SAAT BERTEMU JO

Udara di Purwokerto sangat panas. Tumben, padahal biasanya kota ini selalu adem. Aku berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan Moro. Ibuku meminta dibelikan apel dan terigu, beliau ingin membuatkan apel pie kesukaanku. Aku memandangi sepanjang jalan, banyak yang berubah selama 5 tahun ini, sudah banyak ruko ruko yang berdiri disepanjang jalan utama Sudirman. Rumahku terletak dibelakang jalan utama, perumahan pertama di kota Purwokerto. Aku melap butiran keringat yang muncul dengan ujung kaosku. Menyesal juga, kenapa aku mengunakan lengan panjang, tadi kupikir lebih baik lindungi kulitku dari sengatan matahari, tapi ternyata mengunakan tanktop justru pilihan yang lebih baik.

" Ica ya ?" aku menoleh saat mendengar ada orang yang menyebut namaku. Aku pun menghentikan langkahku, tinggal 10 langkah lagi aku harusnya memasuki gedung Moro, dimana disitu ada AC yang akan menyelamatkanku. Mataku menyipit memperhatikan seseorang berjalan mendekatiku, syaraf syaraf otakku ku paksa untuk mengingat orang ini.
" Ica?...ica kan, ini aku..Jo teman SMU mu " orang didepanku meraih tanganku dan menjabatnya erat sekali.
Aku hanya tertawa kikuk, kemudian ingatanku melayang ke 9 tahun yang lalu. Jo, teman SMU ku di SMU 1, selama 2 tahun kami sekelas. Dia berubah, tubuhnya tampak lebih tinggi dan berisi. Dulu waktu di SMU dia sangat kurus, hingga kami menjulukinya 'Biting".

" Wow..Ca, kamu ga berubah, masih saja cantik..tambah cantik malah"  Jo terus saja memujiku, akhirnya kami mengobrol di food court  Moro.
" Kamu berubah Jo, aku ga ngenalin kamu lagi "
" Hahaha, ini akibat fitnes, waktu kuliah aku ikut fitnes, sekarang juga masih kog " Jo, tampak lebih percaya diri, dulu waktu SMU dia sangat pemalu biarpun dulu Jo adalah ketua kelas yang dipilih karena paling pintar.
" Denger denger habis kuliah kamu pindah ke Singapore. Lalu sekarang di Purwokerto untuk holiday atau seterusnya ?"
" Rencananya seterusnya, setelah kuliah di Yogja aku dapat kerjaan di konsultan bangunan di Singapore. Tapi kerja selama 5 tahun cukuplah buatku, aku pulang Purwokerto mau bikin usaha kue saja "
" Bagus itu, bikin usaha sendiri memang lebih baik. Sekarang aku juga usaha sendiri. 3 tahun yang lalu aku berhenti dari bank tempatku bekerja. Sekarang usaha ayam ternakku lumayan berkembang" ujar Jo membanggakan diri.
" Iya..usaha sendiri emang enak, tapi untuk masarinnya aku masih have no idea " aku mengeluh
" Urusan itu, aku bantu deh nanti " Jo menepuk bahuku
Kami menghabiskan waktu hampir selama 2 jam untuk mengingat masa lalu, kemudian Jo berbaik hati mengantarkanku sampai ke rumah setelah ibuku menelpon menanyakan apelnya. Rasanya setelah sekian lama tinggal di Singapore yang penuh dengan iklim individualistis, bertemu dengan teman lama menimbulkan kebahagian tersendiri bagi orang timur seperti aku. Begitu sampai rumah, aku mencari album kenangan SMU ku, disitu pada foto Jo, aku menulis " Jadikan Aku Pacarmu ", mengutip sebuah judul lagu dari Sheila on 7. Aku tersenyum.

9 tahun yang lalu, aku terpesona pada Jo karena Jo suka membantuku dalam memahami pelajaran dan terkadang mengerjakan PR. Cuma aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapannya. Waktu dulu, aku memiliki teman 1 geng wanita, dan menurut teman temanku yang lain sosok idola adalah seorang yang pintar basket bukan pintar pelajaran. Maka aku pun mengubur perasaanku pada Jo.

Esoknya, Jo menjemputku. Kami akan lari pagi mengeliling GOR Purwokerto. Disana pula ada beberapa teman SMU kami yang berkumpul. Rupanya Jo telah menghubungi beberapa teman kami yang ada di Purwokerto. Setelah berputar selama 3 kali, kami beristirahat di bubur ayam Bandung. Suasana GOR di hari minggu penuh dengan orang yang berjualan, banyak orang yang ingin berolahraga dan  berkumpul dengan teman teman, seperti yang kami lakukan.

" Ca, tar kalo kamu udah bikin usaha kue, bisa ditawarin ke kantorku nih " Dina menyerahkan kartu namanya padaku. Dina bekerja di Telkom rupanya.
" Kalo bisa sekalian ama catering makan siang, Ca. Dikantorku kalo siang kita bingung mo makan apa. Masakan Ibumu kan terkenal enak " Yusuf menambahinya
" Besok sepupuku mo nikahan, nanti aku bilang supaya dia pesen kuenya ma kamu aja, Ca " sekarang giliran Ririn yang memberi order.
Pagi itu aku telah mengantongi 5 kesempatan untuk usaha kueku. Ternyata berkumpul dengan teman lama memberikan jalan untuk usahaku.

" Makasih ya Jo "
" Makasih buat apa ? "
" Buat ngajakin aku ke kumpul kumpul, aku kan jadi dapet order nih " aku memandang Jo yang sedang menyetir
" Oh, itu..kog makasih? semenjak lulus SMU ga pernah ada kabar tentang kamu, jadi pasti mereka senang ketemu ama idola mereka lagi “
" Siapa yang idola?" aku tersipu
" Kamu!! dari jaman SMU kamu kan selalu jadi idola. Kamu adalah cewek tercantik di sekolah kita. Semua orang menyukaimu, aku terutama "
mukaku benar benar menjadi tomat mendengar pengakuan Jo. Aku mulai berpikir, apakah cinta monyetku akan menjadi cinta terakhirku ?

Sewaktu kuliah Teknik Geologi di UGM, aku bertemu dengan seseorang yang membuatku melupakan Jo. Selama 4 tahun aku pacaran dengan Dion, aku jarang sekali pulang ke Purwokerto. Hampir setiap liburan Dion selalu mengajakku pulang ke rumahnya di Solo. Kebetulan kakek nenekku orang Solo, hingga saat lebaranpun aku pulang ke Solo.
Purwokerto seakan menjadi kota yang terlupakan, apalagi saat aku mengetahui Dion berselingkuh dengan adik kelasnya, aku langsung memutuskan menerima tawaran pekerjaan di Singapore. Lagi, selama 5 tahun di Singapore aku tak pernah pulang ke Purwokerto.

" Makasih sudah dianterin ya, hati hati dijalan, ga usah ngebut Jo!!!" aku mengucapkan salam pada Jo sebelum honda civic hitam itu pergi.
Akhir akhir ini aku selalu pergi bersama Jo. Dia membantuku dalam menjalani bisnis kueku. Terkadang dia bahkan mau mengantarkan kue ke pemesanku. Dan Jo sama sekali tak mau menerima pembayaran apapun atas jasanya. Aku tambah terpesona. Aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta kembali.
" Jo sudah pulang ?" Ibuku menyapaku
" Sudah Bu"
" Ibu tadi lihat ada kemeja bagus, Ibu beli buat Jo, nanti dikasih ya. Dia kan sudah banyak membantu kita "
Aku hanya tersenyum, Ibuku pun sangat menyukai Jo. Aku tambah berpikir, Jo benar benar jodoh yang tepat untukku.

"Ca, aku ingin bicara tentang sesuatu"
Hatiku berdebar, apakah ini saatnya? saat Jo akan melamarku ? Tadi pagi aku menerima SMS dari Jo, mengatakan dia harus bertemu denganku untuk membicarakan hal yang sangat penting. Mengingat semua perhatian Jo padaku, aku merasa bahwa Jo juga menyukaiku dan akan melamarku. Untuk pertemuan ini, aku khusus mengunakan baju baruku. Aku ingin terlihat cantik dihadapan Jo malam ini.
" Aku akan menikah " Jo didepanku berkata dengan wajah yang begitu bersinar. Aku terpaku.
" Ran akan kembali dari Jepang, dan kami akan menikah minggu depan, setelah menikah aku akan menyusulnya ke Jepang " Jo bercerita dengan antusias, tapi aku merasa telah lenyap ditelan bumi. Celotehan Jo mulai tidak terdengar.


" Ca..Ica..acara akadnya Jo akan segera dilangsungkan. nanti kita telat kalau tidak berangkat sekarang" samar samar aku mendengar Ibuku mengedor pintu kamarku. "Ca..." aku mendengar ayahku dan adikku, bergumam...dan bunyi pintu didobrak. Aku masih mendengar suara Ibu menjerit. Mungkin kaget melihat diriku, aku merasa darah mengalir deras dari pembuluh nadi tanganku . Membasahi undangan pernikahan Jo berwarna pink yang dibuat sangat mendadak. Disitu tercantum, menikah Joshepine Widya Astuti dan Randu Permana. Nafasku menghilang. Semua gelap.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake