PEREMPUAN MALAM
PEREMPUAN MALAM
----------------------------
" Jeng,
temenin kangmas yuk"
" Ih, mas
nakal deh..."
" Ayuk,
lah...malem ini temani mas saja "
"
Bookingnya dihitung 1 malam ya mas.."
" Ah, itu
mah beres, nanti tergantung servis saja..hahaha "
Malam itu aku pun
melayani Darno, tukang tambal ban yang biasa mangkal di daerah Terminal
Tirtonadi. Lumayan, setidaknya dari dia aku mendapat 50 ribu rupiah, tumben si
Darno banyak duit. Padahal “maen”nya pun hanya sebentar, hingga aku masih bisa
melayani pelangan yang lain. Malam itu pun aku bisa mendapat 120 ribu. Benar
benar lumayan.
----------------------------
" Mirna,
aku pinjem lipstikmu sing abang yo " Siti mulai mengobrak abrik peralatan
make up ku. Yang kusebut peralatan make up itu pun sebenarnya hanya berisi
lipstik, bedak dan pemulas pipi yang
juga digunakan sebagai pemulas mata.
" Lah,
endhi tho..kog 'ra enek ? " suara Siti mulai frustasi
" Aduh,
mbakyu...iki loh.." aku pun langsung mengancungkan lipstik yang dengan
segera kutemukan tertutup oleh tutup bedak Marks " lah wong ngolekine karo
emosi yo 'ra bakal nemu.."
"hehehehe,
isin aku.." tawa Siti.
Sore itu kami
sibuk berdandan, maklum jam kerja kami berbeda dengan orang kantoran. Kami
mulai bekerja jika matahari mulai beristirahat. Siti adalah teman sekamarku,
kami berdua tinggal dipetakkan kamar 3 x 4 meter di daerah terminal Tirtonadi.
Untuk mengirit ongkos kami pun berbagi kamar soalnya harga kamar disini lumayan
mahal bagi kantong kami.
" Kowe iki
wis ayu, ra usah didandani yo wis ayu.." puji Siti, setelah mengamati
penampilanku yang memakai tank top merah, dan rok mini jeans. Aku hanya
tersenyum. Dan kami siap berangkat bekerja.
Dibandingkan
Siti aku memang lebih beruntung dalam hal penampilan, dalam segi kehidupan aku
selalu merasa iri. Siti mempunyai suami dan anak di kampungnya, Boyolali.
pekerjaan ini pun sudah mendapat persetujuan dari suaminya, yang harus hidup
lumpuh di kampung. Dia menjadi tulang punggung bagi keluarganya, anaknya 2
ingin disekolahkannya sampai SMU. “anakku kudu dadi wong pinter “ begitu selalu
Siti bicara, hingga pekerjaan ini pun rela dia jalani.
----------------------------
"Mirna,
kowe iki ayu tenan " rayu Jumadi. Dia adalah preman di terminal Tirtonadi.
Badannya kekar, dengan tato dimana mana.
" Wis kowe
dadi bojo ku wae " aku benci saat Jumadi mabuk, bau minuman keras teras
begitu menyengat. Tapi aku tidak bisa lari, jika aku lari maka aku akan mati.
Hidup di lingkungan keras terminal Tirtonadi, mengharuskan aku bersaing hingga
aku pun harus mencari perlindungan supaya "dagangan" ku laku. Malam
itu aku pun menemani Jumadi sampai pagi sekedar membayar biaya perlindungan.
----------------------------
" Mir,
bapakmu sakit " aku mendengar laporan mas Joko.
" mbok kamu
pulang aja " lanjutnya
" ngapain
juga hidup di kota kalo jadi ... "
" jadi apa
mas...? jadi pelacur maksud mas ? " aku menjawab cepat. Kesal. Aku melihat
mas Joko menarik nafas.
" Mas ga
bermaksud ngomong kayak gitu..."
aku tahu mas Joko serba salah, dia adalah keponakan bapak dan satu
satunya saudara yang begitu perhatian. Usianya sudah kepala 3, anaknya 1
meninggal tahun kemarin karena demam berdarah. Istrinya bekerja di Malaysia
sebagai TKW dan dia bekerja untuk mengarap sepetak tanah peninggalan keluarga.
" Tapi kamu
kan tahu, bapak itu sudah tua, kalau dulu kalian ada masalah...dilupakan saja.
apa ga kasian sama emakmu ?”
Dan pikiranku
pun terbang mengingat emak. Ubannya pasti sekarang sudah bertambah. Apakah
beliau bertambah kurus? Tangannya dulu yang selalu membelaiku begitu kurus,
hingga aku selalu bisa merasakan tulang jemarinya. Kulitnya coklat yang
terbakar matahari karena mengarap sawah. Aku hanya bisa tergugu.Diam.
" Mir, coba
kamu pikirkan lagi, buat apa kamu hidup disini. pulanglah. tinggal di kampung
itu jauh lebih baik "
Setelah 1 jam
percakapan yang bertopik sama, Mas Joko menyerah dan pamit pulang. Dia
memberiku uang yang terang saja aku tolak. aku tahu hidupnya jauh lebih susah
dariku.
----------------------------
" Mas mu
wis bali, Mir ? " tanya Siti, sambil menyetrika baju
" iya"
jawabku datar. Menghemparkan badan ku di kasur tipis milikku. Aku mulai
mengambil rokok dan menyalakannya
" mas mu
njaluk kowe bali kampung meneh ?"
Aku
menghembuskan asap rokok. Asap itu mengepul dan menghilang.
" Jek kesel
karo bapakmu ? " Siti membuka lemari pakaian kami, dan mulai mengatur baju
bajunya.
" Dosa, nek
kowe kesel karo wong tuwo. Mengko kowe jadi anak durhaka! " aku benci saat
Siti mulai menghakim.
" dosa???
aku wis kelalen karo dosa" jawabku sinis. aku mematikan rokokku dan keluar
dari kamar. Aku butuh udara segar. Pikiranku kembali lagi, 7 tahun yang lalu
saat umurku baru 16 tahun. Kata orang, aku memang cantik. Sangat cantik sampai
bapakku sendiri memperkosaku.
----------------------------
" Tiin
tinn....minggir kamu !!! " aku kaget akan suara motor dan segera
menyingkirkan tubuhku dari ruas jalan. Malam ini aku menunggu di Manahan.
Sekedar menganti suasana, karena di Tirtonadi sudah terlalu banyak orang yang 1
profesi dan lagi upah di daerah Manahan katanya lebih besar. Paling tidak aku
ingin mencoba keberuntunganku. Tapi ternyata aku memang harus berusaha lebih
keras lagi. Ternyata disini sudah ada penguasanya, dan mereka tampak sangat
tidak menyukaiku.
" Hei, kamu
anak baru ya? " seorang perempuan, memakai jeans skinny dan tank top hitam
bertuliskan ESPRIT berjalan mendekatiku, diikuti 2 orang perempuan lagi. Dia
memegang wajahku dan mulai mengamatiku " Hem, cantik juga" aku
menepiskan tangannya dari wajahku.
" Dari mana
kamu? ngapain kamu jualan disini !! " suaranya sekarang menjadi bentakan
" Emang ga
boleh ? " jawabku menantang " Ini kan bukan tanah nenek moyangmu
"
" Eh..cah
iki, kurang ajar " salah seorang dari pengikut itu bersuara. Mereka tidak
cantik, sudah mulai peot. Aku hanya
tertawa sinis. Aku jauh lebih cantik, aku pasti lebih laku dari pada mereka.
" Pancen
kurang ajar. Kamu tau, untuk bisa jualan disini kamu harus minta ijin sama
aku!! " sembur si baju Esprit
" Aku ini
penguasa di Manahan, kamu mesti kasih 50% dari upahmu kalo mau jualan disini
"
" Haah..50%
!! mimpi kowe !! ngapain hasil kerjaku tak bagi karo kowe " aku menghardik
keras dengan kedua tanganku berkacak pinggang.
" Berani
yaa kamu !! " si baju Esprit mulai
menjambak rambutku. aku membalas. Perkelahian pun tidak bisa dihindarkan
sampai...
" STOP
berhenti !!! " 3 orang polisi datang melerai kami. Rambutku yang tadinya
ku jepit rapi, menjadi berantakan tak karuan. Bibirku terasa asin, terluka oleh
perkelahian. Kami pun digiring ke kantor polisi Manahan. Ternyata malam ini ada
operasi. Dan malam itu aku menginap di sel penjara, bersama 17 pelacur lainnya.
Tangis dan rutuk para pelacur karena tertangkap ramai menghantui. Aku tidak
bisa tidur. Aku rindu Emak.
----------------------------
Esok paginya,
aku pulang. Salah seorang polisi ada yang merupakan pelangganku, dan dia
berbaik hati untuk membantu melepaskanku. Aku pun melangkah keluar dari kantor
polisi dengan pasti. Aku ingin pulang. Aku rindu emak, semalaman di penjara
membuatku menyadari bahwa kesalahan bapak harus aku lupakan, dia sudah tua dan
siap menjelang ajal. Tak pantas jika aku masih mempersalahkannya, mungkin saat
itu beliau sedang khilaf. Rasanya hari itu begitu cerah, baru kali ini aku
merasa bahwa dunia sangat indah, aku mulai tak sabar untuk sampai ke rumahku di
kampung. Aku berjalan cepat dan mulai bersenandung kecil.
"
Tiin..tiinnn..." aku menoleh, ada mobil melaju cepat dan kemudian semuanya
menjadi gelap.
----------------------------
sing abang :
yang merah
endhi : mana
'ra : tidak
enek : ada
iki : ini
ngolekine :
mencari
karo : dengan
isin : malu
Kowe : kamu
wis : sudah
kudu : harus
dadi : jadi
wong : orang
tenan : benar
bojoku: istriku
wae : saja
bali : pulang
njaluk : minta
meneh : lagi
Jek : masih
wong tuwo :
orang tua
mengko : nanti
kelalen : lupa
cah : anak
Pancen : memang
Komentar
Posting Komentar