Saat Kikan menunggu mama pulang



" brak "

Kikan membanting tudung saji itu. kesal. tak ada apa apa di dalam tudung saji itu. perut Kikan mulai berontak, kompak melakukan koor kelaparan.dari pagi perut Kikan belum diisi apa apa. semalam, Kikan berkunjung ke rumah sahabatnya Airil untuk meminta makan. sekarang jika ke tempat Airil lagi, Kikan merasa malu. sudah 3 hari ini setiap makan siang dan makan malam Kikan numpang makan. alasannya Kikan ingin belajar bersama Airil sehabis pulang sekolah, dan pura pura kelupaan barang disaat makan malam. padahal keluarga Airil bukanlah keluarga yang berlebih, makan buat Airil saja dijatah, jika ditambah dengan adanya Kikan, Ibu Airil pasti cukup pusing. apalagi Kikan bukan type yang makan sedikit.

Kikan melongok ke kamar mama. kamar itu kosong, mama entah ada dimana. padahal ini masih siang, seharusnya mama belum pergi bekerja.air mata Kikan mulai mengalir, Kikan mengucek ucek matanya dengan sudut lengan kemeja sekolahnya yang putih merah. Kikan mulai kehilangan mama. sudah 3 hari ini  mama tidak ada di rumah. biasanya mama hanya bekerja di waktu malam, saat pagi hari di saat Kikan bangun mama pasti sudah ada untuk membantu Kikan berangkat sekolah.

Kikan mengelosor di depan pintu kamar mamanya. dia mulai mengangis dan mengebrak ngebrak dinding. khas jika Kikan sedang ngambek. sewaktu dulu Kikan minta dibelikan sepeda sama mama, Kikan berpola yang sama. hingga tetangga berdatangan, mama sibuk membujuk Kikan dan berjanji akan membelikan sepeda minggu depan. tapi itu tak cukup menenangkan Kikan. akhirnya mama pun pergi ke toko sepeda yang berjarak 30 menit dan menenteng sepeda untuk Kikan. sepeda itu berwarna pink, warna kesukaan Kikan, entah dari mana mama punya uang untuk membeli sepeda, Kikan tak pernah ingin tahu.

Kikan kangen mama. dia kangen sop sosis buatan mama. apalagi ayam goreng mama. entah mengapa, masakan mama selalu enak. teman teman Kikan pun selalu memuji masakan mama. jika teman teman Kikan main berkunjung, mama pasti akan langsung membuatkan puding susu. puding kesukaan Kikan.

Kikan sayang mama. dari dulu Kikan hanya hidup berdua dengan mama. sewaktu Kikan berumur 5 tahun, Kikan pernah bertanya, " papa Kikan mana ? ". mama hanya menjawab " mama akan menjadi papa bagi Kikan " saat itu mama memeluk Kikan dan menciuminya. Kikan sudah senang. Kikan tidak butuh papa. baginya mama saja sudah cukup, karena mama selalu ada dan menemani Kikan.

" ma..mamaaa......huu..huu...mama...."

Kikan menangis keras, tapi tangisnya tak membuat mama hadir. di rumah munggil itu tanggis Kikan mengema.

" ma, pelacur itu apa ? " itu pertanyaan Kikan seminggu yang lalu.

mama yang sedang mengiris wortel untuk sop langsung terdiam.

" kenapa Kikan nanya itu?"

" mamanya Susi kemarin bilang, katanya mama Kikan pelacur. emang pelacur itu apa ma? "

mama berbalik dan memeluk Kikan. mama menangis, Kikan tak tahu kenapa mama menangis. waktu itu Kikan hanya membelai rambut mama, seperti yang biasa mama lakukan jika Kikan menangis

" hus..hussh...mama jangan nangis. Kikan sayang mama "

Kikan malam itu tidur dengan mama. mama tidak pergi bekerja. kata mama " mama hanya ingin bersama Kikan".

----------------

Kikan menangis hingga lelah dan tertidur. di dalam mimpi Kikan bertemu dengan mama. di sebuah kebun bunga dengan warna warni yang cerah. mama mengunakan baju pengantin warna putih, Kikan ada disampingnya juga dengan baju yang sama. Kikan dan mama menari bersama. berputar putar mengejar kupu kupu. mama tertawa, Kikan tertawa lebih lebar.

" tok..tok..."

Kikan kaget dan terbangun. ada yang mengetuk pintu. Kikan langsung berlari cepat dan membuka pintu, berharap itu mama. tapi Kikan kecewa, itu bukan mama. .

" Ki..Airil bawain kue buat Kikan " di depan pintu ada Airil tersenyum lebar sambil menyorongkan sepiring kue pisang.

Kikan terharu akan perhatian Airil. Kikan menerima piring itu sambil tangan kiri menghapus ingusnya. air matanya masih saja mengalir.

" makasih ya Ril "

" gapapa kog, tadi pagi Ibu dapat kiriman pisang dari pakde di bekasi. Kikan belum makan kan? ayo, kuenya dimakan..."

Kikan menganguk. di teras rumah, Kikan langsung menghabiskan 5 pisang goreng dan isi piring itu pun langsung licin tandas.

" mama Kikan belum pulang ?"

Kikan mengeleng pelan

" nanti pasti mama Kikan pulang kog " dengan bijak Airil menepuk nepuk punggung Kikan. mengikut adegan sinetron di TV.

Kikan melepas Airil pulang di saat magrib setelah Airil puas bermain dengan boneka boneka Kikan. Kikan mengantarkan Airil sampai halaman dan melambaikan tangannya. Airil membalas lambaian tangan Kikan dengan teriakan " hati hati dirumah ya Ki..". Kikan merasa kesepian lagi, bukan karena akan sendirian dimalam hari, tapi karena biasanya disaat magrib seperti ini, Kikan akan melambaikan tangan pada mama, mengucapkan selamat bekerja. tapi saat mama bekerja Kikan tak pernah merasa kesepian. saat mama akan bekerja, mama akan terlebih dahulu menyediakan bermacam macam makanan buat Kikan, hingga Kikan tak akan merasa kesepian di rumah.

Kikan mulai menangis lagi dan perut Kikan pun berbunyi lagi, waktunya meminta jatah untuk makan malam.

----------------

" Kikan ga pengen mama jadi pelacur lagi "

Kikan berkata lantang pada mama, saat Kikan mengantarkan mama berangkat kerja 3 hari yang lalu. mama Kikan terpaku di halaman, diam.

" kata pak uztad, pelacur itu pekerjaan yang tidak baik. Kikan ga pengen mama bekerja yang tidak baik "

" Kikan........"  mama terlihat lemas.

" Kikan sayang, mama harus kerja. biar Kikan bisa makan, beli baju, punya boneka lucu "mama berlutut di depan Kikan, membelai halus rambut Kikan yang ikal.

Kikan terdiam. otaknya yang kecil belum bisa menangkap maksud perkataan mama.

" tapi mama bisa cari pekerjaan yang baik kan ? " mata bulat Kikan bertanya. Kikan sebenarnya tidak tahu arti pekerjaan yang baik atau tidak, yang dia tahu pak uztad tadi sore berkata bahwa kalau mencari pekerjaan harus yang baik.

" mama jangan jadi pelacur ya...kata pak uztad itu ga baik..." Kikan mengulangi perkataannya lagi. dengan sok bijak Kikan menepuk nepuk bahu mama. mama hanya tersenyum. Kikan dan mama berpelukan erat, lama sekali. sebelum akhirnya mama tetap pergi bekerja.

----------------

Kikan masih menangis. perut Kikan masih juga berbunyi. pipi gembil Kikan terlihat kempot, matanya Kikan yang biasanya ceria sekarang pun memerah seperti tomat. Kikan menangis di kamar mama, memeluk daster mama, ada wangi mama di situ. Kikan ingin ketemu mama. bayangan mama Kikan yang selalu tampak cantik dan wangi muncul di pelupuk mata Kikan. Kikan menangis semakin keras, suara tangisnya kembali mengema di rumah munggil itu.

" tok..tok.." sayup sayup terdengar ketukan di pintu

Kikan menajamkam telingganya. suara ketukan itu semakin keras. Kikan tak tahu sekarang sudah jam berapa. yang jelas langit di luar rumah sudah gelap.

" TOK..TOK.."

Kikan langsung berlari ke pintu dengan cepat. Kikan berharap itu mama.tapi sekali lagi Kikan kecewa.

" oh, pak uztad..." suara Kikan melemah. rasa kecewanya tak lagi bisa ditutupi

" assalamualaikum Kikan " sapa pak uztad Budy. di belakang uztad Budy ada rombongan bapak dan ibu. Kikan hanya mengenali beberapa, diantaranya ada pak Iwan, ketua RT dan orang tuanya Airil. Kikan tidak tahu kenapa ada rombongan datang ke rumahnya.

" wa'alaikum salam pak uztad "

" Kikan di rumah sendirian ya ? "

Kikan menganguk

" Kikan sudah makan ? "

Kikan mengeleng

" Kikan makan dulu ya ? ini ada nasi rames dari Ibu Susi " Ibu nya Airil mendekat dan menyodorkan sebuah bungkusan. Kikan langsung sumrigah. cepat cepat Kikan mengambil bungkusan itu dan berlari ke dapur. di depan TV Kikan memakan nasi rames itu, walau rasanya tidak seenak bikinan mama, nasi rames itu tetap juga dilahap Kikan.

Kikan merasa heran, rombongan pak uztad masih saja berkumpul di depan teras. Ibu Airil dan seorang ibu yang merupakan tetangga rumah duduk menemani Kikan makan. mereka tampak berbisik bisik, dengan sesekali mengelus rambut ikal Kikan. Kikan tidak perduli, dia terus makan dengan lahap.

Kikan melap mulutnya dengan ujung seragamnya. sudah 3 hari semenjak mama tidak ada Kikan tidak berganti baju. tidak ada mama yang menyiapkan baju buat Kikan. untuk anak berumur 7 tahun, Kikan memang manja. semuanya kebutuhannya diurus oleh mama. bahkan mandi dan gosok gigi pun diurus oleh mama. mama sayang Kikan karena Kikan adalah anak satu satunya mama.

Kikan bertanya pada Ibu Airil.

" mama mana ? "

Ibu Airil dan tetangga Kikan hanya berpandangan.

" kog mama belum pulang pulang ? Kikan kangen mama " dan air mata Kikan tak lagi dibendung.

Ibu Airil hanya memeluk Kikan.

" sabar ya sayang, mama Kikan lagi pergi "

" pergi ? pergi kemana ? kog Kikan ga diajak ?" mata bundar Kikan langsung menuntut jawab dari Ibu Airil.

Ibu Airil hanya diam

" Kikan, mama Kikan pergi menemui Tuhan " Pak uztad tiba tiba saja duduk disamping Kikan. bapak bapak rombongan yang lain tampak memenuhi rumah Kikan. beberapa mulai tampak mengatur rumah. kursi kursi tampak diangkut. beberapa bapak tampak membawa tikar.

Kikan memandang pak uztad dengan pandangan bingung

" emang Tuhan ada dimana pak uztad ?kog mama ga ngajak Kikan ? "

" tempat Tuhan jauh sekali Kikan. jadi mama Kikan ga bisa ngajak Kikan, soalnya mama Kikan ingin Kikan sekolah yang rajin dulu "

Kikan tampak diam.

" kalo Kikan sekolahnya rajin, Kikan bisa nyusul mama menemui Tuhan ya? "

Kikan melihat pak uztad hanya tersenyum. otak kecil Kikan belum bisa menangkap maksud pak uztad, yang Kikan tahu adalah mama menunggu Kikan di tempat Tuhan. maka Kikan berjanji pada dirinya sendiri bahwa Kikan akan belajar rajin di sekolah hingga Kikan bisa menyusul mama di tempat Tuhan.

----------------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake