari
sesuatu dalam tasnya. mukaya tampak terlihat panik.
" nyari apa ? " akhirnya
aku bertanya
" kartu karyawanku ga ada
" dia masih panik, mengubek ubek tasnya.
" eh, tolong pengangin ini
" aku kaget, tiba tiba saja dia mengeluarkan agenda tebal. handphone,
dompet. novel laskar pelanggi.semacam ikat rambut..
" ahaa..ketemu " dia
menunjukan kartu tanda karyawannya sambil tersenyum lebar. manis.
" ngapain juga harus pake
kartu karyawan, lo kan kerja disini sudah lama ". sebelum dipindah ke
divisiku, dia bergabung dengan divisi mechanical selama 2 tahun. tapi karena
kinerjanya dinilai bagus, maka dia di transfer ke divisi elekrikal sebagai
thecnical profesional.
" yaaa, gapapa...tar kasian
aja ma satpamnya. nanti dia dimarahin sama atasannya kalo ketahuan mengijinkan
orang masuk tanpa kartu identitas "
" tapi dia kan sudah kenal ma
elo" kening ku berkerut.
" iya sih, tapi kan tugasnya
dia untuk mengecheck setiap karwayan yang masuk sudah dengan kartu identitas
apa belum, kasihan kalo dia tidak bisa melaksanakan tugas gara gara gue ga
nunjukin kartu karyawan gue..."
aku bengong, baru kali ini ada
orang yang berpikir seperti itu. selama ini, teman temanku malah malas untuk
menunjukan kartu karyawan mereka. tapi gadis ini malah mau berepot repot supaya
satpam itu tidak kena marah.kalau teman temanku yang lain, hanya akan berkata
" emang gue pikirin.."
maka hari itu , aku mulai memanam
kekagumanku.
21 Maret 2005
" Loh, Ndro..lo ga sholat
jumat ? "
aku kaget. kulirik jam tanganku.
hampir jam 12. waktu bergerak cepat tanpa aku sadar. aku buru menganti
sendalku. di lantai 6 ada mushola, biasanya kita berjaamah disitu.
" Faizal ma Toni mana ya ?
"
" mereka kan udah duluan,
katanya mo cari makan siang dulu baru jumatan "
" Ok, gue turun dulu ya "
dan aku meninggalkan dia. satu
satunya mahluk berjenis kelamin wanita di divisi ku. Christin.
akhir akhir ini aku terus saja
kepikiran dia. sebagai satu satunya cewek di divisi kami, Christin berhak untuk
dimanja. tapi Christin bukan anak manja. sikapnya yang independen malah
membuatku salut. dia rela saja bekerja begadang bersama kami. tidak pernah
mengeluh. bahkan selalu menjadi motivator di divisi kami. opininya selalu
menakjubkan, dia mampu menganalisis semua permasalahan dari semua segi. manager
kami Pak Broto pun kelihatan sekali sangat menyukainya. maka total ada 8 orang cowok
bergantung padanya. setiap pagi, Christin selalu membuatkan kami minuman.
setiap orang akan ditanyakan apa yang diinginkannya. tidak pernah ada kata
salah order, takarannya gulanya pun selalu tepat. biarpun di tempat kami ada
office boy, tho dia dengan rela mau menyiapkannya buat kami. plus dia selalu
membawa kue kue hasil bikinannya. maka 2 bulan semenjak Christin bergabung
dengan kami, hampir semua di divisi elekrikal berat badannya naik.
" Ndro...tar jadi kan ikut
karaokean ? " tiba tiba saja Christin bertanya.
" suaraku lagi ga enak nih
" aku mengelak.
" alah, dari dulu suara lo
emang jelek, ga usah bilang suramu lagi ga enak juga tetap bakal jelek..."
" Toni! ga boleh bilang gitu.
Ndro..beneran suaranya lagi ga enak? ke poliklinik deh..minta obat, jangan
jangan kamu kena radang ? " sentuhan tangan Christin di bahu ku serasa
memberikan strum 1000 watt.
" ehm.." aku mengerakan
badanku, mencoba melepaskan jemari itu " gue ga papa kog, Chris.."
" huh..Endro enak bener sih,
selalu diperhatikan ma Christin " tiba tiba saja kata kata dari Toni
muncul diantara kami. seketika jemari putih terlepas dari pundakku. aku
melihatnya serba salah.
" elo jeles ya Ton..?"
tuduhku
" ya iya lah...Christin kan
bagaikan bidadari yang turun dari surga buat kita kita...dia milik bersama,
dilarang dimonopoli" sahut Toni, sambil merangkul pundak Vhristin
" betul kan Christin
bidadariku " pertanyaan Toni, langsung mendapat jawaban jitakan di
kepalanya. seluruh ruangan tertawa. tapi hatiku mulai bertanya, apakah Christin
akan menjadi bidadari bagi kami semua ?
31 April 2005
aku tidak bisa tidur. tadi aku
mengantarkannya pulang. hujan yang begitu deras dan jarum pendek sudah
menunjukan angka 11. tidak mungkin aku membiarkannya pulang sendiri. Faisal
tadi pulang lebih dahulu, perutnya sakit. maka hanya aku dan Chrsitn yang
lembur di kantor.sepanjang perjalanan kami bercerita tentang hal lucu. semua
topik seakan "nyambung" dengannya. perjalanan sudirman - tb
simatupang terasa sangat pendek. akhir akhir ini aku terus memikirkannya.
pagi tadi Ibu bertanya, gadis mana
yang akan aku pilih. dalam bayanganku, mengapa yang hadir malah Christin ?
6 Mei 2005
" ndro..ayo cepetan " Pak
Broto mengusirku dari meja kerjaku.
" Iya Pak, bentar lagi "
aku menutup emailku. dan mulai men shut dwon comp ku. kemarin Chistin mendapat
musibah.tas nya di jambret di dekat rumahnya dan dia dipukul kepalanya.
untungnya ada tetangga yang menemukannya dan membawa ke rumah sakit. kami ingin
menjenguknya.
kami sampai di rumah sakit 1 jam
kemudian. macet total. iringan mobil yang dikendarai Faisal datang paling
akhir. aku ke dua. pak Broto di mobil pertama. rumah sakit itu tampak lenggang,
baru jam 4. pak Broto mengijinkan kami untuk pulang cepat khusus untuk
menjenguk Chistin. kami mecari ruangnya pavilun Violet 102. seorang Ibu paruh
baya duduk di teras bersama seorang pemuda di depan pavilun itu.
" Bapak bapak ini teman
kantornya Christin ya ? " sapa Ibu paruh baya itu
pak Broto sebagai manajer kami
langsung menjawab iya.
" wah, makasih sudah mau
datang. Christin nya masih tiduran di kamar "
" Christin tidak apa apa kan
Bu ? " aku tak kuasa untuk bertanya
Ibu nya Christin tampak
mengamatiku, aku mulai rikuh.
" ini pasti Endro? "
" eh..iya.." aku serba
salah
" Christin suka
bercerita..." suara Ibu nya Christin terasa ada tekanan
" Christin tidak apa apa, tadi
sudah di CT scan, hasilnya bagus, tidak ada pendarahan dikepalanya "
pemuda yang bersama Ibunya Christin yang menjawab.
" gue Dennis, kakaknya
Christin " pemuda itu berkata sambil mengulurkan tangannya. aku
mengengamnya, terasa tekanan dalam gengamannya. aku mulai merasa tidak enak.
kemudian Denis pun berkenalan dengan rekan kerja ku yang lain.
" mari, silahkan masuk.."
lanjut Ibunya Christin
maka kami masuk berurutan, aku yang
paling terakhir. saat aku masuk dia menyapa lirih
" Ndro..."
aku mendekatinya, Chistin tampak
tergolek lemah. air matanya turun, baru pertama kali aku melihatnya menangis.
nalurikuku ingin menhapus air matanya, aku tak tahu bagau mana, tapi yang
kurasa bahwa jemarinya mengenggam tanganku sepanjang kunjungan itu. aku diam,
tak melepaskannya. dan tak ingin melepaskannya.
9 Agustus 2005
" lo suka ma Christin kan ?
"
" ndro , gue nanya..lo suka ma
Christin kan ?"
aku masih diam, pura pura tidak
mendengar pertanyaan Faizal. diantara rekan kerjaku, memang yang paling dekat
denganku adalah Faizal.
" Ndro..ga usah pura pura
budek deh " nada suara Faizal mulai keras.
" gue ga tau " aku tidak
bohong, aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku pada Christin
" gimana lo ga tau? semua
orang udah tau tentang kalian. gue ga setuju lo ma dia " aku bisa
merasakan emosi di kata kata Faizal.
" gue bener bener ga tau perasaan gue " aku berkata sambil
menatap Faizal. ku buarkan dia menyelami mata hatiku yang juga dalam
kebimbangan.
" inget Ndro...dia beda ma
kita ! "
aku hanya diam. Faizal beranjak
pergi. aku menekunin kembali angka angka martikulasi. tapi rasanya sekarang
semua angka angka itu berputar. aku
kesal.
semenjak kejadian Christin masuk
rumah sakit, aku selalu mengantarkan Christin pulang kerumahnya. aku merasa
tidak rela jika nantinya terjadi lagi hal yang tidak enak kapada Chistin. gara
gara itu, rekan kerjaku mulai bergosip.
aku tidak memungkiri bahwa aku
nyaman bersamanya. sebelum aku mengantarkannya pulang , kami selalu main
terlebih dahulu entah itu mampir mencari makan malam atau sekedar mencari buku.
aku bahkan pernah 2 kali membawanya ke rumahku, walaupun habis itu aku harus
mengantarkannya pulang kembali. rasa capek sewaktu mengantarkannya rasanya
sebanding dengan rasa yang kudapatkan sewaktu bersamanya.
maka aku tak tahu, apakah aku mulai
mencintainya ?
18 january 2007
" besok sabtu ke Dufan yuk
"
" mo ngapain ke Dufan? "
" pengen nyoba Tornado "
aku hanya tertawa
" kebawa iklan lo " aku
menyentuh rambutnya. rambutnya halus. mungkin lebih halus dari model iklan
pantene. aku tak tahu bagaimana perasaanku kepada Christin. semakin aku mencari
tahu, yang ada hanya semakin banyak pertanyaan. maka aku mencoba menikmatinya
saja. 2 tahun kami bersama, tanpa ada kata komitmen tanpa ada pernyataan. yang
ada hanya tahu sama tahu. Faizal tak pernah menyapaku lagi, dia memutuskan
pindah divisi. baginya keyakinan adalah yang utama. bagiku, aku memuja cinta.
Ibu ku dan Ibunya Christin hanya menangis. tapi aku dan Christin bahagia. itu
saja sudah cukup.
Komentar
Posting Komentar