sahabat



Aku membanting tas ku keras keras ke tempat tidurku. Seluruh isi dari tas mungilku yang kemarin ku beli di tajur langsung berserakan. Aku kesal. Sudah 4 kali kami janjian tapi mereka selalu mencancel in the last minute. Padahal aku sudah duduk manis menunggu mereka di Blitz Megaplex. Ticket pun sudah ku pesan 3, alhasil aku membuang tiket itu di tong sampah. ga mau aku menonton sendiri!

Kami dulu selalu bersama, semenjak kuliah di jakarta.aku yang anak perantauan dari kediri. merasa punya keluarga kedua. Aku dulu selalu merasa persahabatan kami akan tetap abadi. Namun sekarang, disaat semua sudah bekerja, kami bahkan tak pernah bertemu. Aku mulai menangis sambil memeluk foto yang aku pajang di samping tempat tidurku. Di pojok atas foto tersebut aku menulis " friends are like stars, you dont always see them but you know they are always there". Itu foto 2 bulan yang lalu, saat kami berfoto di foto box mall pondok indah. Sebelum Angel memutuskan untuk bekerja di law firm dan Vina menjadi pengajar guru di EF.malam itu aku tertidur dengan bantal yang basah dan bermimpi akan masa lalu.

------------------------------------------
" sorry, Na..jangan ngambek donk..kemaren gue harus lembur di kantor. gue harus ngecel hasil test siswa"
" Na, ngomong donk..jangan diem aja.."  Vina, masih berbicara diseberang sana.
" udahlah, gue cape ngajakin kumpul kalo pada akhirnya ga ada yang minat" ujarku ketus
" Na...maaf.." aku tau Vina masih ingin menyambung kata2nya, namun emosiku yang membubung membuatku memutuskan line telefon. sebelum Vina menelpon, Angel terlebih dahulu mengirim sms, yang tanpa kubaca langsung ku delete.

" kenapa Na? berantem ma cowoknya ya ? " pak Dirman, senior accoutant yang duduknya persis disamping kubikelku.
" asal nuduh aja !!" sahutku masih saja ketus
" ga baek berantem terus ama cowoknya loh, nanti kalo putus beneran baru nangis " lanjut Pak Dirman, dia merasa sudah makan asam garam dengan menikah sebanyak 3 kali, istri pertama dicerai karena tidak mau dimadu. istri kedua merupakan mantan wanita idaman sewaktu bersama istri pertama. dan 2 bulan yang lalu dia menikahi wanita lain dibawah tangan, yang jelas tidak diketahui sang istri kedua.
" susah loh sekarang nyari cowok, sekarang aja perbandingan cowok dengan cewek itu 1 banding 8, makanya kalo dapat cowok..jangan dilepas" gaya pak Dirman sok meyakinkan, kayak dirinya itu cakep cakep amat.
" ih, bapak nih ya..udah Nana bilangin..Nana ga tengkar ma cowok Nana.Bapak sok tau aja deh " semburku dengan dagu berlipat dan pandangan mata lurus ke depan komputer, berusaha tidak menggagas ocehan Pak Dirman.
" lah, itu..tadi tengkar ma sapa?"
" bukan ma sapa sapa"
" tapi kog tengkarnya serius banget "
" Aduh, udah deh bapak diem aja"
" tar kalo diem, dikira ga care. entar bisulan loh kalo marahnya dipendem"
kali ini batas kesabaranku sudah habis. ku balikan badanku menghadap pak Dirman. kutatap lekat lekat matanya. dingin. Pak Dirman mulai serba salah. " oke deh, bapak diem aja" dan pak Dirman beringsut kembali ke kubikelnya.
kesal. aku pun memilih ke pantry.
------------------------------------------
" emang ada apa sih Na? " tanya supervisorku mba Intan. umurnya 35 tahun. tapi penampilanya yang chic membuatnya masih seperti anak kuliahan. tidak ada kerut di wajahnya. mungkin itu juga karena perawatan wajah intensif yang dilakukannya.aku diam.
" ya sudah kalo ga mo bicara" sambung mba Intan halus. membalik badannya hendak keluar dari pantry.
kemudian aku mulai menangis. cara mba Intan yang halus selalu bisa membuatku terbuka padanya. diantara supervisor yang lain, mba Intan memang terkenal paling sabar. dia seorang janda dengan 1 anak. suaminya yang pilot meninggal karena kecelakaan di rumah tertimpa lemari. sungguh tragis.
mba Intan lalu memelukku. sepertinya dia dengar saat aku bertengkar dengan Pak Dirman dan mengikutiku ke pantry. dia tahu aku pasti akan menangis di pantry, aku memang cengeng tapi masih punya harga diri untuk tidak menangis di khalayak umum. dia membelai rambutku perlahan.
" shh...shh...udah jangan nangis. setiap permasalahan pasti ada pemecahannya "
" yang ini udah ga ada mba.." di sela sela isakku aku bercerita. tentang persahabatanku yang mulai kandas.
" Nana lebih rela kehilangan cowok dari pada kehilangan sahabat mba..." dulu aku pun pernah menangis di depan mba Intan saat putus dari Dito. hubungan yang sudah berjalan 3 tahun berakhir karena Dito beselingkuh dengan Tika, yang katanya rekan sekerjanya.
" Na, seorang sahabat dilihat dari hati. bukan dari intensitas bertemu, jalan jalan atau bertelepon. jika hati sudah menyatu antar sahabat, biar lama tidak bertemu kalian akan tetap satu. tetap akan ada pengertian di antara kalian" mba intan menghela nafas " sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa mengerti Na.." mba Intan memandangku, menghapus air mata yang berleleran di pipiku dengan jarinya. jari jari itu halus dan menentramkan.
" tersenyumlah, sapa lah sahabatmu, dan selesaikan masalah kalian. jangan pernah masalah kecil menjadi kerikil.sahabat sejati adalah harta yang berharga. jangan pernah dilepaskan " dengan bijak Mba Intan berkata.

------------------------------------------
aku merasa lelah. ber-dance semalaman suntuk membuat tunkai kakiku tak lagi sanggup menahan berat badanku. aku mulai melangkahkan kaki ke menuju bar table.
" Na, ayo lah..kita dance lagi " tarik Susan ke arah dance floor. Bianca masih meliuk liuk di tengah alunan musik. musik salsa dengan beatnya yang cepat, mulai membuatku pusing. aku padahal tadi cuma minum 2 gelas ilussion. harusnya aku tidak mabuk.
" gak, deh San..gue cape banget " aku mencoba melepaskan gengaman tangan Susan.
" alah, lo gak keren bener si, baru bentar aja dah KO " sambil terus menarik tubuhku
" Na, lo coba minum ini deh, lo pasti demen " dengan tiba tiba Tyo memelukku dari belakang, membawa segelas minuman yang berwarna kuning. baunya membuatku mual.
" gak deh Yo " aku  berusaha melepaskan pelukan Tyo.
" lo, coba lah..lo pasti demen " Tyo masih memelukku, pelukkannya bahkan mulai menjadi erat. nafasnya memburu kurasakan di tengkukku, rambutku hari ini ku ikat ke atas, ku jepit dengan sumpit yang berukir naga.
" Yo, lo nganggu aja, gue mo ngedance lagi ma Nana, lo mingir sana.." usir Susan. Susan menarik tubuhku, aku merasa pusing. pusing dan gelap. lalu aku tidak ingat apa apa lagi.

------------------------------------------
aku bangun dengan kepala pening. silau sinar matahari membuatku bertambah pusing. aku mengerjapkan mataku berusaha mengenali tempat aku berada. semuanya berwarna hijau. ada selang di pergelangan kananku. infus. aku di rumah sakit. aku berusaha menegakkan badanku. tapi rasanya seluruh tubuhku menjadi jelly.
" jangan bangun dulu Mba" suara disampingku mengangetkanku. seorang suster berjilbab. dia kemudian mengecek infusku. dia membenarkan letak selimutku.
" di..maa..na ..." suaraku masih parau untuk berkata
" di puri medika " suster itu menjawab, ada papan namanya dadanya. tapi aku tak bisa membacanya.
" semalam teman mba mengantarkan kemari "
" dehidrasi dan kelelahan " seakan bisa membaca pikiranku, suster itu berkata.
" sekarang mba nya istirahat saja, nanti dokter akan kemari untuk check lebih lanjut "
" nanti kalau butuh apa apa, mba nya bisa menekan tombol disamping kanan mba " suster itu ramah menunjukan tombol yang dimaksud.dan suster itu berlalu, di pintu suster itu bertemu dengan rekannya.mereka tampak bercakap cakap, dan suster berjilbab tadi menunjuk ke arah tempat tidurku. ada 4 tempat tidur lain dikamar itu.

" siang mba " sapa suster baru itu
" sudah agak enakan ? " senyum ramah suster itu terasa sangat menyejukan.
aku hanya tersenyum lemah.
" maaf mba, ada beberapa informasi yang harus saya tanyakan sehubungan dengan administrasi rumah sakit. apa mba cukup kuat untuk menjawabnya ?" suster tadi lanjut berkata
" saya..huk..huk..dah enakan kog.." aku berusaha menegakan badanku. suster ini menahan tubuhku. kemudian dia mengerakan tuas didepan tempat tidurku supaya bagian atas tempat tidur itu bisa meninggi. aku mulai merasa nyaman.
" semalam teman mba mengantarkan mba tanpa mengisi form rumah sakit, jadi kami agak kesulitan untuk mengetahui identitas mba" aku kaget saat mendengar kata kata suster ini. dari papan namanya, dia bermana Sekar. aku berusaha mengingat kejadian semalam. aku ingat semalam aku berdansa semalaman. kecapean dan sepertinya pingsan di club. harusnya Susan, Tyo dan Bianca yang mengantarkan aku pulang. kemana mereka ? masa mereka tega meninggalkanku sendiri di rumah sakit?

" maaf , mba. mba bisa memberikan data keluarga yang bisa dihubungi ? " 
aku diam. kepalaku langsung bertambah pusing, binggung harus menjawab apa. memberitahukan keadaanku kepada Ibu hanya akan membuat sakit jantung beliau kambuh. sedangkan ayahku sudah tidak ada semenjak aku smu. kakak lelaki satu satunya pun tak akan sempat datang kemari, dia sudah sangat sibuk mengurus usaha, keluarganya dan tentunya Ibuku. aku lalu teringat Vina dan Angel. semenjak kejadian Blitz, aku tak pernah menghubungi mereka. nasehat dari Mba Intan tidak ku gubris. aku bahkan mulai mengindari Mba Intan. aku merasa mba Intan membela Vina dan Angel. malah aku dekat dengan Susan dan Bianca. mereka kukenal di celebrity fitness. dengan mereka aku mulai menjelajahi jakarta di waktu malam, setiap club kami kunjungi. aku bahkan tidak tau nama club yang semalam ku kunjungi. terlalu banyak. dulu saat bersama Vina dan Angel, paling banter aku hanya ke cafe. mencicip makanan dan nonton bioskop. menonton adalah hobi kami bertiga. aku mulai merasa hangat di pelupuk mataku. aku mulai menangis. Sekar tampak kaget, dia buru buru mengambilkan tissue di samping tempat tidurku.
" maaf, mba. kalau mba belum siap, nanti saja menjawabnya. saya akan kemari kalau mba sudah enakan " senyum Sekar malah membuatku tangisku tambah keras. sikapnya mengingkatkanku pada mba Intan.tangisku mulai menjadi perhatian di antara teman teman sekamarku. Sekar pun beranjak pergi.

------------------------------------------
aku merasa menjadi orang paling menderita. disaat kesusahan tak ada saudara ataupun sahabat yang menemani. aku mulai menyesal kenapa dulu aku menjauh dari Vina dan Angel. Vina dan Angel berkali kali menelponku. mereka bahkan pernah 2 kali datang ke kos. tapi aku bahkan tak mau menemuinya. martabak terang bulan kesukaanku yang mereka bawakan bahkan tak mau kusentuh. mengingat itu, aku merasa sangat bersalah. seandainya dulu aku masih bersahabat dengan mereka, aku mungkin tak akan masuk rumah sakit tanpa ditemani. aku perlu menjebol tabunganku untuk memenuhi standard hidup bersama Susan dan Bianca. kinerja di kantor juga menurun gara gara aku sering pergi pulang malam hingga tak bisa berkonsentrasi di pekerjaan. tangisku membuncah, semakin aku mengingat kebodohanku, aku merasa semakin menderita. aku kangen pada Angel yang begitu blak blakan dan Vina yang begitu sabar

hingga tiba tiba, pintu kamar itu tebuka cepat. Angel menghambur masuk, dibalik jaketnya aku bisa melihat dia hanya mengunakan piamanya. Vina mengikuti dibelakang, wajahnya pucat. suster  berjilbab itu juga ada, panik berkata " mba harap tenang..mba... tenang mba..."
" Naa..." Angel langsung memelukku, tangisnya pecah. jemari Vina yang lembut menyentuh jari jariku. matanya sama, berkaca kaca. " gue langsung kesini begitu denger lo di rumah sakit. lo kenapa si bego banget clubing clubing githu " dengan emosi Angel berkata.
" kog..kog..kalian tau...?" di isak tangisku aku tak mengerti bagaimana mereka bisa tahu aku berada di rumah sakit.aku mulai memandangin Vina dan Angel.
" tadi gue telpon ke hp, yang angkat suster rumah sakit. bilang lo ada disini. gue langsung jemput Angel dan kesini" Vina menjelaskan, dia memang yang paling tenang dalam menghadapi masalah." syukur, kalo lo ga papa Na.." Vina mengusap air matanya. aku mulai terharu.
" kita takut banget Na...lo ga usah ke club lagi deh..tar kita nonton aja..gue janji gue bakal nonton ma elo tiap minggu.." angel mengangkat tangan kanannya, dan berkata " sumpah pramuka "
" gue juga janji kog Na.." Vina juga mengangkat tangan kanannya. tersenyum " sumpah pramuka "
itu adalah tindakan yang dulu sering kami lakukan jika kami akan berjanji. aku mulai tertawa.kami berpelukan. aku merasa pusing ku hilang sama sekali. aku tahu aku telah menemukan sahabatku kembali.

" friends are like stars, you dont always see them but you know they are always there



Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hati

Lipstick merah

Kukingfun : Cupcake