THE DEVIL IS MY BOSS

" Kamu ini bisa bahasa inggris gak sih ??!!"
" Email kayak gini aja bisa salah persepsi !!! Kamu harusnya baca dan pahami, kalo masih gak ngerti juga, buka tuh kamus !!!"
" Sudah berapa kali dibilangin, kamu itu bukan tukang pos, kalo ada email atau package harus dicheck dulu !!!"
Semburan kata kata dari managerku Mba Lita, membuat hampir 20 pasang mata diruangan kami memandang kepada kami. beberapa orang berbisik bisik, mungkin sedang mengasihaniku. Aku hanya diam dan pasrah menerima 'santapan pagi' ku, jika dibantah Mba Lita akan makin naik darah. Setelah 15 menit mendengarkan ocehannya akupun beringsut ke mejaku. Tepat di depan meja mba Lita!
" Tri, nanti sebelum kamu kirimkan emailnya, kamu harus discus dulu ! " ternyata masih ada sambungannya. Aku membalikkan kursiku, menghadapnya dan hanya bisa menjawab " baik mba "
------------------------------
" Lo, tadi kenapa lagi " Hani bertanya
Kali ini kami bertiga, aku , Hani dan Nia makan siang di kantor. Kami selalu makan siang bersama, kebetulan kami tinggal 1 kostan dan selalu membuat bekal bersama. Ini salah satu upaya kami untuk mengurangi biaya hidup di kota Jakarta.
" Gila ya maknyak lo, kalo marah ga ngerti situasi ma perasaan orang " Nia menimpali
" Suara maknyak lo itu ampe kedengeran di ruang gue loh " Nia masih menyambung, untuk informasi saja, ruangan Nia dan ruanganku itu berjarak 30 meter.
" Haah..yaa githu deh.." hanya itu yang bisa kujawab.
" Tiap hari gue selalu denger maknyak lo itu njerit njerit ga karuan. kalo ga ama lo, ama Lola. heran, deh emang kalian o'on banget ya..?"
" Bukannya o'on, Ni..maknyaknya Tria aja yang emang kelebihan hormon marah. Ga dapet jatah dari suaminya sih" Hani membelaku
" Soalnya gue juga pernah kena semprot ma maknyaknya Tria tuh..sakit ati banget deh gue. anti gue mo ke ruangnya Tria lagi!" sambung Hani
Managerku Mba Lita berusia 42 tahun, anaknya 3 perempuan semua. Suaminya bekerja di China. Secara profesional, dia cukup hebat, maksudnya untuk mencari klien dan pabrik dialah yang terbaik. Perusahaan kami bergerak di garment. Buyer Agent istilah kerennya. Kami mencari order dari luar negeri dan mencari pabrik yang bisa memproduksinya. Dia merupakan orang lama di garment dan merupakan kesayangan dari bos kami. Tapi untuk masalah perilaku, aku merasa Mba Lita memiliki 2 topeng, topeng yang baik yang selalu digunakan terhadap klien atau bos kami dan topeng jahat untuk kami anak buahnya.
Aku sendiri baru berusia 5 bulan diperusahaan ini, hingga mau tidak mau harus menyesuaikan dengan lingkungan dan dengan karakter atasan. Pada hari pertama saat mba Lita menyemprotku, kurasakan dunia ku runtuh. Egoku bermain. Dulu di perusahaan lama di Surabaya, mana ada orang yang berani membentakku. Statusku yang lumayan justru membuatku bisa untuk menyemprot orang. Hingga rasanya 1-2 bulan pertama like in hell untukku. Tapi lama kelamaan, who cares!! Aku butuh untuk hidup, dan gaji di perusahan ini cukup besar untukku melanjutkan hidup ku dan keluargaku. Maka setiap mba Lita menyemprot aku pun membiarkan telingaku tertutup.
------------------------------
tit..tit...sms masuk
from : 08121122333
Tria, hari ini aku ga masuk. anakku sakit.
Wah...mba Lita ga masuk lagi. Padahal minggu kemarin dia baru saja cuti 2 hari karena suaminya datang dari China. Emang enak jadi manager, bisa cuti seenaknya.
" Lol, hari ini mba Lita ga masuk ya " aku menginformasikan Lola, teman sekerjaku. Dia lebih senior dari aku. Dulu katanya sebelum aku datang, dialah korban semprotan mba Lita yang paling parah.
" Ga masuk lagi..huh..enak kalee ya..."  sahut Yanti.
" Alasannya apa lagi , Tri ? "  tanya Shierly
Maka kami pun langsung berkumpul di mejaku, 5 orang bawahan mba Lita membahas absennya mba Lita.
" Enak banget banget sih, kemaren waktu anak gue sakit, dia malah nyuruh gue masuk trus anak gue disuruh dititipin ke mertua gue, giliran anak dia yang sakit dia langsung cuti " Lola mulai merutuk perbedaan nasibnya.
" Dia emang gitu Lol, selalu mau menang sendiri" Shierly yang paling muda diantara kami, tapi dia sudah bergabung dengan perusahan ini selama 4 tahun.
" Udah deh, ga usah dibahas. Kita emang kayak gitu. Biar dibahas juga, dia ga akan sadar " Susi, adalah orang yang paling kalem diantara kami. Dia juga yang paling lama bekerja di perusahaan ini. Mba Lita pun memperlakukan Susi, Yanti dan Sheirly berbeda dengan aku dan Lola. Mungkin karena Mba Lita baru masuk setelah Susi, Yanti dan Sheirly.
------------------------------
Aku menulis email kepada 2 sahabatku Hani dan Nia
“ Hi..mumpung maknyak gue ga masuk ne, nanti kita pulang cepet trus belanja ke Hero yuk”
Sesaat kemudian Hani mereply “ Maknyak lo kemana ? bukannya minggu kemaren dia udah cuti ? “
Aku kemudian membalas email Hani “Anaknya sakit. biasalah, dia kan hobi cuti. nanti gue pengen beli tomat euy, telor juga udah abis. pokoknya belanja makanan deh :D “

Kemudian aku mendapatkan email dari Nia bersamaan “Dasar tukang makan! ok, tar jam 5 langsung tengo. no delay!!! “
Aku tertawa. Nia mengalami trauma berat dengan mengatur janji denganku. Nia bekerja di bagian HRD, jadi bisa dikatakan pekerjaannya jauh lebih ringan dibandingkan aku sebagai merchandiser ataupun Hani yang menjadi technical support. Dalam 10 kali membuat janji, 9 diantaranya selalu aku cancel karena kerjaan. Ini selalu membuat Nia kesal denganku. Tapi untung, hingga hari ini Nia masih sabar menghadapiku, walaupun dengan sedikit marah marah.
Berikutnya aku mendapat email confirmasi dari Hani “ OK “

Aku membalas email dengan cepat, “Oke deh..nanti kita semua pulang cepet jam 5, kita ke Hero trus nanti malam kita masak :D”.  Aku tersenyum, membayangkan nanti bisa pulang cepat, rasanya adalah sebuah kenikmatan. Maklum saja, selama bekerja di New Fashion aku baru bisa pulang jam 5 dalam hitungan sebelah tangan.
------------------------------
Jam lima, aku sudah membereskan mejaku dan mematikan komputer. Teman temanku yang lain juga sudah pulang. Tinggal Susi di mejanya, dia selalu menunggu suaminya yang juga bekerja di New Fashion untuk pulang bersama. Biasanya mereka pulang jam 6.
" Sus, gue pulang duluan ya.." aku memberi salam
Susi hanya mengangkat bahunya.
Aku berjalan cepat, menuju ruangan Nia. Hani sudah menunggu disana. Tiba tiba handphoneku berbunyi, caller id menunjukan Mba Lita. o..shit! aku mulai merasa tidak enak. Aku mengangkatnya.
" Ya mba, ada apa ?"
" Tria, kamu masih dikantor kan "
" Masih, tapi saya sudah mau pulang mba "
" Jangan pulang dulu. Tadi aku ditelpon Melanie buyer Esprit, dia minta dikasih harga untuk article summer. Kamu buatkan untuk Melanie, semua datanya ada di mejaku, kamu tinggal merekapnya saja!" dan kemudian telpon ditutup.
shit..shit..!!! aku benci mba Lita. hatiku tambah ingin berteriak marah. Disana, diruangan HRD, Nia dan Hani menungguku.
------------------------------
" Dingin banget sih , remote AC mana sih ? " Lola heboh mencari remote AC untuk mengecilkan AC.
Hari ini hujan, membuat suasana menjadi semakin dingin. Sudah 2 minggu lebih hujan terus menerus menguyur Jakarta. Padahal seharusnya bulan ini masih dikategorikan sebagai kemarau. Hujan yang terus menerus membuat banjir di berbagai tempat, untung kantor kami tidak ikut terendam. Tapi banyak pabrik kami yang harus menutup pabriknya karena terendam banjir. Aku sedang sibuk menelpon ke salah satu supplier kain, saat handphoneku berbunyi. Bapak Ibu.
" Pak, nanti saya call lagi ya. Makasih " buru buru aku menutup telpon. Tumben tumbennya orang tuaku menelpon di jam kerja. Mereka tinggal di Banjarnegara, Jawa Tengah berjarak  12 jam perjalanan naik bis.
" Hallo? "
" Tria ? " suara Ibu ku, pelan, seperti ingin menangis.
" Ibu? ada apa Bu ? kog nelpon siang siang ? " aku bertanya cepat. feelingku tidak enak
" Tria..bapak sakit. cepet pulang ya. Ibu takut.." ibu ku mulai menangis. aku panik. aku cuma 2 bersaudara. Kakak laki lakiku, tinggal di Kalimantan, menjadi kontraktor bangunan.
" Bapak sakit apa Bu ? udah ke dokter ? udah minum obat blom? " aku membrondong ibu ku dengan pertanyaan. Aku panik. Bapak ibuku cuma tinggal berdua di Banjarnegara. Kami tidak punya saudara yang lain.
" Bapak..., sudah ibu masukkan rumah sakit.sekarang di ICU... tapi pagi.... bapak pingsan... waktu mau subuh, tadi Ibu minta tolong ...pak Darso ...buat mengantar bapak " Ibu menjawab di sela sela tangisnya. aku membayangkan paniknya Ibuku saat Bapak pingsan, pasti beliau mengedor pintu pak Darso tetanggaku di waktu subuh. Aku mulai merasa bersalah, mengapa aku tidak berada disana saat Bapak sakit.
" Ibu tenang ya..nanti Tria pulang ke Banjar hari ini"
Ibu masih saja menangis
------------------------------
Aku akhirnya berhasil meyakinkan kakakku, mas Bowo untuk pulang ke Banjar. Usia Bapak yang sudah 63 tahun, membuat kami panik memikirkan apa yang bisa terjadi pada Bapak. Aku juga langsung memesan tiket pesawat ke Semarang, untung Nia mempunyai kenalan di Garuda yang bisa memberikan tiket. Nanti dari Semarang aku akan menyambung bis ke Banjarnegara. Disela sela panikku, Lola membantuku untuk membuat list pending pekerjaanku. Aku harus mengambil cuti, dan pekerjaanku harus aku delegasikan pada rekan kerjaku. Lola berbaik hati untuk memback up kerjaanku.
" Aduh..mba Lita mana ya ? " aku mulai panik mencarinya, sedari tadi aku belum menemuinya, tadi katanya dia meeting antar para manager. Aku belum memberitahu bahwa aku ingin mengambil cuti.
" Udah, elo konsen ma list lo dulu. Rampungin, trus entar lo langsung pulang. Biar kita yang bilang ke mba Lita kalo lo pulang ke Banjar" Lola berusaha menenangkanku. Kemudian Hani dan Nia datang menghampiri.
" Tria, gue dah aturin taxi buat nganterin lo ke bandara "
" Ini juga sedikit uang buat jaga jaga " Nia menyerahkan amplop berwarna coklat kepadaku. aku tercengang.
" Udah, lo ambil aja. Semalem kan elo bilang blom ambil uang kan? ini pake uang kita dulu. taxi ke bandara pasti lumayan mahal" sambung Hani. Aku akhirnya tidak tahan untuk menangis, Nia, Hani dan Lola telah begitu baik.
" Yaah..kalian neh, ngangguin aja. tar dia ga bisa bikin pendingan kerja lagi" protes Lola.
" HP gue aktif terus jadi kalo ada apa apa lo bisa hubungin gue” Aku menyerahkan pending list ku pada Lola, dan siap berangkat saat aku melihat Mba Lita keluar dari ruangan meeting.
" Eh, mba Lita udah selesai meeting, gue kesana dulu pamitan dulu ya.."
" Udah, ga usah, Tri..tar gue yang bilang juga gapapa" Nia berusaha menahanku.
" Ga enak, lebih baek kalo  ijin ma dia, dia kan tetep managerku " aku melepaskan tangan Nia, dan mulai berlari kecil menuju mba Lita.
------------------------------
" Mba..mba Lita " aku berusaha memangil mba Lita. Dia masih berbicara dengan Nieke, manager dari divisi sweater.
" Ehm, kenapa Tria ? " mba Lita membalikkan badannya, kami saling berhadapan.
" Ini mba, saya mo minta ijin. Saya mau pulang ke Banjarnegara. Tadi saya dapat telpon, ayah saya masuk rumah sakit. jadi saya mau kesana" aku menjelaskan dengan cepat " Oya, saya sudah memberikan pendingan saya kepada Lola, nanti Lola akan membantu saya. Hp saya juga akan saya aktifkan terus, jadi kalau ada apa apa saya masih tetap bisa dihubungi " aku menambahi
" Bapak kamu sakit? belum mati kan ? lalu buat apa kamu pulang? " suara mba Lita begitu dingin. Aku sampai tidak percaya pendengaranku.
" Maaf mba ?"
" Kerjaan Lola banyak, mana bisa dia bantuin kamu. nanti tambah kacau lagi kerjaan dia. kamu pulang kalau Bapak kamu mati saja " dan kemudian dia berjalan melewatiku disertai mba Nieke.
" Apaan tuh, Bapaknya sakit aja dia minta cuti..!! " kata mba Lita kepada mba Nieke
" Anak itu emang manja, kerjaannya ga beres tapi pengennya minta cuti.." suara mba Lita mulai samar..tapi aku masih mendengar...aku disitu terpaku.
------------------------------
" Mba, maksudnya saya ga boleh pulang ? " dengan emosi aku bertanya di depan meja mba Lita. Nia dibelakangku, berusaha menahan tubuhku.
" Apaan sih kamu, teriak seperti ini !! "  suara mba Lita meninggi mengalahkan suaraku.
" Mba, saya cuma mau minta ijin, bapak saya sakit. sekarang ada di ICU. Saya minta ijin 1-2 hari mba, buat pulang menemui bapak saya. " aku menarik nafas " semua pendingan kerja saya akan di handle oleh Lola, dia mau membantu. Semisalnya dia tidak bisa saya masih bisa bekerja dengan hp saya. Saya bisa telpon ke pabrik atau ke buyer.  Saya juga bisa kirim email dari email saya di yahoo" aku diam...nafasku mulai naik turun..." Mba, saya hanya minta cuti 1-2 hari.." Aku mulai lemas, air mataku mulai tak bisa dibendung
" Tria, kerjaan kamu itu tidak ada yang beres, bisa bisa nya sekarang kamu minta cuti ???? "
" Kerjaan saya tidak beres?? kerjaan yang mana mba ? " emosiku benar benar meledak
" Saya masuk kantor jam 8, saya pulang jam 9 malam, selalu lebih pagi dan lebih malam dari siapapun di kantor kita. Tidak ada kerjaan saya yang pending, semua pekerjaan saya selalu mencapai target. Seadainya saya membuat masalah, saya bisa menyelesaikan masalah itu tanpa merugikan perusahaan. Apa kriteria mba mengatakan pekerjaan saya tidak beres ? "
" Saya yang menyelesaikan semua pekerjaan mba saat mba cuti, sakit atau menemani anak dan suami!! Saya yang pergi ke pabrik untuk melakukan dealing, saya yang membuat costing untuk buyer. Saya yang melakukan!!! " Aku tak perduli, suaraku sudah memenuhi oktaf tertinggi
" Pekerjaan mana yang tidak beres mba ? "
Nia, memelukku dari samping, berusaha meredakan amarahku.
" Tria, yang memberikan penilaian pekerjaanmu itu aku. AKU!!! kamu akan menganggap bahwa kerjaanmu sudah baik, tapi aku adalah managermu yang menilai. Dan menurutku kerjaan kamu itu jelek. Dan kamu sudah berani beraninya menentang managermu. Padahal kamu disini baru 5 bulan !!!!"
" Tenang saja mba, saya resign!!! Saya selalu berpikir saya yang harusnya menyesuaikan diri dengan mba, tapi apa mba tahu kalau semua orang di ruangan ini tidak ada yang menyukai mba? Jadi permasalahanya bukan pada saya. Tapi pada mba!!! mba, sadar tidak? dengan kinerja mba seperti ini sangat tidak pantas sebagai atasan. Coba mba ngaca, agar mba yang bisa menyesuaikan dengan orang orang disini dan menyadari siapa yang kerjaannya tidak beres !!! "
Aku membalikan badanku, dan aku terpaku....seluruh ruanganku bertepuk tangan...aku sama sekali tidak menyangka, bahwa semua orang melihat kami. Memang suara kami begitu keras, tapi aku tetap tidak menyangka. Dan aku menangis di bahu Nia.
------------------------------
" Elo pulang dulu aja, lihat bapak lo dulu. urusan ijin cuti biar gue yang urus " Nia berkata saat mengantarkanku ke taxi bersama Hani dan 4 orang rekan kerjaku.
" Lo keren banget, Tri..selama 2 tahun Lita kerja disini, dia emang sok jadi bos. baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu pada Lita " Susi, menjabat tanganku erat.
" Makasih Sus, tapi gue tetep resign loh...surat gue nyusul ya.." aku memandang pada Nia
" Aduh lo ga usah ngomong gitu dulu deh...nanti biar Mr Jack yang memutuskan, tadi Mba Lita kan langsung dipanggil ke ruangan Mr. Jack loh " Nia menjelaskan. Mr. Jack adalah direktur perusahaan kami
" Iya, Tri...lo jangan resign dulu, gue rela kog, handle kerjaan lo dulu ampe bapak lo sembuh.." Lola menimpali
" Ga rame kalo ga ada Lo, Tri " Hani memelukku
" Udah lo ga usah mikir kerjaan dulu, yang penting bapak lo sembuh dulu ya " Shierly menepuk bahuku
" Ga, gue tetap resign..keputusan ini udah bulat. Gue bisa bertahan jika gaji or status kerjaan bermasalah, tapi gue ga akan bisa tahan kalo bekerja dengan atasan yang tidak koorperatif " aku tersenyum dan setelah berpelukan dengan Yanti yang sedari tadi terus menangis, aku tidak tau dia kenapa menangis, apakah sedih aku akan resign ataukan terharu oleh perbuatanku pada mba Lita tadi. Setelah say goodbye, aku masuk ke dalam taxi, disitu aku hanya bisa membatin " shit..gue pengangguran!!!!! "

------------------------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake