Tentang aku dan Venna
-----------------------------------------
- di suatu hari yang kelabu -
28 November 2008
wan, td aq ktm sm Venna. skrg dia
krj di solo. dia tmbh cantik!
aku membaca sms dari Fuad teman
kuliahku. hatiku entah kenapa berdegub kencang. bayangan tentang Venna,
langsung mengisi relung hatiku. aku tak tahu membalas sms Fuad dengan kata kata
apa. akhirnya aku diamkan saja sms itu.10 menit kemudian, hp ku kembali
berbunyi. Fuad lagi.
Venna ngajak kmpl bsk minggu. di
kartika sari jam 11.dtg,ok!
kali ini aku harus menjawab.
maaf, tdk bisa kmpl. aku ada acara
keluarga.
terpaksa aku berbohong. aku tidak
berani bertemu Venna. ku harap Fuad akan memakluminya.
aku lalu beranjak dari mejaku. ada
jadwal mengajar statistik industri, mahasiswaku pasti sudah menunggu. hari ini
aku akan mengadakan kuis buat mereka. tiba tiba saja handphoneku berbunyi,
sekumpulan angka yang tidak kukenal. "ah, paling juga cuma mahasiswa
" pikirku.
" hallo ?"
" wan? "
suara halus wanita. degub jantungku
bertambah kencang, aliran darah mengalir memenuhi semua pembuluh darahku. suara
yang sangat aku kenal dan tak mungkin ku lupakan.
" Venna ?"
" aah...kamu masih ingat
suaraku " dia tertawa kecil. tawanya masih seperti yang aku kenang.aku
diam. bingung harus memulai pembicaraan dengan topik apa.
" wan..? "
" eh, iya.." aku mulai
gugup. aku mulai merasakan tangganku
mulai berkeringat.badanku mulai panas. tanda aku mulai panik.
" kog diem aja ? "
" ..."
" kamu ga seneng ya aku
telpun?"
" bukan begitu Ven.."
"...."
" aku mo ngajar..aku harus
pergi, nanti aja ya ngobrolnya " aku berusaha memotong pembicaraan ini.
aku tidak mau pembicaan ini menjadi terlalu lama. bayangan dia telah aku
bekukan, pembicaraan yang lama hanya akan mencairkannya. dan aku tak tau apakah
nanti aku bisa membekukannya lagi atau tidak.
" oh.." nada kecewa. aku
bisa merasakannya
" sudah dulu ya Ven "
" wan...nanti dulu, hari
minggu kamu bisa datang kan? "
" maaf, aku ga bisa. aku ada
acara keluarga" suaraku datar, aku harap Venna tidak akan merasakan kebohonganku
" ...."
" sudah ya ven, aku harus
ngajar " aku menjauhkan hanphone dari telingaku. bersiap akan
mematikannya. sayup aku mendengar Venna berkata
" tapi aku pengen
ketemu....."
hari itu seluruh mahasiswaku
bersorak gembira, aku tidak jadi memberikan kuis.
--------------------------------
- di tengah kumpulan masa lalu -
2 December 2008-
" ini istriku, Fitri "
ujarku sambil mengenalkan istriku pada Venna.
" hai.. Venna " dia
menjabat tangan istriku dan memberikan ciuman pipi. di kanan dan di kiri.
istriku hanya tersenyum.
" sudah berapa bulan ?"
" sudah 7 bulan " istriku
menjawab sambil mengelus perutnya. ya, kami akan segera menjadi ayah dan ibu.
hal yang membuatku semangat untuk bekerja giat.
" wah, jadi pengen punya
anak"
" ven, kalo pengen punya anak,
makanya nikah.." sahut Fuad
" yee...abis kamu ga ngajak
aku nikah sih, malah ninggal aku duluan, kan aku patah hati " rajuk Venna.
istri Fuad, Mia hanya tertawa keras. dia dan Fuad dulu adalah pasangan di
angkatan kami. sehabis lulus kuliah, keduanya langsung menikah, saat ini anak
mereka bahkan sudah 2.
hari ini kami berkumpul di kartika
sari, aku akhirnya tak mampu membendung rasa ingin bertemuku pada Venna.
semenjak lulus kuliah, 6 tahun yang lalu
kami tidak pernah bertemu. acara kumpul kumpul itu hanya dihadiri 6 orang. dua
rekan kami Aji dan Budi juga datang. Budi bahkan memanfaatkan moment
berkumpulnya kami untuk mengundang kami pada acara nikahnya yang akan
dilangsungkan 1 bulan lagi.
" ven, jadi ceritanya sekarang
kamu bakal tinggal di solo nih ? " Aji, sang ketua angkatan kami angkat
bicara
" ehm " Venna melap
mulutnya. siap bercerita. dia selalu menjadi favorit angkatan kami, paling
populer karena kebaikannya dan kepintarannya. ayahnya menjabat sebagai kapolda
di semarang, biarpun begitu dia selalu rendah hati dan tak pernah sungkan
bergaul bersama kami yang hanya " ecek ecek". jika ada wanita
sempurna, itu pastilah dia.
" gini loh, kantorku kan lagi
ada pembangunan di solo baru. kebetulan aku ditunjuk jadi mandor gitu.
planningnya tahun depan gedung itu baru jadi. jadi selama itu, yaaa aku di solo
" jawab Venna sumringah
" wah, kamu udah jadi bos
donk? " tanya Mia.
" dari dulu kamu yang paling
"bersinar " diantara kita ya "
" ah, siapa bilang. masih
seperti yang dulu kog " Venna tersenyum. senyum yang sama yang pernah
mengisi mimpi mimpiku.
--------------------------------
- malam yang penuh bintang -
3 january 2002
" aku ingin bekerja dimana aku
bisa mengaplikasikan ilmuku..."
aku tersenyum, memandang sosok
wanita didepanku.
" kamu wan? pengen kerja apa ?
"
" yaa..sedapatnya kerja aja
lah " jawabku santai.
" ga bisa githu!! kamu harus
punya impian donk...jadi kamu bisa bikin target "
aku tertawa, Venna begitu semangat
hingga makanannya tesembur dari mulutnya.
" oups..maap Wan.." buru
buru Venna mengambil tissue..diwajahku ada semburan nasi kucing. malam itu kami
makan malam pak kumis. angkringan yang paling kami sukai.
" wan..kamu harus punya target
wan.." Venna masih saja emosi membahas target hidup.
" jalani aja lah Ven..biarkan
seperti air..mengalir.." jawabku sok bijak yang langsung mendapat jitakan
dari Venna
" sok bijak deh.."
kami tertawa bersama, bercanda
dengan Venna adalah masa masa yang paling aku sukai. pandangannya yang cerdas
tapi tetap dengan selera humor yang tinggi membuat semua permasalahan menjadi
selalu menarik jika dibahas dengannya. kejadian apa saja selalu bisa di
comment. seperti waktu ada orang yang sedang terburu buru jalan mendahului
kami, imaginasinya bisa langsung berkata :
" tuh orang pasti lagi kebelet
pipis "
" sok tau kamu "
" loh, serius nih..liat dong
caranya orang itu jalan, orang itu jalan tapi pahanya merapet githu...pasti
lagi nahan pipis tuh "
aku hanya tertawa saat memberikan
argumentasi, bukan analisnya yang membuatku tertawa tapi gayanya saat berbicara
dengan wajah serius yang bikin aku ngakak.
" wan.." aku kaget,
pikiranku kembali langsung ke bumi. Venna memanggil.
" kamu kog bengong ? ga usah
bengong, kan aku udah ada didepanmu..hihihi " dengan sok pede, Venna
mengedipkan mata padaku. aku mulai blingsatan. ga tahan kalau mulai digoda
seperti ini.
" ah, kamu ini..." aku
buru buru menyeruput es teh manis, mencoba mengalihkan suasana.
" wan.."
" hem..apa ?" aku pura
pura cuek
" kita taruhan yuuk, siapa
yang paling cepet lulus kuliah "
" maksudmu ? "
" ih..oon bener sih, yaa tar
diantara kita, siapa yang paling cepet lulus. kan kita sekarang udah semester
akhir. udah ngurus TA, udah harus mikir masa depan, masa mo jadi anak kuliahan
mulu. kita taruhan biar bisa nambah motivasi ngerampungin TA. tar yang lulus
duluan harus ditraktir makan di pak kumis. gimana ?" cerocos Venna.
" aduh..TA kog dibikin taruhan
?" aku agak keberatan, sepertinya main judi aja " dosa loh, pake
taruhan taruhan segala "
" dosa gimana? kan itu membuat
motivasi buat rampungin TA, lagian cuman traktir di pak kum..." omongannya
Venna terhenti saat ada rombongan pengamen yang ngenjrang genjreng lagu SO7.
Bila ku lelah tetaplah di sini
Jangan tinggalkan aku sendiri
Bila kumarah biarkan ku bersandar
Jangan kau pergi untuk menghindar
Rasakan resahku, dan buat aku tersenyum
Dengan canda tawamu, walaupun untuk sekejap
Kerna hanya engkaulah yang sanggup redakan aku
Kerna engkaulah satu-satunya untukku
Dan pastikan kita selalu bersama
Kerna dirimulah yang sanggup mengerti aku
Dalam susah ataupun senang
Dapatkah engkau selalu menjagaku
Dan mampukan engkau pertahankanku
aku segera merogoh kantongku.
kutemukan uang 500 disitu, segera kuberikan kepada para pengamen itu.
" makasih, mas " ucap
salah satu pengamen itu.
" nyanyinya bagus juga ya
Ven.." aku melirik Venna. dia tampak diam terpaku sehabis menikmati lagu
itu.
" iya, lagunya bagus "
dia berkata lirih dan meletakkan kepalanya di bahuku. aku membeku.
--------------------------------
- sebuah realita yang nyata -
6 December 2008
" Yah, hari ini bisa nemenin
Bunda ke dokter kan ?"
istriku Fitri, berjalan mendekatiku
yang sedang konsen duduk memandang komputer, aku sedang membuat proposal
penelitian. lumayan jika tembus bisa dapat uang tambahan buat biaya kelahiran
si kecil.aku melepaskan kacamataku, mengelus perut istriku yang membuncit.
" insya Alloh, jam 5 kan ?
ayah ga ada jadwal ngajar kog "
" iya, seperti biasa "
istriku mengelus kepalaku dan berjalan menuju dapur. dia pasti akan
membuatkanku kopi. dia benar benar istri yang baik, selalu pengertian.
Fitri menikah denganku 2 tahun yang
lalu. di sela sela keputusasaanku mencari bayang bayang Venna, aku menemukannya
di acara seminar yang diadakan kampus untuk para dosen UNS. dari sekedar
berdiskusi yang nyambung, kami mulai menjalin hubungan. baik orang tua ku dan
orang tua Fitri pun setuju, mereka yang sama sama pensiunan guru sangat
mendukung hubungan kami. maka selang 3 bulan dari perkenalan kami, kami
menikah. sebuah keputusan yang aku anggap sangat tepat kala itu. kala aku
mengetahui Venna akan menikah di Jakarta.
" Ayah.."
" heemm"
aku sibuk berkonsentrasi mengendari
mobil tua kami. mobil yang aku beli dengan menguras tabunganku, padahal ini
cuma mobil second.
" ehm..teman ayah yang waktu
itu..."
" yang mana ? "
" yang waktu reunian di
kartika sari .."
" yang mana Bunda ? kan teman
ayah ada banyak yang datang "
aku mulai merasa aneh, istriku tak
pernah berbicara ragu ragu seperti ini. nada suaranya seperti penuh keraguan
untuk bertanya. aku memandang istriku, menyentuh tangannya pelan
" yang mana Bunda ?"
" itu loh..yang cantik
itu..."
deg..aku langsung terpikir Venna
" oh..mia? itu kan istrinya
Fuad " aku berusaha mengeles, semoga saja yang akan ditanyakan Fitri bukan
tentang Venna.
" bukan..bukan...yang
rambutnya panjang di cat, yang tinggi, yang pake celana jeans, yang bajunya
..itu loh..warna putih bunga bunga.." istriku menjelaskan dengan
mengerakan tangannya , berusaha mengambarkan Venna dengan jelas. dia tidak
tahu, bahwa aku telah memahat semua penampilan Venna pada saat kami bertemu di
reunian di dalam file di kepalaku.
" Venna.." aku menjawab
malas malasan. berharap istriku tak mendengar getar di suaraku saat mengucap.
" iya..yang namanya Venna..dia
cantik sekali " istriku, menyandar di jok mobil. pandangannya menerawang.
" cantikan Bunda kog.."
" masa sih ?" istriku
langsung sigap berdiri dari sandarannya dan mencari mataku.aku tersenyum
memandangnya
" iya, cantikan bunda "
pipi istriku langsung berona merah,
tersipu sipu malu dia berkata
" ah, ayah bisa aja.."
dia duduk menyandar dengan senyum,
mengelus elus perutnya yang semakin membuncit. aku tidak bohong, istriku lebih
cantik dari Venna. bukan karena fisiknya, tapi karena dia telah mau
mendampingiku selama 2 tahun ini tanpa pernah mengeluh. sepantasnya lah aku menjaga
pernikahan kami tanpa terganggu oleh kedatangan Venna yang hanya sekilas.
--------------------------------
- hadirmu yang indah -
10 December 2008
" hi "
" Ven.." aku melonjak
kaget dari kursiku. seakan tak mempercayai mataku sendiri. Venna datang
menggunakan celana jeans dan kaos polo, penampilannya seperti mahasiswa. tidak
telihat bahwa dia hampir berusia 30 tahun.
" hahahaha..kamu kaget ya...?
" tawanya membuat beberapa dosen melirik kepada kami. beberapa dosen yang
pernah mengajar kami langsung bereaksi
" loh, Venna ? " Pak
Slamet langsung menyapa.Venna langsung menghampiri, berbincang bincang dengan
beliau dan menyapa para dosen yang lain. suasana ruang dosen langsung ramai
dengan celotehnya.
" kamu mau kuliah lagi ya, Ven
? " Bu Nisa salah satu dosen pengajar mekanika teknik menyapa
" aduh ibu, sudah ga kuat nih
kalo disuruh mikir mekanika lagi.."
mau tidak mau aku tersenyum,
melihat Venna diantara para dosen membuatku teringat masa masa 6 tahun yang
lalu.
" iya nih Pak, saya kesini mo
nyulik Irwan. mohon diijinkan ya.." kalimat Venna membuatku bengong
" ati ati Ven, Irwan sekarang
udah ada yang punya loh "
" iya Bu , kemarin saya udah
ketemu sama yang punya. tapi sekarang kan yang punya lagi ga ada. jadi bisa
saya culik bentar, kangen nih saya " para dosen langsung tertawa, dari
dulu mereka tahu akan kedekatanku dengan Venna.
" ayo, Wan..kita makan siang,
udah mo mati kelaparan nih " dengan santai dia menarik tanganku
" Bapak Ibu dosen, saya nyulik
Irwan dulu ya.. permisi " Venna membungkukkan badannya seperti orang
jepang.
" Wan, inget istri
Wan..." teriak pak Pujo dia dosen
yang satu angkatan denganku saat masuk menjadi dosen. sebelum pintu ruang dosen
itu tertutup, aku masih mendengar tawa dari para dosen.
Venna berjalan cepat, aku dibelakangnya,
beberapa mahasiswaku heran melihatku ditarik oleh wanita. aku buru buru menarik
tanganku. rupanya tindakan ku menimbulkan tanya bagi Venna.
" kenapa ?"
" malu dilihat orang "
aku berjalan melewatinya. disitu Venna terpaku.
" Ven, ayo..katanya mo makan
?"
Venna masih diam di tempatnya,
dagunya mulai dilipat, mulutnya mulai maju setengah centi.aku ingat itu adalah
ekspresinya jika dia mulai merajuk.
" Ven, jangan ngambek
donk.."
Venna masih diam, aku berjalan
kembali menghampirinya.
" ayo makan " aku menarik
tangannya. mengandengnya menuju tempat makan di kampus. beberapa mahasiswaku
terlihat berbisik bisik. tapi aku tak perduli. aku lebih perduli jika Venna
mulai merajuk.
" aku pengen pecel pake telor
dadar plus mendoan dua "
secara ajaib dia kembali seperti
biasa
" oh, terus minumnya.."
" es teh manis, esnya dikit
" aku menjawab. itu adalah minuman yang selalu dia pesan
" iyah " Venna tersenyum
sumringah
" kamu masih inget ma minuman
kesukaanku ya ? " dia menonjok bahuku.
aku hanya tersenyum kecil.
" tempat ini ga berubah ya..?
cuman sekarang penjualnya udah bukan bu Surti lagi ya ?"
" itu anaknya, Bu surti sudah
pensiun pulang kampung. dulu Marni juga suka mbantu mbantu Bu surti kog.
kamunya saja yang ga sadar "
" oooo "
"..."
aku mengamati Venna, matanya
berputar disekeliling, entah mencari apa
" wan..! lihat ! kemudi kapal
itu masih ada disana " Venna menunjuk ke arah taman. di sana ada roda
kemudi kapal dari kayu, yang dulu di buat kami dari sisa sisa kayu praktikum.
posisinya masi sama, kami pancangkan pada dahan pohon.aku hanya tersenyum
kecil. selama aku mengajar, aku tak pernah memperhatikannya, tapi ternyata
Venna masih mengingatnya.
" ingat ga, waktu kita bikin
roda kemudi itu...sampai tanganmu terluka ?"
" inget lah.." aku
menerima pesanan makanan kami yang diantarkan Marni
" monggo pak..bu"
" makasih " sahut Venna
" wow, pecel...emyak
emyak.." seperti anak kecil Venna langsung menyerbu makanannya.
" pelan pelan Ven. tar keselek
lagi.." aku mengingatkan
" hem..ini mak nyuus..enak
buanget. aku ampe kebawa mimpi buat makan ini loh.."
" kamu ga makan Wan? "
" makan donk "
" lah, abis pecelmu cuman
dipandangin gitu aja, ga disentuh sentuh. tar kalo kamu ga mau, itu buat aku
aja..."
" dasar! " aku langsung
menjitak Venna. tindakan ku ternyata membuat Venna menggegam tanganku.
" mana ? "
" apa ?"
" bekas luka waktu kita bikin
roda kemudi itu? di tangan kanan kan ?"
darahku mendesir dengan cepat, saat
Venna menyentuh, membalikan tanganku dan menarik lengan kemeja
panjangku..mencari bekas luka.
" ah, ini dia..." sekitar
10 cm dari pergelangan tanganku bagian dalam sebaret luka sepanjang 5 cm
terlihat samar. luka gara gara aku berusaha menghentikan gergaji listrik yang
tak terkontrol yang di pegang Venna.
aku diam, merasakan sentuhan tangan
Venna
" masih sakit ga ? "
" ga lah.."
" hem..." dia masih
menyentuhnya dan entah kenapa aku menikmatinya.
itu hanya awal. dari acara makan
siang di kampus kemudian Venna sering mengajakku makan siang di tempat lain,
menjelajah kuliner di kota solo. kami bahkan pernah nekad ke yogja hanya untuk
mencari gudeg yang akhirnya membuatku tak bisa mengantarkan istriku check up ke
dokter. aku mulai merasa bersalah.
--------------------------------
- pertanyaan seorang sahabat -
28 January 2009
orang bilang selingkuh itu dosa.
aku sendiri merasa tidak yakin apakah yang sedang ku jalani dengan Venna bisa
dikategorikan sebagai selingkuh atau tidak. maka sekarang aku hanya bisa diam
dan mengangkat bahuku.
" kita cuma temenan aja kog
"
" temenan juga ada batasnya
Wan, apalagi sekarang kamu udah nikah. ga enak kalo dilihat sama orang orang
" Fuad, mematikan putung rokoknya dengan kakinya, mengilasnya keras di
halaman rumah.
malam ini mendadak dia datang tanpa
memberi kabar. cuaca malam ini cerah dan banyak bintang di langit, benar benar
suasana yang cocok untuk duduk duduk santai di depan rumah. istriku yang
pengertian tidak ikut bergabung dengan kami, dia memilih untuk membaca buku
tentang pendidikan anak di kamar.
" kasihan istrimu yang lagi
hamil "
" aku tak pernah menyakiti
Fitri "
" yang sekarang kamu lakukan
itu sebenarnya menyakiti Fitri "
aku diam. kemarin Fuad bertemu
dengan istriku yang hamil tua sedang menunggu bus sehabis check up dokter, saat
itu aku tak bisa mengantarnya karena sedang bersama Venna.
" kemarin kamu sama Venna kan
? aku telpon ke kampus kamu ga lagi ngajar."
kemarin di hp ku ada 12 miscal dari
Fuad dan 3 sms yang menanyakan aku ada dimana
" iya kan Wan ?"
"......"
" ga tau kenapa aku feeling
aja, jadi aku tepon ke kantornya Venna, dia juga pergi. katanya di jemput sama
orang yang ciri cirinya mirip kamu " Fuad mengambil rokok lagi dan
menyalakannya
" fuuuh..." Fuad
menghembuskan asap rokok dengan kuat, asapnya mengepul membentuk lingkaran
lingkaran
"katanya sekretarisnya Venna,
kamu sering datang. tiap hari malah!"
" iya, wan ? tiap hari kamu
ketemu sama Venna ? " Fuad memandangku, aku berusaha mengelak dari
pandangan mata Fuad.
" wan? "
" ...."
" aku tau dari dulu kalian
dekat, tapi sekarang posisinya sudah berbeda. kamu harus sadar diri. ingat
istri dan calon anakmu. Fitri itu baik, janganlah kamu sakiti orang sebaik
Fitri. kamu yang dulu memutuskan untuk menikahinya, jangan jadi pengecut dengan
berselingkuh dibelakangnya "
" aku ga ingin menyakiti
istriku " aku berkata lirih, bayangan Fitri dan Venna berganti ganti
muncul di mataku
" kalo kamu ga ingin menyakiti
Fitri, batasi hubunganmu dengan Venna. aku tau perasaanmu kepada Venna, tapi
itu masa lalu wan. itu jaman kuliah! sekarang kamu sudah nikah! ingat statusmu
! "
" aku ga tau Ad..." aku memegang
kepalaku, tiba tiba saja kepalaku terasa sakit.
" tidak tau apa? kamu sudah
dewasa Wan sudah bisa menentukan sikap. jangan jadi pengecut kayak gini. dengan
berhubungan dengan Venna, kamu menyakiti istrimu dan juga Venna"
" aku ga pernah menyakiti Venna
" tiba tiba aku berkata keras, spontan aku berdiri. Fuad tampak terkejut,
badannya langsung mundur ke belakang. aku terdiam memandang Fuad. lama kami
berpandangan. aku akhirnya menunduk dan mulai berjalan memutari teras rumahku
yang kecil dengan satu tangan di saku celana dan tangan kanan memijat mijat
kening ku.
" aku ga pernah ingin
menyakiti Venna " kali ini aku mulai merasa tengorokanku
tercekat.membayangkan Venna menangis aku tak sanggup.
" wan? " aku merasa
sentuhan di bahuku
" kamu benar benar masih
mencintai Venna ya ?"
aku diam.tak bisa menjawab hingga
Fuad pamit pulang, aku masih memijat mijat kening ku.
--------------------------------
- saat terakhir kita -
13 July 2002
" ven..kamu cantik sekali
"
beberapa teman teman seangkatan
kami menyalami Venna plus dengan cupika cupiki. Venna berhasil menjadi lulusan
pertama di angkatan kami dengan menyandang gelar cum laude.
" Irwaaaaan..." Venna ku
lihat sendang melambai ke arahku. aku berjalan mendekatinya
" lihat..aku cantik kan?
" Venna memutar badannya, toganya berputar seperti penari jamaludin rumi.
" iya cantik " aku
tersenyum.
" selamat ya " aku
menyerahkan bunga mawar warna pink sebagai ucapan selamat.
" makasih, bunganya bagus
"
" ceile...katakan cinta ni
" Budi menggoda
" aduh...Wan, kau kalah dari
Venna ni. kapan kau susul Venna untuk wisuda ? " Fuad merangkulku dari
belakang.
" sialan kau, kalo aja pak
Roni ga mendadak sakit, TA ku pasti bisa cepat rampung " aku mengeluh
" hush..ga baik menyalahkan
orang lain, pak roni sakit kan bukan atas keinginannya sendiri. kamu sabar aja
Wan. bentar lagi pasti kamu lulus...tapi sebelumnya, kamu harus traktir aku
dulu..hehehe " Venna menonjok bahuku
" eits...apaan nih ? kog mau
ada traktiran makan makan tapi kog ga ngajak ngajak ? " begitu mendengar
kata traktir kuping Fuad langsung bereaksi.
" wah, yang ini khusus
traktiran dari Irwan, Ad. special cuman kita berdua. iya ga wan ?" Venna
mengedipkan matanya. aku langsung blingsatan.
" wah, benar benar katakan
cinta nih " Budi kembali bersuara.
" aduh, Budi. jangan jeles
githu donk..jatahmu juga ada kog" sahut Venna
" Ven....selamat ya.."
mendadak rombongan dari teman teman kami yang lain datang menghampiri. aku
mulai menyisihkan badan dan hanya memandang dari kejauhan.
Venna sudah lulus, dia akan segera
pergi.hatiku mulai terasa perih. tapi aku tak berkata apapun. tidak pula pada
saat makan malam kami berdua untuk merayakan kelulusan Venna.saat dia bertanya.
" trus sekarang kita gimana
?"
" gimana apa? " entah
mengapa aku merasa Venna sedang bertanya akan status hubungan kami. saat itu
aku tidak sanggup untuk menjawab.
" yaa..tentang kita ? aku dan
kamu ?" Venna berdiri menunduk menatap teras kostnya.aku juga berdiri,
seluruh sendi ku terasa kaku.
" emang ada apa dengan kita
?" aku menjawab pertanyaan Venna,
dengan satu tangan di saku celana dan tangan kanan memijat keningku.
" haah...ka..kaamu ga merasa
ada apa apa dengan kita ? " suara Venna tampak bergetar. aku memandangnya.
ku lihat matanya mulai berkaca kaca.
" wannn.."
" yaa..kita kan temenan,
yaa..tar selamanya kita temenan .." suaraku tercekat. dengan senyum aku
menjawab. wajah Venna mulai pias.
" ya kan? kita temenan "
sekarang aku gantian menonjok bahunya Venna.
tiba tiba saja Venna melempar hpnya
ke dadaku. hp nokia 6600 itu mental dan jatuh ke teras kost Venna.Venna
langsung berlari menuju kamarnya, sekilas aku melihatnya mengusap air matanya.
semenjak itu, aku tak pernah bertemu dengannya.
--------------------------------
- malam ini masih berbintang -
3 February 2009
" aku sayang kamu "
" dari dulu malah "
" cuman kamu kog ga pernah
'nembak' aku.."
Venna bersila dan menunduk
memandang es tehnya.aku kaget oleh pengungkapan Venna.
" Wan, ngomong donk..jangan
diem aja, kan aku jadi grogi.."
aku merasa bahuku ditonjok
" a..aaku ga tau harus bilang
apa.."
" iya..dari dulu kamu ga
pernah bisa bilang apa apa " Venna membanting sedotan di es tehnya.
" Ven..."
" eh..aduh..kenapa sedotannya
aku buang..?" Venna tampak bingung, dia akhirnya melambai pada pelayan di
pak kumis dar berteriak.
" masss..minta sedotannya donk
"
aku hanya geleng geleng kepala.
Venna jika marah kadang tidak memikirnya efek sampingnya. langsung membuang apa
yang ada di tangannya. dulu dia pernah membanting hpnya di kostnya, sehabis
acara makan malam untuk merayakan kelulusan Venna.
" ini mba " pelayan
tempat makan lesehan pak kumis mengantarkan sedotan untuk Venna
" makasihh " Venna
tersenyum manis
hening diantara kami, Venna sibuk
memutar mutar sedotan itu gelasnya.
" wan? "
" hemm "
" apa pernah kamu sayang aku
?"
" Ven.. "
" jawab donk, 6 tahun aku
penasaran Wan..." mata kami bertemu
" Ven...haah.." aku mulai
merasa grogi. tangan ku secara spontan merogoh ke saku celanaku dan tangan
kananku memijat keningku.
" kenapa? kenapa ga bisa
njawab...? " Venna terus mendesakku
" Ven...aku udah
nikah........."
aku memandangnya. berusaha secara
jantan menjawab pertanyaan Venna dengan memberikan sebuah jawaban akan suatu
realita.
"........."
" tapi pertanyaanku, apa kamu
pernah sayang aku ?bukan aku tanya tentang statusmu.. " matanya masih
menuntut jawab.
" Ven... " aku mulai
desperate. mata kami terus berpandangan.
" kenapa kamu ga pernah mo
njawab Wan.." Venna memalingkan wajahnya, aku tahu matanya pasti telah
berkaca kaca.
aku menyentuh pundaknya dan di
bahuku Venna mulai terisak.
" maaf kan aku Ven.."
aku membiarkan Venna larut dalam
sedihnya, sedihnya juga sedihku. aku tak mau melukai Venna. saat
mengantarkannya pulang, di depan pintu rumahnya, Venna memelukku erat dan aku
tak sanggup melepaskannya.
--------------------------------
- hari ini harusnya hari yang
berbahagia -
4 February 2009
" tok..tok..tok.."
aku terbangun oleh ketukan pintu,
kulirik jam tanganku, pukul 5.15 pagi. kusentuh Venna di sebelahku, dia masih
tertidur pulas.
" Ven..ada tamu "
" ehgh..." dia hanya mendesah dan membuat ringkukannya
semakin dalam dan malah bersembunyi di ketiakku.
" Ven..." ketukan di luar
rumah semakin keras. tamu itu pasti tidak sabaran. aku beranjak bangun dan
mulai mengenakan pakaianku dan menyalakan lampu kamar di penghujung pintu.
silau oleh lampu, Venna akhirnya bangun.
" apa sih..." dia masih
mengucek ucek matanya. tidak rela di bangunkan pagi.
" ada tamu " aku berjalan
mendekat ke arah Venna mengecup keningnya, biar baru bangun tidur dia tetap
cantik dimataku.
" temuin dulu sana.." aku
tidak enak jika aku yang membukakan pintu, bisa menimbulkan pertanyaan bagi
sang tamu tentunya.
" huuh..siapa sih..pagi pagi
dah namu.." dengan kesal Venna bergegas menemui tamunya. aku menunggu
Venna dengan menyalakan tv dan menyadar di tempat tidur.ada acara siraman
rohani aa' abdel , aku hanya tersenyum sinis. yang aku lakukan sudah merupakan
dosa, aku cepat cepat menganti chanel acara, mendengarkan berita jauh lebih
baik.
" mana dia..? kamu jangan
bohong " samar samar aku mendengar suara laki yang cukup aku kenal. suara yang mengelegar oleh
amarah. aku mulai menegakkan badanku, bertanya tanya mungkin kah tamu itu
adalah.....
" FUAD...??!! " aku
melonjak kaget
" sudah ku duga!!
kalian..kalian..." raut wajah Fuad memerah marah, dia memandangku dan
Venna berganti gantian.
Venna di pojok pintu tampak hanya
menunduk, tangannya bersedekap di dadanya. aku terpaku diam menjadi sang
tertuduh.
" bisa bisanya kalian
melakukan hal hina seperti ini... " dalam hitungan seperkian detik aku
merasakan tinju Fuad di wajahku.aku jatuh tersungkur di tempat tidur. Venna
berteriak dan berlari kepadaku.
" Ad, please Ad..." Venna
mulai terisak sambil memelukku.
" maap.." aku hanya bisa
berkata lirih, mengusap darah di ujung bibirku.
" istrimu...istrimu masuk rumah
sakit, bayinya kritis "
aku tersentak kaget. Fitri. aku
lupa sekali akan adanya Fitri dalam hidupku.
" semalaman dia mencarimu, hp
mu tidak bisa di hubungi. karena panik jam 2 pagi datang kerumahku, dia jalan
dari rumahmu ke rumahku.kamu bayangkan!! " suara Fuad seakan menusuk
gendang telingaku, rumahku di Mojosonggo cukup jauh dari rumah Fuad di
Kentingan " dia jalan Wan, jalan sepanjang
10 kilometer !! ketubannya sudah pecah saat sampai di rumahku. dia tidak
memikirkan bayinya, dia hanya menanyakan kamu ada dimana? dia begitu
khawatir..dia begitu mencintaimu Wan..." pada kata mencintaimu, mata Fuad
berkaca kaca. aku tahu dia menghargai Fitri sebagai istriku. aku diam hanya
memandang buram para dada Fuad yang naik turun menahan amarah, di sampingku Venna
terisak.
" istrimu ada di dr. Oen. dia
dijadwalkan akan caesar jam 7 pagi " Fuad hanya berkata pelan sambil
memunggungi kami, tapi dia membanting pintu dengan keras hingga kaca kaca rumah
bergetar semua.
" maaf..." Venna masih
terisak disamping ku
" bukan kamu yang salah "
aku mengelus rambutnya, mengecupnya dan beranjak bangun. aku harus menemui
istriku.
--------------------------------
- namanya rizqi -
5 February 2009
aku memberinya nama Rizqi. dengan
harapan semoga dia selalu menjadi anak yang selalu penuh dengan rizqi. dia
hadir di dunia pukul 7.36 pagi. operasi caecar berjalan lancar. sebagai suami,
aku menungguinya saat istriku berjuang mempertaruhkan nyawa.tekanan darah Fitri
yang dikhawatirkan akan menjadi masalah saat operasi berubah menjadi stabil
saat aku tiba. Fitri tidak bertanya dari mana aku semalam, dia hanya menangis
dan berkata " bunda senang ayah gapapa...". perkataannya menikam
tepat di jantungku. Fuad tidak berkata apa apa pada Fitri, dia hanya diam dan
menatapku dingin.
layaknya punya hajat, keluarga dan
rekan semua memberi selamat atas kehadiran anggota baru. semua orang berkata
bahwa bayiku mirip aku. aku berperan sebagai suami dan ayah yang baik dengan
tersenyum bangga akan bayiku. Venna datang saat makan siang, memandang bayiku
dan mengucapkan selamat layaknya sahabat kepada kami. "bayinya lucu, mirip
papanya" senyum Venna saat itu manis sekali. dia berbincang dengan istriku
tanpa cangung, seakan apa yang terjadi semalam tak mempengaruhinya suasana
hatinya. dipojokan aku hanya diam, mendengarkan Venna dan istriku berkata kata.
saat aku mengantarkannya di koridor
rumah sakit. Venna menatapku dan mengecup pipiku sebelum dia berlalu, dia tak
berkata apa apa. tapi aku tahu maksudnya. pikiranku berkecambuk, aku tak rela
melihat punggung Venna tampak semakin mengecil. ingin mengejarnya, tapi kakiku
terpaku. diam tak bergerak.
" VEN...AKU MENCINTAIMU "
aku tak tau dari mana kekuatan untuk berteriak. beberapa orang yang di koridor
tampak berbisik bisik. sosok Venna terhenti. secara perlahan dia membalikan
badannya. hanya berkata pelan, tapi jelas bagiku
" aku tahu " senyum Venna
manis, lebih dari yang pernah aku ingat. tapi Venna tetap membalikan badannya
dan kembali berjalan meninggalkanku.
itu terakhir kalinya aku bertemu
dengan Venna.
--------------------------------
Komentar
Posting Komentar