ASTRID
--------------------------
Oke, dia emang
cantik dan sexy. Apalagi seperti hari ini, dia hanya memakai kemeja putih pas
badan yang kancingnya sedikit terbuka. Setidaknya putih payudaranya sedikit
mengintip. Roknya sopan model A line, 5 cm dibawah lutut warna pink, tapi tetap
tidak bisa menutupi lekuk tubuhnya. Betisnya putih dan memakai stiletto warna
pink, matching dengan roknya. Warna itu juga digunakan olehnya di bibirnya.
Bibirnya sexy, pasti enak sekali kalau dicium. ooo..shit..pikiranku
mulai ngeres!!
Secara refleks,
aku mengambil gelas coffe ku. Pelan-pelan aku meneguk cairan kental bercafein
itu sambil terus mencuri pandang pada sosok Personal Assistance ku Astrid.
"Pak, ini
laporan dari PT. Ungaran Sari Garment, mereka bersedia menandatangani ketentuan
untuk AZO free dan harmful substance untuk semua garment s.Oliver yang akan
mereka shipment ke German". suara Astrid mulai berkicau, lebih indah dari
kicauan burung perkutut milik mbah Aryo, kakekku. Setiap pagi, jam 10.00 Astrid
akan menghadap untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan dan laporan harian.
" Kalau
yang ini, detail schedule untuk keberangkatan Bapak ke Hongkong tanggal 18.
Pihak Hongkong sudah confirm bahwa...." suara Astrid masih terus
berlanjut, tapi entah mengapa pikiranku tertuju pada putih payudaranya.
Seandainya..dan pikiranku pun mulai melayang.
"
Pak..pak....PAK HENDRA !!"
" Oya..
Astrid..ada apa ?" tesentak kaget aku oleh suara Astrid hingga menyebabkan
coffe yang sedari tadi kupegang, tertumpah di kemeja kuning Calvin Klein yang
dibelikan istriku sewaktu dia shopping di Singapore.
"
Aduh..maafkan saya Pak.." buru-buru Astrid mengambil tissue dan jantungku
seakan ingin berhenti, dia rambutnya yang panjang, harum tubuhnya jelas terasa,
dan dia hanya berjarak 5 cm dari diriku. Jemarinya yang putih berkuteks warna
pink sibuk berusaha menghilangkan basah di kemejaku. Raut wajahnya panik,
rasanya aku hanya ingin waktu berhenti di moment ini, merasakan nafas memburu
dari Astrid, sentuhan jemarinya...STOP!
" Sudahlah
Astrid, ini tidak apa apa" seakan tidak percaya akan perkataan ku sendiri
dan tindakanku, aku mengibaskan tangan Astrid dari kemejaku. Dan lagi, suaraku
terdengar begitu dingin.
" Maafkan
saya Pak.." Suaranya seperti mau menangis " Pekerjaan saya,
sepertinya tidak ada yang beres.."
" Sudahlah
Astrid..ini tidak apa-apa. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus saya
pikirkan. Laporanmu kamu lanjutkan saja nanti jam 4 " putusku
" Eh..nanti
jam 4 Pak ? tapi saya..." suara Astrid mengantung
" Ada apa
lagi ?! " masih suaraku terdengar dingin.
" Saya
kan... mau minta ijin untuk pulang jam 12 Pak. Eh..hari ini ..eh..ehm..hari ini
ulang tahun pernikahan saya Pak. Jadi eh..ehm..saya mau, aduh..yaaa saya mau
ijin pulang jam 12, soalnya saya mau masak, Pak...saya ga pernah masak..jadi..aduh..yaa...rencananya
kami mau makan malam dengan masakan saya" dengan terbata bata Astrid
bicara, dia berdiri disampingku dengan wajah menunduk, jemari saling bertautan,
diputar, diremas, khas orang grogi.
"
Oo..itu.."
Astrid
mengangkat wajahnya, pipinya bersemburat pink maching dengan rok dan stiletto
nya. Wajahnya menunjukan pengharapan sangat, agar aku mengerti.
" Yaa, kalo
kamu mau pulang jam 12, no problem . Asal kamu rampungkan pekerjaanmu
sebelum pulang. Untuk laporan hariannya biar besok pagi saja" aku memutar
kursiku, menghadap meja kerjaku lagi. Suaraku masih dingin
" Benar
Pak? makasih banyak Pak..? saya benar benar..."
"
Sudah..sudah..kamu keluar sana, jangan lupa pintunya ditutup!"
" O, baik
pak.." dan dia perlahan keluar dari ruanganku, menutup pintu dengan pelan.
Dia tersenyum dan mengangukkan kepalanya. Saat itu, hatiku membeku. Dingin.
--------------------------
Astrid, baru 3
bulan ini dia menjadi Personal Assistance ( PA ) ku. PA ku sebelumnya, Yuli,
berhenti karena mengikuti suaminya yang menjadi sales manager Unilever di
Kupang, NTT. Astrid dipilih oleh atasanku Pak Malik, seharusnya Astrid menjadi
PA beliau mengantikan Diana, tapi karena Yuli berhenti cukup mendadak dan Diana
akhirnya tetap bekerja akhirnya Astrid ditransfer ke tempatku.
Astrid bekerja
dengan baik walau dia masih butuh waktu untuk beradaptasi. Terkadang Astrid
terlalu panik, hal itu sedikit menggangu karena aku orangnya tidak suka
diganggu. Astrid juga sangat ceria, dia selalu menghiasi mejanya dengan bunga
setiap hari. Hari ini dia memajang mawar berwarna pink matching dengan rok dan
stiletto nya. Dia juga memajang boneka lumba lumba berwarna biru langit di
mejanya. Peralatan tulisnya semuanya bergambar Betty Boob. Pernah dia memajang
bunga di mejaku, bunga lili warna putih. Hari itu bunga itu matching dengan
baju terusan berbordir warna putih yang dipakainya, rambutnya dijepit juga oleh
pita warna putih. Saat aku datang, dia ada di ruanganku, sibuk mengatur lili
putih itu. Dia tersenyum menyambutku. Aku ingat, senyumnya manis sekali. Tapi
hari itu dia kumarahi, aku tidak suka bunga.
Astrid sering
sekali kumarahi, walaupun kerjaannya baik ada saja yang membuatku marah. Pernah
saat makan siang, dia menelpon suaminya. Aku marah. Tapi Astrid tidak pernah
membantah. Semenjak ku marahi Astrid tidak pernah menelpon suaminya saat makan
siang. Bagaimana aku tahu? karena Astrid selalu makan siang di mejanya hingga
dia bisa kuawasi. Astrid tidak pernah pergi dengan Diana ataupun Sara, ataupun
karyawan yang lain. Aku tahu Astrid tidak suka bergosip seperti para PA yang
lain. PA ku yang dulu, Yuli setiap kali laporan harian selalu membumbui
laporannya dengan hot gosip di kantor. Tapi Astrid tidak pernah. Dia hanya
bekerja dan bekerja, saat bekerja dia justru terlihat makin cantik. Sorot
matanya yang serius, malah membuatku bergairah.
Namaku Hendra,
usia 39 tahun, sudah menikah selama 7 tahun. Anakku, Nailah berumur 5 tahun.
Istriku cantik, sexy sudah pasti. Mia, kunikahi karena saat itu dia hamil tapi
saat kandungannya 8 bulan, bayi kami lahir dan meninggal. Mia membuka butik di
Jakarta Selatan, dari dulu dia memang suka fashion, kami pun bertemu saat
launching product baru Armani di New York. Saat itu aku baru bekerja di New
fashion dan lagi sibuk sibuknya mencari relasi yang mau memberikan order ke
perusahaan kami. Saat aku bertemu dengan Mia, aku terpesona pada pandangan pertama. Gara gara
effect dari wine yang terlalu banyak, membuat kami larut dalam pemainan one
night stand. Dan malam itu langsung memberikan hasil, Mia hamil.
Aku bahagia
dengan pernikahanku, istriku bukan tipe wanita kolot yang cemburu jika suami
pulang malam ataupun dugem. Aku tau Mia berselingkuh. Waktu kutanya, dia hanya
tertawa dan berkata "Kamu juga bisa selingkuh, asal kamu bisa bertanggung
jawab terhadap keluargamu ". Maka aku pun sesekali bercinta dengan
perempuan lain, hingga hubungan kami tidak monoton dan itu membuatku makin
cinta pada istriku.
--------------------------
" Pah,
besok mamah mau ke Singapore ya", malam itu di meja makan istriku berkata
" Nai, kita
titipkan ke Eyang Suryo aja yah ? " lanjut istriku
" Ngapain
dititipin? papah juga bisa jaga Nai " jawabku, Eyang Suryo adalah ayahku.
Beliau tinggal di Solo.
" Kemaren
Eyang telpon, katanya kangen ama Nai. kebetulan kan ? jadi biar Nai juga bisa
jalan-jalan ke Solo" istriku berkata sambil melap bibir Nai yang belepotan
kuah sop.
" Nai, mau
ke tempat Eyang.." kali ini Nai, bidadari kecilku berbicara.
" Nai mau
maen ke tempat mas Joko, Kemaren mas Joko bilang dia punya layangan. Nai pengen
maen.." tatap mata bidadari kecilku meluluhkanku
" Nanti Nai
berangkat sama Nia kog Pah..ga usah khawatir ." seakan membaca pikiranku,
istriku memberikan penjelasan. Aku tersenyum, khawatirku hilang. Nia adalah
adik iparku yang berprofesi sebagai penari.
" Nia kan
ada pagelaran tari di Prambanan, nanti sekalian dia mampir ke Eyang Suryo.
nganterin Nai dulu." lanjut istriku
" Oo, kalo
ada Nia ya sudah..soalnya besok papah tidak bisa mengantarkan Nai ke
Solo." ku elus rambut Nai lembut. Rambutnya keriting mirip Mia.
“ Horeee..Nai ke
Solo.." jerit Nai..
Malam itu kami
makan malam bersama, dan malam itu aku juga bercinta dengan istriku. Tapi
hatiku juga tetap membayangkan Astrid yang sedang merayakan ulang tahun
pernikahan bersama suaminya. Hatiku ingin bertanya, apa yang dimasak oleh
Astrid? apakah dia juga bercinta dengan suaminya? Hatiku panas. Aku marah.
--------------------------
" Selamat
pagi Pak " sambut Astrid ceria. Hari ini dia memakai celana capri hitam
bergaris, tanktop warna krem yang ada pita di dibagian pinggulnya. Dia terlihat
cantik dan juga sexy. Astrid mulai sibuk memberikan laporan hariannya. Kicaunya
ramai, dia terlihat bahagia.
" Ehm..,
bagaimana perayaanmu semalam ?" tanyaku sambil berpura-pura acuh.
Sebenarnya aku tak ingin bertanya, hatiku akan sakit jika dia menjawab bahagia
tapi aku tak bisa berhenti memikirkannya.
"
Ooo..suami saya.." suara Astrid terdengar sedih
" Ada apa
?" insting ku mengatakan ada yang tidak beres semalam, itu membuatku
tertarik.
" Suami
saya, tidak pulang semalam. jadi kami...tidak.." suara Astrid melirih..aku
tidak bisa mendengar kelanjutannya.
" Tapi
tidak apa apa kog Pak..suami saya berjanji weekend besok kami akan ke puncak,
Kami akan honeymoon" lanjut Astrid
Aku tau saat itu
Astrid berusaha ceria tapi dari suaranya dia masih terdengar ragu.
" Kenapa
suamimu tidak pulang ?" kali ini ego laki lakiku mulai bermain, rasa
penasaran terhadap apa yang dilakukan laki laki bodoh yang tega meninggalkan
istrinya yang cantik dan sexy di hari ulang tahun perkawinannya.
" Katanya
ada meeting pak, sampai malam. Jadi dia nginap di kantornya .." aku tau
rumah Astrid di Tangerang, lumayan jauh menempuh perjalanan ke kantor kami
ataupun suaminya di Jakarta Pusat.
" Meeting
apa meeting? " tanya ku ketus
Wajah cantik
Astrid terlihat pias dengan pertanyaanku. Dia diam. Aku merasa tidak enak.
" Ya sudah,
kamu teruskan pekerjaanmu.." suaraku melembut aku tidak tega melihat
Astrid sedih.
" Baik
Pak" Astrid berjalan perlahan, kali ini langkahnya gontai, seperti menahan
beban. Aku ingin memeluknya.
--------------------------
" Pak
Hendra sih enak, punya PA nya cantik, sexy dan suaranya itu, bikin ga kuat.
merdu sekali. hahahaha" suara tawa Rajish memenuhi lounge kami. Hari ini
kami ber 5 para manager New Fashion berkumpul sekedar melepas lelah di Shanghai
Lounge.
" Astrid
itu kan pilihan pak Malik, pasti sekarang pak Malik menyesal menyerahkan Astrid
ke lo ,Ndra!" sambung Taufan, manager HRD kami.
"
Betul..betull!! I rugi mentransfer Astrid ke you Ndra. Waktu itu I
sudah kesengsem berat ma Astrid, eh..ternyata Diana cancel pindah. Ya sudah
deh..I cukup puas ma Diana saja" pak Malik menjawab sambil membuang
asap ceturu kubanya. Beliau berusia 52 tahun. President director perusahaan
kami. Walau sudah 52 tahun, tapi dia masih terlihat muda. Biar kata- katanya
seronok, dia sudah mengondol title Haji. Istrinya 2, anaknya 7, simpanannya
tidak tahu ada berapa banyak. Menurut Yuli, Pak Malik dulu juga pernah
"main" dengan Diana, dan itu yang membuat Diana ingin keluar.
" Gimana
nih pak Hendra? Astrid memuaskan tidak?" desak Rajish. Dia, Kanna dan
Vivek adalah manager India di perusahaan kami. Perusahan kami bergerak di
bidang garment. Istilahnya kami adalah Agent, kami mencari order dari
brand-brand terkenal di dunia dan memberikan order itu ke pabrik-pabrik garment
yang ada di Indonesia. Harus ku akui, orang India memang menguasai dunia
garment. Di perusahaan kami, 3 dari 4 general manajer diduduki oleh orang
India. Aku satu satunya yang merupakan orang Indonesia asli. Bahkan pak Malik
sendiripun keturunan India Medan.
"
Yaah..kerjaan Astrid bagus" jawabku datar untuk memuaskan mereka
" Bagus
bagaimana? sudah diajak "main" belum ? dia kan beda sama Yuli,
harusnya you ajak "main" lah" desak Kanna. Diantara
general manajer yang lain, hanya dia yang belum menikah tapi tidak perlu
ditanya pacarnya ada berapa. Hampir semua karyawan wanita di kantor kami pasti
pernah dikencaninya.
Sejenak aku
memikirkan Yuli, sebagai PA dia sangat baik. Bahkan Mia sangat menyukainya.
Yuli, ibu dari 3 anak, badannya gempal, rambutnya keriting. Terhadapnya, aku
tidak pernah bisa marah, dia memperlakukanku seperti anak kecil. Dia memang
lebih tua dariku, namun umur pastinya aku tidak tahu. Yang jelas sebelum aku
masuk bekerja dia sudah di New Fashion
lama sekali. Saat Yuli berhenti, dia menangis keras, membuat seluruh kantor
melihat ke ruanganku. Aku tersenyum mengingatnya.
" See..dia
mulai tersenyum..pasti sudah .." kalimat itu terpengal oleh suara tawa
" Hey,
Astrid itu kan sudah menikah. Tidak baik menganggu istri orang" jelasku membela diri
" Jaman
sekarang, pernikahan itu cuma selembar kertas! Asal you suka sama suka, no
problem kalo you main main. Lagian you ini ganteng. I
lebih rela kalau Astrid jadi cemceman you ketimbang buat Rajish or
Kanna" kata kata Pak Malik langsung disambut gelak tawa
" Lagian,
suami Astrid kan juga selingkuh, ga papa lah kalo you ajak Astrid
selingkuh.Pasti dia sudah lama dingin masa you tidak ingin menghangatkan
?" perkataan pak Malik seakan menberi sterum pada tubuhku.
" Suaminya
Astrid itu kan salah satu manager di Siemens, keponakan I kenal ma itu
orang. Dia juga kenal sama selingkuhannya. Makanya I kasih kerjaan ke
Astrid, I kasian. Suaminya kan gak kasih money lagi ke dia"
Aku terdiam.
Rasanya malam itu menjadi sepi sekali.
--------------------------
" Bapak mo
pesan apa ?"
" Soto
betawi sama es jeruk"
" Emang
enak ya Pak ? kalo gitu saya pesan yang sama aja deh.."
Aku menganguk,
tersenyum memandang Astrid di hadapanku. Dia cantik dan juga sexy. Hari ini dia
tampak jauh lebih cantik hanya dengan dibalut jubah mandi. Dia sibuk menelpon
ke room service untuk memesan makan malam kami. Saat ini kami berada di Hyatt
room 219. Ini sudah menjadi kencan kami yang ke 4 dan selanjutnya aku sudah
membooking flight ke Bali. Astrid belum pernah ke Bali, paling tidak selama Mia
di Singapore bersama selingkuhannya, aku pun bisa bersama Astrid. Bagaimana aku
bisa bersama Astrid, tidak perlu dibahas lebih lanjut. Yang jelas aku bahagia,
dan aku tau Astrid juga bahagia. Hubungan kami simple, tanpa ikatan, tanpa beban.
Berjalan seperti air.
" Pak,
lihat..ayo kesini. Pemandangan lampunya indah sekali" suara Astrid
terdengar begitu manja
Aku berjalan ke
arah balkon, memeluknya dari belakang dan mencium rambutnya, rasanya begitu
indah.
" Kamu jauh
lebih indah, Sayang..."
Komentar
Posting Komentar