HUTANG
HUTANG
" Rin..please tolongin gue donk
kali ini.." aku memohon pada Rini
" San, gue bener bener lagi ga
punya duit nih, loh tau kan bentar lagi masuk sekolah, gue butuh duit buat beli
macem macem untuk anak gue "
" Please Rin..gue cuma butuh 1 juta
"
" San, 1 juta tuh bukan
cuma...sory, kali ini gue ga bisa bantu " dan Rini pun kembali menghadap
ke komputernya. Aku diam, bingung pada siapa lagi aku harus meminta tolong.
Dengan gajiku 7 juta per bulan sebagai
HRD di perusahaan multiinternasional, harusnya aku mampu menghidupi keluargaku
di Jakarta. Anakku baru berusia 11 bulan namun karena aku tetap menyusuinya,
kebutuhan susu tidak menjadi beban bagiku. Rumah yang kutinggali pun hasil
pemberian orang tuaku, katanya harta waris walaupun Bapak belum meninggal.
Bebanku cuma ada pada cicilan mobil yang itupun hanya menyerap 1/3 gajiku.
Namun karena suamiku berbisnis pencucian mobil dan motor, dengan gajiku rasanya
tetap saja kurang untuk menutupi kebutuhan kami. 2 kartu kreditku sudah kuambil
sampai batas limitnya. Kemarin suamiku, meminta uang lagi. Katanya bisnisnya
sedang kacau, butuh dimodalin lagi. Aku tak tahu kenapa bisnisnya selalu kacau.
Sahabatku Rini bahkan sudah tak
mempercayaiku lagi. Biasanya dia adalah orang yang paling siap membantuku,
berkali kali aku meminjam uang, dan dia selalu
bersedia, tapi terakhir kali aku meminjam uang aku melewatkan target
waktunya. Hampir 3 bulan aku tak mampu mengembalikan uang dari waktu yang aku
janjikan. Aku sebenarnya malu, tapi harus bagaimana lagi, pengeluaran suamiku
terus menerus membutuhkan sumbangan dana. Rini bahkan menuduh suamiku
mengunakan uang tersebut hanya untuk bermain main, tapi aku tahu suamiku tak
bermain main dengan uang tersebut. Hal itu yang membuat hubunganku dengan Rini
menjadi renggang.
Aku membaca sms dari suamiku " mah,
sudah dapat uangnya. papah butuh uangnya sekarang!"
Aku terdiam tak bisa menjawab, aku harus
mengatakan bagaimana lagi. Meminta siapa ? aku sudah mengajukan pinjaman pada
bank, rumah kami yang menjadi jaminannya. Tak mungkin aku meminjam ke bank
lagi. Apa aku harus membuka kartu kredit lagi ?
---------------------
" Bu Santi ada tamu" aku
terdiam, suara Tika, resepsionist mengagetkanku
" Halo, Bu..tamunya mau disuruh
menunggu diruang mana ?"
" Tika, tamunya siapa ya ? "
Diam sejenak aku mendengar Tika bertanya
pada tamu tersebut
" Halo Bu, tamunya Pak Samuel dari
Citibank "
Aku langsung merasa ketakutan, ternyata
sekarang mereka telah mengejar sampai ke kantor. Aku langsung panik
" Tika, bilang saya ada meeting dan
tidak bisa diganggu " ujarku
Sehabis aku menutup telpon, aku langsung
menemui atasanku Bu Candra untuk meminta ijin. Aku mengatakan anakku sakit jadi
aku harus pulang menemuinya. Di perjalanan pulangku dengan bis, aku terus
berpikir bagaimana aku harus melunasi tagihan kartu kreditku. Sementara
sekarang hutangku di banyak tempat terus saja menumpuk, tapi usaha suamiku tak
jua menunjukan kemajuan.
---------------------
Aku menikah dengan Arif 2 tahun yang
lalu, waktu itu aku begitu terpesona pada dirinya pada pertemuan pertama di
tempat pencucian mobil miliknya. Menurutku dia adalah pria terbaik yang pernah
ada, usiaku yang sudah kepala 3 saat itu membuatku langsung mengiyakan ajakan
nikahnya. Pernikahan kami awalnya tidak disetujui oleh orang tuaku, mereka menganggap
status duda Arif tak pantas bersanding dengan anak tunggal kesayangan mereka.
Dari pernikahan sebelumnya, suamiku memiliki 3 orang anak. Mantan istri suamiku
bekerja sebagai kepala redaktur di salah satu majalah wanita terkenal ibukota,
aku tahu hidupnya pasti jauh lebih makmur dariku. Tapi dia masih terus meminta
pertanggungjawaban suamiku untuk membiayai anak anak mereka.
Terkadang, aku ingin melabrak mantan
istrinya, aku tahu dia hidup nyaman di Pondok Indah, mobilnya aku tahu ada 2,
kemarin saja mereka berlibur ke Singapore. Yang tentu saja biaya perjalanan itu
dibiayai oleh hasil peminjaman uang olehku. Suamiku tak bisa menolak setiap
permintaan dari mantan istrinya, mungkin itu karena akibat dari rasa
bersalahnya telah meninggalkan mereka demi diriku. Maka semua tuduhan Rini
bahwa suamiku bermain main dengan uang yang aku pinjaman sama sekali salah.
---------------------
" Lo sekarang berubah San ?"
tegur Rini
Aku diam sambil tetap memandang monitor
komputerku
" Kita makan siang yuk "
Aku mengeleng, perutku lapar tapi aku
tak punya uang untuk makan siang. Sudah 2 minggu ini aku puasa makan siang,
sehari hari aku dan suamiku hanya makan nasi dan supermie. Berat badanku pun
turun drastis. Anakku ku titipkan pada orang tuaku, aku tak mampu lagi membiayainya.
Aku tahu orang tuaku sangat senang mengurus satu satunya cucu mereka, ayahku
seorang pensiunan ABRI yang cukup punya pamor, hidup mereka dari uang pensiun
lebih dari cukup, tapi aku tak punya muka untuk meminjam uang pada mereka.
" Lo lagi diet ya ?"
Aku pura pura tersenyum
" Yuk makan, gue yang traktir
"
" Ga, Rin..makasih..gue lagi puasa
kog " ujarku berbohong
" Loh, bukannya lo lagi datang
bulan? kog puasa ? " aku mati kutu
" Udah, yuuk, kita makan siang
" Rini menarik tanganku
Kami makan di rumah makan padang,
rasanya sudah lama sekali aku tidak makan makanan enak semenjak aku menikah.
Aku langsung mengambil rendang dan paru goreng. Rini hanya tersenyum melihatku
makan, aku makan seperti orang yang kelaparan, maklum selama ini menuku hanya
sebatas supermie dan telur.
" Bisnis suami lo gimana ?"
Aku terdiam, susah untuk menjawab
" Lumayan lah "
" Ooo, baguslah "
Aku merasa leherku tercekat oleh
perhatian Rini dan tanpa sadar air mataku mulai meleleh. Rini langsung
beringsut kearahku dan memelukku, disitu aku menangis.
---------------------
“ Rin, pinjem duit donk “
“ Huu, katanya ga mo pinjem duit lagi “
Aku mencibir, tapi Rini sambil tertawa
menyodorkan uang sepuluh ribu untukku membayar siomay Mang Deden tidak punya
kembalian untuk uang yang aku sodorkan sebelumnya,
Atas dukungan Rini, aku menceritakan
permasalahanku dengan suamiku. Kuceritakan semua keberatanku tentang pinjaman
pinjaman uang itu. Kami langsung bertengkar hebat, dia menuduhku sebagai istri
aku tak mau mendukungnya. Karena kami tak mencapai kata sepakat, aku memutuskan
untuk bercerai. Sekarang dia kembali kepada mantan istrinya yang siap sedia
untuk menghidupinya. Orang tuaku awalnya kaget dengan keputusanku, tapi mereka
mendukung semua keputusanku. Rumahku dijual untuk melunasi hutang hutangku, dan
aku kembali kepada orang tuaku dan kehidupan single dengan 1 anak. Tapi itu
sungguh membuatku lebih bahagia.
Komentar
Posting Komentar